Angka Kematian COVID Tembus 6 Juta Orang, Jumlah Sebenarnya Bisa 4 Kali Lipat Lebih Tinggi

ABC Australia - detikNews
Selasa, 08 Mar 2022 14:35 WIB
Baru sekitar 7 persen warga di negara lebih miskin mendapat vaksinasi sementara di negara kaya angkanya 73 persen. (AP:Hussein Malla)
Jakarta -

Angka kematian global karena COVID-19 sudah melewati angka enam juta, namun para pakar mengatakan angka sebenarnya mungkin bisa empat kali lebih tinggi.

Demikian data yang dikeluarkan oleh John Hopkins University di Amerika Serikat dengan kondisi pandemi sudah memasuki tahun ketiga.

Angka kematian lima juta terjadi di bulan Oktober2021 setelah adanya gelombang penularan varian Delta, dan sekarang angka enam juta terjadi dengan munculnya varian Omicron.

Namun dibandingkan tahun lalu, dunia tampaknya perlahan mulai mendekati kehidupan normal, dengan perjalanan wisata sudah kembali berlangsung, dan bisnis mulai bangkit.

Tetapi angka kematian yang mencapai enam juta menunjukkan bahwa pandemi ini belum akan selesai dalam waktu dekat.

Lebih dari 5.500 orang di Australia meninggal karena virus corona, dengan 2.200 di antaranya terjadi setelah varian Omicron mulai menelan korban pertama di bulan Desember lalu.

Di kawasan Pasifik yang terpencil seperti Tonga, yang terlindungi selama dua tahun terakhir karena lokasinya, sekarang sedang berhadapan dengan naiknya jumlah kasus dan kematian, karena penyebaran varian Omicron yang begitu cepat.

Hong Kong yang juga mengalami tingkat kematian yang tinggi berencana melakukan tes massal terhadap seluruh 7,5 juta warga mereka bulan ini, dalam usaha mengikuti kebijakan China daratan untuk memberantas kasus COVID sampai ke titik nol.

Tingkat kematian masih tinggi di Polandia, Hongaria, Rumania, dan negara-negara Eropa Timur lainnya. Namun kawasan tersebut harus menampung lebih dari 1,5 juta warga Ukraina yang sejauh ini mengungsi dari Ukraina yang sedang menghadapi invasi Rusia.

Di Ukraina sendiri sebelumnya tingkat vaksinasi juga masih rendah dan tingkat kasus dan kematian karena COVID yang tinggi.

Dan meski negaranya kaya dan vaksin tersedia,jumlah warga Amerika Serikat yang meninggal saat ini mendekati angka satu juta.

Tingkat kematian tinggi di kalangan yang tidak divaksinasi

Tingkat kematian tertinggi masih ditemukan pada mereka yang belum divaksinasi sama sekali, kata Tikki Pang, profesor di National University of Singapore yang juga adalah salah satu ketua Koalisi Imunisasi Asia Pasifik.

"Ini adalah penyakit bagi mereka yang belum divaksin. Coba lihat apa yang terjadi di Hong Kong saat ini, sistem layanan kesehatan mereka kewalahan," kata Dr Pang yang sebelumnya pernah menjadi direktur kebijakan penelitian dan kerja sama di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Mayoritas kematian dan gejala paling parah adalah di kalangan mereka yang belum divaksinasi, bagian paling rentan.

Diperlukan waktu tujuh bulan untuk mencapai [rekor] satujuta kematian pertama sejak pandemi dimulai di awal tahun 2020.

Empat bulan kemudian kematian menjadi dua juta, dan satu juta orang lagi kemudian meninggal selama tiga bulan dan tingkat kematian mencapai lima juta di akhir bulan Oktober.

Kini angkanya mencapai enam juta, tetapi para pakar mengatakan angka sebenarnya bisa empat kali lebih tinggi.

Sistem administrasi yang buruk dan juga pengetesan COVID yang tidak merata di berbagai belahan dunia membuat pengumpulan data mengenai COVID sulit dilakukan dengan akurat.

Ditambah lagi adanya kematian karena pandemi, namun bukan karena infeksi COVID-19, seperti mereka yang meninggal karena sebab lain yang masih bisa diselamatkan namun tidak mendapatkan perawatan karena rumah sakit penuh.

Edouard Mathieu, kepala pengumpulan data di Our World in Data, mengatakan bila tingkat kematian di berbagai negara bisa dipelajari lagi, besar kemungkinan jumlah kematian karena COVID bisa sekitar empat kali lipat dibandingkan data resmi.

"Kematian yang diketahui hanya sebagian saja dari kematian karena COVID karena kebanyakan adanya keterbatasan testing dan kesulitan menentukan sebab kematian," kata Edouard.

"Di beberapa negara, kebanyakan negara kaya, angka resmi sudah mendekati kebenaran, namun di negara lain, jumlah itu hanya perkiraan saja."

Menurut laporan WHO minggu ini,kasus COVID sudah melebihi 445 juta dan kasus baru secara mingguan menurun di berbagai kawasan, kecuali di Pasifik Barat termasuk negara-negara seperti China, Jepang, dan Korea Selatan.

Tingkat kesenjangan vaksinasi masih tinggi, dengan hanya 6,95 persen warga di negara-negara miskin sudah mendapatkan vaksin, sementara di negara kaya angkanya adalah 73 persen, menurut Our World in Data.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News

(ita/ita)