Warga Asal RI di Australia Ini Masih Bekerja dan Nikmati Pekerjaan di Atas Usia 60 Tahun

ABC Australia - detikNews
Kamis, 09 Des 2021 14:22 WIB
Angele Setyana baru saja merayakan ulang tahun ke-70 bulan lalu dan masih aktif bekerja. (Supplied)
Canberra -

Tak ada ketentuan kapan warga di Australia bisa berhenti bekerja, meski yang diatur adalah kapan mereka bisa mulai mengakses uang pensiun.

Mulai 1 Juli tahun ini, uang pensiun bisa dimulai diambil saat usia 66 tahun dan 6 bulan, asalkan mereka lahir antara 1 Juli 1955 hingga 31 Desember 1956.

Sementara mereka yang lahir setelah 1 Januari 1957, mereka harus menunggu hingga berusia 67 tahun untuk mendapat uang pensiun, menurut situs Departemen Layanan Sosial Australia.

Dengan tak ada ketentuan usia untuk berhenti kerja, warga Australia bisa terus melakukannya, asalkan mereka masih mampu dan ingin melakukannya. Bahkan ada banyak di antara mereka yang malah menemukan karir kedua.

Seperti Angele Setyana, yang tinggal di Melbourne dan baru saja merayakan ulang tahun ke-70 bulan November lalu. Hingga sekarang ia masih bekerja di bagian "quality control" di Australia Post.

"Di tempat kerja saya ini saya sudah bekerja selama 13 tahun dan sebelumnya dalam jenis pekerjaan yang hampir sama di sebuah perusahaan percetakan saya bekerja selama 10 tahun," kata Angele kepada wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya.

"Pekerjaan saya banyak berhubungan dengan produksi barang-barang pos seperti perangko, koin jadi saya bekerja di bagian untuk mengawasi produksi barang-barang tersebut mengecek apakah ada kesalahan atau tidak dalam produksi dan juga pengiriman," katanya.

Angele yang memiliki empat orang anak dan dua cucu mengaku masih menikmati pekerjaannya dan belum memutuskan kapan akan betul-betul berhenti bekerja.

"Sampai saat ini masih senang kerja, ya dinikmati dulu. Di tempat saya bekerja ada teman yang sudah berusia 73 tahun," ujarnya yang pertama kali tiba di Australia pada tahun 1983.

"Mungkin dua tahun lagi saya akan memutuskan apakah akan berhenti. Asal badan sehat dan suasana kerja juga cukup menyenangkan, teman bisa diajak bekerja sama," katanya lagi.

Ketika tiba di Australia mengikuti suaminya Oska Setyana yang bekerja di Radio Australia, Angele meninggalkan kariernya di Indonesia sebagai guru sekolah taman kanak-kanak.

"Di Australia pada awalnya saya hanya menjadi ibu rumah tangga karena anak-anak masih kecil," kata Angele, yang baru mulai bekerja lagi di Australia setelah berusia 45 tahun.

Walau masih bekerja 'full time' di usianya saat ini, Angele mengaku keluarga masih menjadi perhatian utamanya.

"Keluarga masih nomor satu, kalau keluarga membutuhkan saya, saya selalu berusaha melakukan."

"Beruntung bos di kantor saya cukup mengerti dan selalu memberikan izin bila ada keperluan untuk keluarga," katanya.

Salah satu kesibukan Angele di luar pekerjaannya adalah membantu menjaga dua orang cucunya.

"Setiap dua minggu sekali saya punya satu hari libur tambahan hari Senin, tugas saya adalah menjaga cucu hari itu," katanya.

Mencari keseimbangan baru

Freenyan Liwang yang lahir di Makassar saat ini berusia 60 tahun lebih dan tinggal di Sydney. Ia sempat pensiun dari pekerjaannya sebagai salah seorang direktur di sebuah bank swasta di Indonesia.

"Saya pensiun dari bank tersebut di tahun 2017 di usia 56 tahun, saya sebenarnya masih ditawari untuk menjadi komisaris namun saya memutuskan untuk berhenti sepenuhnya," katanya kepada ABC Indonesia.

Ia kemudian menetap di Sydney karena istrinya dan kedua anak perempuannya sudah tinggal lebih lama di Sydney, tapi Freenyan tidak ingin tanpa melakukan kegiatan sama sekali.

"Saya memiliki beberapa usaha di antaranya berkenaan dengan perusahaan pembuatan pakaian, juga ada kerja sama untuk mengekspor ikan salmon dan tuna dari Australia ke Indonesia untuk kemudian diproses kembali dan juga bisnis pembayaran digital," ujarnya yang juga pernah bekerja di China selama belasan tahun.

"Semua yang saya lakukan sekarang setelah pensiun memang masih ada hubungan dengan apa yang pernah saya sebelumnya di bidang perbankan, perdagangan internasional, dan produksi pakaian, semua yang pernah saya lakukan selama 30 tahun sebelumnya," katanya lagi.

Tapi sekarang Freenyan mengatakan ia memilih lebih mengutamakan keseimbangan hidup di tengah kesibukannya.

Selain bekerja dalam beberapa proyek bisnisnya, Freenyan secara teratur sering melakukan kegiatan bersepeda dan berjalan kaki ke hutan-hutan di sekitar Sydney.

"Bisnis yang saya lakukan adalah untuk mencari kegiatan supaya tetap sibuk, supaya otak kita tetap jalan, agar otak tidak jadi bodoh," katanya.

"Namun kesibukan itu juga jangan membuat kita stres. Kita harus menemukan keseimbangan hidup antara bekerja dan juga menikmati hidup," katanya.

Freenyan mengaku ia lebih menikmati apa yang dilakukannya di Australia, sangat berbeda dengan yang pernah ia rasakan saat tinggal di Jakarta, meski lebih banyak fasilitas.

"Di Indonesia kita bisa hidup seperti raja, sopir ada, di rumah ada pembantu, pada dasarnya kita tinggal makan saja."

"Juga kalau ada proyek ada begitu banyak orang yang terlibat."

"Di Australia, walau saya seorang direktur apa-apa harus saya kerjakan sendiri, harus masak sendiri."

"Namun saya suka melakukannya, saya tidak mengeluh. Kalau pergi ke hutan, kita bisa menikmati suara burung, menikmati alam ke daerah yang tidak jauh dari kota." katanya lagi.

'Saya merasa berguna'

Tahun lalu, Widianti Oh berhenti dari pekerjaan 'full time'-nya sebagai tenaga pendidik anak-anak balita di sebuah pusat penitipan dan perawatan anak-anak atau 'childcare' di Melbourne.

Tapi saat ini masih bekerja dengan status 'casual', sekitar 2 atau 3 hari seminggu tergantung permintaan dan kebutuhan dari tempat kerjanya.

Widianti yang lahir di Jakarta 67 tahun lalu mengatakan masih membuka diri untuk terus aktif selama beberapa tahun lagi.

"Kartu [izin] untuk bekerja dengan anak-anak berakhir bulan Mei tahun 2023, jadi nanti saya lihat apakah saya masih mau bekerja. Kalau iya, saya bisa perpanjang [kartu izin] lima tahun lagi," kata Wi, panggilan akrabnya.

Tiba di Australia lewat Singapura di tahun 1970 untuk belajar dan mendapatkan diploma bisnis, Widianti pada awalnya tidaklah pernah bekerja di bidang bisnis.

"Setelah berkeluarga, saya tidak bisa memilih antara kerja dan keluarga. Pada awalnya saya mengasuh tiga anak sendiri dan juga anak-anak saudara lain," ujarnya, mengenai perkenalannya dengan tempat penitipan anak.

Setelah pernah tinggal di Adelaide dan Shanghai, China, ia mengikuti suaminya yang bekerja di Melbourne pada tahun 1999.

Ia pernah juga menjadi relawan, sebagai pengemudi untuk warga lanjut usia membantu mereka pergi belanja, ke dokter, atau kebutuhan lainnya.

"Saya tidak pernah mencari pekerjaan di childcare, kebetulan di tempat childcare ada teman yang menawarkan saya untuk bekerja," katanya lagi.

Pada awalnya siapa saja boleh bekerja dengan anak-anak,namun peraturan kemudian diubah dengan syarat pekerja 'child care' harus memiliki Sertifikat III di bidang pengasuhan anak-anak,yang bisa didapatkan dalam waktu antara 6 bulan sampai 1 tahun di sekolah kejuruan.

Di tahun 2019, saat itu usianya 56 tahun, Widianti belajar lagi untuk mendapatkan Sertifikat IV dan bekerja penuh waktu sampai memutuskan berhenti di akhir tahun 2020.

"Alasan saya untuk pensiun adalah karena anak saya dan keluarganya pindah kembali ke Melbourne dari Shanghai, jadi saya ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan mereka."

"Namun saya masih sehat dan pergi kerja di tempat yang saya sukai juga memang menyenangkan," kata Wi, yang sudah hidup dengan diabetes selama 30 tahun.

"Saya bekerja karena membuat saya merasa berguna. Mungkin dua tahun lagi kalau saya merasa berbeda, saya akan berhenti."

Kerja di rumah sakit sambil jadi penyanyi

Ani Rajakgukguk, usia 65 tahun, masih aktif bekerja penuh waktu di bagian administrasi untuk sebuah klinik yang menangani penyakit pernapasan di rumah sakit Prince of Wales di Sydney.

Tiba di Australia di tahun 1980, Ani lulusan seni musik dari Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta, pernah mengajar musik selama beberapa tahun di awal kariernya di Australia, termasuk aktif dalam kegiatan seni bersama komunitas Indonesia.

"Waktu itu anak-anak masih kecil jadi saya baru mulai kerja di tahun 1989 awalnya masih paruh waktu, baru di tahun 2000 bekerja penuh waktu di rumah sakit," kata Ani kepada ABC Indonesia.

Karena tidak adanya keharusan untuk pensiun di usia tertentu di Australia, Ani mengatakan sampai sekarang belum memikirkan untuk berhenti bekerja di rumah sakit.

Ia juga mengatakan sumber pendapatannya juga membantu kegiatannya bermusik baik secara profesional atau bersama komunitas Indonesia.

Ani pernah menjadi penyanyi profesional yang rutin manggung di berbagai klub di Sydney selama delapan tahun.

"Sebagai seniman menyanyi di klub atau diundang untuk tampil di acara, kepuasannya lebih besar."

"Saya kan memiliki latar belakang musik dari Indonesia, saya bisa main keyboard."

"Namun dalam waktu bersamaan, kerja di rumah sakit kan permanen, jadi sayang juga kalau ditinggalkan," katanya.

(nvc/nvc)