Lebih dari 90 Persen Warga Australia Barat Dukung Kebijakan Pandemi Pemerintah Negara Bagian

ABC Australia - detikNews
Rabu, 01 Des 2021 19:19 WIB
Kebijakan lockdown mendapat dukungan luas dari masyarakat di Australia selama pandemi (AP:Mark Baker)
Jakarta -

Mayoritas responden di Australia Barat dan di Australia Selatan menyukai kebijakan penanganan pandemi COVID-19 dari pemerintah kedua negara bagian tersebut.

Salah satu di antaranya adalah warga Indonesia, Christina Odorus, yang terbang ke ibu kota Australia Barat, Perth dari Jakarta di masa awal pandemi.

Bersama suami dan anak perempuannya, ia berencana untuk liburan sambil mengunjungi sanak saudara.

Namun hampir dua tahun kemudian, mereka masih berada di Australia Barat.

"Saya benar-benar senang dengan bagaimana pemerintah Australia Barat menangani pandemi," kata Christina yang kemudian memutuskan untuk menetap di Australia karena pandemi.

Meski ada sikap pro dan kontra mengenai kebijakan pemerintah di Perth dibandingkan dengan negara bagian lain, Christina mengatakan mereka "hidup normal dan bebas dari COVID."

Pandangan serupa dimiliki lebih dari 90 persen warga Australia Barat, menurut Survei Pemetaan Kohesi Sosial yang dilakukan secara nasional.

Sejak tahun 2007, survei tahunan tersebut diadakan untuk mengetahui pandangan warga Australia tentang berbagai isu, mulai dari rasa percaya terhadap warga lain dan pemerintah di Australia, hingga persepsi mengenai rasisme, imigrasi, warga aborigin dan kehidupan multibudaya.

Pertanyaan soal COVID-19 mencerminkan bagaimana 94 persen responden di Australia Barat memiliki pandangan positif mengenai apa yang dilakukan pemerintah negara bagian di sana.

Christina mengatakan meski merasa rindu karena terpisah dari keluarganya, ibunya di Indonesia senang mendengar bahwa pemerintah Australia Barat membuat keputusan "untuk melindungi warga".

Ia sendiri juga senang melihat anaknya yang berusia empat tahun bisa "menikmati kehidupan normal"dan mengikuti pembelajaran tatap muka.

Di Australia Selatan, sebanyak 88 persen warga mengatakan "sangat puas" atau "cukup puas" dengan kebijakan penanganan COVID-19 di sana.

Anna Cheung adalah presiden Tong De Association,sebuah kelompok komunitas China di Adelaide memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan selama pandemi.

"Pemerintah negara bagian sudah melakukan banyak usaha luar biasa dalam mengatasi COVID," katanya kepada ABC.

Menurutnya, Australia Selatan sudah melakukan "aksi yang sangat responsif" sehingga jumlah kasusnya bisa sangat sedikit.

Anne juga menambahkan itulah salah satu alasan Adelaide masuk dalam kategori salah satu kota paling layak huni di dunia.

'Kohesi sosial yang kuat di Australia adalah aset nasional'

Sementara itu untuk skala nasional, 52 persen responden mengatakan bahwa pemerintah federal di Canberra sudah menangani pandemi dengan baik.

Persentase ini menurun dari angka 85 persen di bulan Juli dan November 2020.

Pandangan positif terhadap pemerintah Queensland juga menurun dari 92 persen di bulan Juli 2020 menjadi 76 persen.

Angka kepuasan untuk pemerintah New South Wales sementara itu menurun dari 81 persen tahun lalu menjadi 59 persen.

Untuk pemerintah negara bagian Victoria di Melbourne, angka kepuasan adalah 71 persen.

"Selama delapan bulan pertama krisis COVID-19, Australia mengalami peningkatan kohesi sosial, di mana warga menghadapi ancaman bersama dengan saling mendukung," kata Anthea Hancocks, kepala Scanlon Foundation, yang membiayai survei tersebut.

Menurut temuan survei, kecenderungan ini terus berlanjut di tahun 2021.

Sekitar 71 persen warga merasa optimistis mengenai masa depan Australia di tahun 2021 dibandingkan tahun sebelumnya, dan mereka yang percaya bahwa "hampir semua orang bisa dipercayai" meningkat secara signifikan dari tahun 2020.

"Dengan lancarnya program vaksinasi, kita bahkan mungkin akan bisa menggunakan tablet [untuk menyembuhkan COVID]... kita semua merasa lebih tenang, lebih aman," kata Anne Cheung.

Penulis laporan Andrew Markus mengatakan bahwa tingginya angka vaksinasi di Australia dibandingkan di negara-negara Eropa dan Amerika Utara sudah menunjukkan tingginya tingkat kekompakan sesama warga di sini.

"Tingginya rasa kompak warga Australia adalah aset nasional dan itulah salah satu sebabnya kita adalah salah satu negara paling multi budaya di dunia," kata Menteri Imigrasi Australia Alex Hawke dalam pernyataannya.

"Meski banyak di antara kita mengalami tahun yang sulit, kita tetap kompak, dengan nilai dan rasa percaya yang ada di antara tetangga kita dan komunitas lokal meningkat."

Kesadaran akan rasisme di Australia meningkat

Di survei tahun 2021, 60 persen responden mengatakan rasisme menjadi salah satu masalah di Australia.

Ini menunjukkan peningkatan dari angka 40 persen di tahun 2020 di mana responden mengatakan rasisme adalah masalah besar di sini.

"Peningkatan kesadaran masyarakat mengenai rasisme penting sekali untuk berusaha menghilangkannya," kata Menteri Imigrasi Alex Hawke.

"Perilaku terhadap komunitas tertentu semakin positif, dengan tidak adanya penambahan tindakan rasis dan kebencian terhadap etnis di kalangan responden."

Mary Patetsos Presiden Dewan Federasi Komunitas Etnis Australia mengatakan data survei menunjukkan kekuatan dan sekaligus kelemahan budaya multi budaya Australia dan keperluanadanya "strategi anti rasisme yang mendapatkan pendanaan secara nasional".

"Insiden rasial yang masih terjadi dan rasisme yang sistemik merupakan ancaman terhadap keberhasilan kehidupan multi budaya yang sudah ada," katanya.

Di tahun 2021, 76 persen responden menyetujui bahwa "menerima imigran dari banyak negara berbeda membuat Australia lebih kuat", dan angka ini meningkat dari tahun sebelumnya.

Sebanyak 86 persen warga mengatakan bahwa "kehidupan multi budaya merupakan hal yang baik bagi Australia".

"Pengakuan bahwa rasisme masih menjadi masalah serius di negeri ini bukanlah hal yang tidak diperkirakan," kata Professor Markus .

"Perdana Menteri sudah berulang kali mengatakan"'kita adalah negara multi budaya paling berhasil di dunia, dan pandangan itu sering dicemoohkan sebagai slogan politik".

"Tetapi sebenarnya pernyataan itu banyak benarnya," kata Markus.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dariABC News

(ita/ita)