WHO Peringatkan Risiko Varian Omicron Akan Membuat Penularan COVID-19 Bertambah

ABC Australia - detikNews
Selasa, 30 Nov 2021 10:28 WIB
President Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa meminta negara-negara membatalkan keputusan melarang kedatangan warga yang terbang dari sejumlah negara Afrika. (AP Photo: Themba Hadebe)
Jakarta -

Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, menyerukan kepada negara-negara untuk segera membatalkan larangan bepergian setelah ditemukannya varian baru Omicron.

Puluhan negara telah memasukan Afrika Selatan dan sejumlah negara tetangganya dalam daftar 'blacklist', setelah para ilmuwan di Afrika Selatan pertama kali mendeteksi adanya varian baru virus corona.

Mereka yang terbang atau pernah mengunjungi dari sejumlah negara Afrika, seperti Afrika Selatan, Namibia, Zimbabwe, Botswana, Lesotho, Eswatini, Malawi atau Mozambique, dan bukan berstatus warga negara atau penduduk tetap di sejumlah negara, telah dilarang masuk.

"Kami menyerukan kepada semua negara yang telah memberlakukan larangan perjalanan asal negara kami dan negara-negara saudara kami di Afrika selatan untuk segera membatalkan keputusan mereka sebelum kerusakan lebih lanjut terjadi pada ekonomi kami dan mata pencaharian rakyat kami," kata Presiden Ramaphosa.

Sementara itu Presiden Malawi Lazarus Chakwera menuduh negara-negara Barat telah menunjukkan "Afrofobia" atau ketakutan terhadap bangsa Afrika karena menutup perbatasan mereka.

Negara lain yang juga melakukan pembatasan perjalanan dari penerbangan asal negara-negara di Afrika diantaranya adalah Indonesia, Australia, Qatar, Amerika Serikat, Inggris, Arab Saudi, Kuwait, dan Belanda.

Risiko bagi negara dengan vaksinasi rendah

Senin kemarin (29/11), WHO sudah mendesak ke-194 negara anggotanya mempercepat vaksinasi bagi kelompok yang rentan karena kemungkinan varian Ormicon akan menyebar luas.

"Omicron memiliki jumlah mutasi yang tidak biasanya, beberapa mutasi itu akan berdampak pada kemungkinan meningkatnya wabah," kata WHO.

"Risiko global terkait varian baru ini dinilai sebagai sangat tinggi."

Sejauh ini menurut WHO belum ada yang meninggal karena varian Omicron, namun penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui kemungkinan varian baru ini tidak akan kebal dengan vaksinasi yang sudah ada, atau juga anti-bodi bagi mereka yang pernah tertular virus corona.

"Dampaknya terhadap populasi yang rentan sangat besar khususnya bagi negara yang tingkat vaksinasinya masih rendah."

"Kasus COVID-19 dan infeksi bisa juga terjadi pada mereka yang sudah divaksinasi meski jumlahnya akan kecil."

Sejumlah negara kembali menutup perbatasan

Dengan laporan jumlah penularan varian Omicron yang bertambah di berbagai negara, Jepang mengumumkan akan melarang semua warga asing masuk ke negaranya.

Belum dilaporkan adanya kasus Omicron di Jepang dan negara tersebut baru saja membuka perbatasan internasional. Namun sekarang pemegang visa bisnis jangka pendek, mahasiswa asing dan pekerja asing dilarang masuk.

"Kami mengambil langkah darurat guna mencegah kemungkinan terburuk di Jepang," kata Perdana Menteri Fumio Kishida mengenai larangan yang mulai diberlakukan hari Selasa.

Jepang selama ini belum membuka perbatasan internasional untuk turis asing dari mana pun.

PM Kishida juga mendesak warga untuk menggunakan masker dan terus mengikuti protokol kesehatan sampai rincian mengenai varian Omicron ini diketahui.

Israel juga sudah melarang masuknya warga asing dan Maroko mengatakan akan menghentikan penerbangan internasional selama dua minggu.

Belum ada data Omicron lebih ganas

Meski muncul kekhawatiran akan varian Omicron di dunia, para ilmuwan mengatakan masih belum jelas apakah memang benar Omicron lebih berbahaya dengan varian virus corona lainnya.

Dr Francis Collins, direktur Institut Kesehatan Nasional di Amerika Serikat mengatakan belum ada data yang menunjukkan varian Omicron ini menyebabkan gejala lebih serius dibandingkan varian sebelumnya.

"Menurut saya memang lebih cepat menular melihat betapa cepatnya virus ini menular di berbagai distrik di Afrika Selatan. Memang memiliki pertanda cepat menyebar dari orang ke orang lainnya," katanya.

Dr Collins mendukung pendapat para pakar kesehatan lainnya yang mengatakan dengan munculnya varian Omicron, warga harus tetap melakukan apa yang sudah dilakukan sebelumnya, yaitu vaksinasi, suntikan 'booster' dan penggunaan masker.

Menurut pakar masalah penyakit menular Amerika Serikat Dr Anthony Fauci diperlukan waktu dua pekan untuk memiliki data lebih pasti keseluruhan mengenai varian Omicron.

Salah satu perbatasan darat paling sibuk sekarang dibuka

Sementara itu warga Malaysia yang bekerja di Singapura bisa kembali bertemu dengan sanak keluarga mereka setelah dibukanya kembali perbatasan antar kedua negara yang sebelumnya ditutup hampir selama dua tahun.

Singapura dan Malaysia dihubungkan dengan jembatan yang disebut 'Causeway Bridge' di dekat negara bagian Johor Bahru, salah satu jalan tersibuk di dunia.

Warga yang sudah menjalani vaksin penuh menaiki bus terlihat melintasi perbatasan. Mereka menjalani tes sebelum menaiki bus dan juga setelah tiba di Malaysia.

AP/ABC

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News

(ita/ita)