Mahasiswa Internasional Akan Kembali Masuk ke Queensland Awal Tahun 2022

ABC Australia - detikNews
Rabu, 27 Okt 2021 13:45 WIB
Mahasiswa internasional rombongan pertama yang akan masuk ke Queensland adalah mereka yang belajar di bidang kesehatan dan medis. (Source: Unsplash)
Jakarta -

Mahasiswa internasional akan diizinkan kembali ke negara bagian Queensland dengan ibu kota Brisbane mulai awal tahun 2022.

Mahasiswa internasional yang datang nantinya harus menjalani karantina selama dua minggu di fasilitas Wellcamp, di luar kawasan Toowoomba.

Pengumuman ini disambut dengan gembira, seperti keluarga Machiach di Papua Nugini.

Mereka berharap putra mereka, Aryan, akan bisa kembali ke Brisbane tahun depan untuk belajar kedokteran.

"Sudah ada harapan, tapi kita masih harus menunggu kenyataannya," kata Nix Machiah, ibu Aryan.

Keluarga Machiach sebelumnya sudah mengajukan permintaan agar Aryan bisa kembali ke Australia.

Tapi permintaan mereka ditolak sebanyak empat kali, sampai mereka sempat mencari cara lain.

"Semoga apa yang kami alami sekeluarga selama 18 bulan terakhir tidak akan terjadi lagi," kata Nix.

Masalah lain yang dihadapi Aryan saat ini adalah terbatasnya akses vaksin untuk kelompok usianya di Papua Nugini.

Dari kalangan universitas, Rektor University of Queensland, Profesor Deborah Terry, mengatakan mereka senang bisa menerima kembali mahasiswa internasional.

"Kami tentu saja memantau dengan dekat minat terhadap studi yang kami tawarkan. Pendidikan tinggi di Australia memiliki reputasi bagus di dunia internasional dan kami tetap melihat minat yang tinggi untuk mendaftar," katanya,

"Jumlah pendaftar sejauh ini tidak berkurang dan saya rasa ini adalah berita baik."

Rektor Queensland University of Technology (QUT), Profesor Margaret Sheil, mengatakan diperbolehkannya kembali mahasiswa internasional sangatlah berarti.

"Banyak dari mahasiswa kembali ke negara masing-masing dan sudah dua tahun tidak bisa kembali ke sini," katanya.

"Mereka tetap menjadi mahasiswa, mereka tetap mengikuti kelas yang kami sediakan, jadi ini menjadi pesan penting bahwa mereka bisa kembali lagi," katanya.

Pengumuman diperbolehkannya kembali mahasiswa internasional ke Queensland disampaikan Menteri Pariwisata Queensland, Stirling Hinchcliffe, di sidang parlemen negara bagian, Selasa kemarin (26/10).

Disebutkan mereka yang bisa kembali ke Australia adalah yang sudah mendapat dua dosis vaksinasi dan mereka yang bekerja di bidang kesehatan atau medis mendapat prioritas.

Para mahasiswa internasional nantinya akan mendarat di Bandara Brisbane, kemudian dibawa dengan bus ke fasilitas karantina Wellcamp.

Kebutuhan memperkerjakan mahasiswa

Angelica Jolly yang memiliki restoran Alchemy di kawasan pusat kota Brisbane menyambut baik pengumuman diperbolehkannya kembali mahasiswa internasional.

Tapi ia mengatakan mahasiswa sebenarnya dibutuhkan sebagai tenaga kerja di sektor layanan dan jasa sebelum Natal.

Angelica mengaku jika bisnisnya mengandalkan sekitar 70 persen tenaga kerjanya kepada mahasiswa internasional.

"Kami selalu mengatakan seseorang dari luar negeri memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar apa yang terjadi di luar sana, ketimbang kita yang pergi ke sana. Jadi kita mendapat pengetahuan dan kedatangan mereka ke Australia," ujarnya.

Sistem karantina mungkin harus diubah

Pengamat masalah pendidikan dari Mitchell Institute, Peter Hurley, mengatakan jumlah mahasiswa internasional sudah turun sekitar 50 persen, yang sebagian besar masih berada di luar negeri.

Professor Margaret Sheil Rektor QUT mengatakan sebelum pandemi COVID-19, sektor pendidikan tinggi di Queensland sebelumnya mengalami pertumbuhan mahasiswa yang besar dan menurutnya ini mungkin tak akan terjadi lagi.

Tapi Peter mengatakan sektor ini mungkin akan pulih kembali, hanya saja Queensland bisa kalah bersaing dengan dua negara bagian lain di Australia, jika masih menerapkan sistem karantina bagi mahasiswa internasional.

"Saya kira Queensland berada dalam posisi yang sama dengan New South Wales dan Victoria, tapi saya tidak yakin NSW dan Victoria akan meminta mahasiswa internasional melakukan karantina selama dua minggu," katanya.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News

(ita/ita)