PM Jacinta Andern Minta Maaf atas Tindakan Rasis Polisi New Zealand Tahun 1970-an

ABC Australia - detikNews
Senin, 02 Agu 2021 16:37 WIB
Jacinda Ardern meminta maaf atas serangan fajar NZ pada orang-orang Kepulauan Pasifik pada 1970-an. (AP:Brett Phibbs/New Zealand Herald)
Jakarta -

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern secara resmi meminta maaf atas tindakan keras polisi pada 1970-an yang "secara tidak adil menargetkan" komunitas Pasifik di negara itu.

"Serangan fajar" itu dilakukan oleh aparat dan petugas imigrasi, yang sering kali membawa anjing, untuk menangkap dan mendeportasi orang-orang yang telah memperpanjang masa berlaku visa kerja mereka.

Sepertiga dari jumlah orang yang tinggal melebihi masa berlaku visa izin tinggal atau 'overstayers' di Selandia Baru adalah orang-orang dari negara Pasifik, tetapi mewakili86 persen dari tuntutan hukum.

Hanya lima persen warga Inggris dan Amerika di Selandia Baru dituntut di muka hukum pada periode yang sama, meskipun jumlahnya sama-sama sepertiga dari 'overstayers'.

"Hari ini, saya berdiri atas nama pemerintah Selandia Baru untuk menawarkan permintaan maaf resmi dan tanpa pamrih kepada komunitas Pasifik atas penerapan diskriminatif undang-undang imigrasi tahun 1970-an," kata Ardern pada pertemuan pejabat Pasifik di Auckland.

"Pemerintah menyatakan kesedihan dan penyesalannya atas terjadinya penggerebekan saat subuh dan pemeriksaan acak polisi, dan bahwa tindakan tersebut pernah dianggap sebagai langkah yang tepat."

Meskipun tindakan ini terjadi hampir 50 tahun yang lalu, Ardern mengatakan hal itu tetap terukir jelas dalam ingatan mereka yang terkena dampak.

Mereka hidup "dengan kepercayaan dan keyakinan pada pihak berwenang yang terganggu".

Jacinda Ardern juga mengambil bagian dalam ritual tradisional Samoa yang dikenal sebagai ifoga, di mana subjek memohon pengampunan dengan mengekspos diri mereka pada semacam penghinaan publik.

Anggota komunitas Pulau Pasifik membentangkan tikar putih besar di atas kepala Ardern yang menutupi seluruh tubuhnya. Beberapa saat kemudian mereka melepaskannya dan memeluknya.

Menteri Masyarakat Pasifik William Sio, yang beremigrasi bersama keluarganya dari Samoa ke Selandia Baru pada 1969, menggambarkan penggerebekan itu sebagai tindakan "rasisme yang paling buruk".

'Meminta maaf keputusan yang tepat'

Wellington telah mendorong migrasi dari pulau-pulau Pasifik seperti Samoa, Tonga dan Fiji setelah Perang Dunia II untuk mengisi kekurangan pekerja seiring dengan ekonomi yang berkembang.

Tetapi mereka yang bermigrasi malah mendapat serangan balik padatahun 1970-an, dengan klaim bahwa mereka mengambil pekerjaan orang-orang Selandia Baru.

Ketika JacindaArdern pertama kali mengumumkan dia akan mengeluarkan permintaan maaf, William Sio berusaha keras menahanair matanya karena mengingat pengalamannya yang mengerikansaat menjadi sasaran.

"Kenangan yang terukir adalah wajahayah saya yang tidak berdaya ... seseorang mengetuk pintu Anda pada dini hari dengan senter di wajah Anda, mereka tidak menghormati pemilik rumah kami," katanya.

"Anjing Alsatian dengan mulut yang berbusa, ingin merangsek masuk tanpa menghormati orang-orang yang tinggal di sana. Itu cukup menimbulkantrauma."

Putri Tonga, Mele Siu'ilikutapu Kalaniuvalu Fotofili mengatakan dampak serangan fajar tersebut telah menghantui komunitasnya hingga beberapa generasi setelahnya.

"Kami berterima kasih kepada pemerintah Anda karena membuat keputusan yang tepat untuk meminta maaf," katanya kepada Jacinda Ardern.

"Untuk memperbaiki perlakuan ekstrem, tidak manusiawi, rasis dan tidak adil, khususnya terhadap komunitas saya, di era serangan fajar."

Mele Siu'ilikutapu mengatakan, walau beberapa anggota komunitas Tongamungkin berada di sisi hukum yang salah pada saat itu, itu tidak membenarkantindakan ekstrem yang diambil terhadap mereka.

Jacinda Ardern mengatakan Selandia Baru berkomitmen untuk menghilangkan rasisme dan dia berharap permintaan maaf telah menjadi "akhirdan penyembuhan yang sangat dibutuhkan bagi komunitas Pasifik kita".

AFP/AP

Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa dari artikel ABC News dalam Bahasa Inggris.

(ita/ita)