Tewas Ditabrak Truk, Mahasiswa Turki Pengantar Makanan di Sydney Tak Diakui Sebagai Pekerja

ABC Australia - detikNews
Jumat, 25 Jun 2021 18:25 WIB
Burak Dogan tewas ditabrak mobil saat sedang bekerja sebagai pengantar makanan Uber Eats pada April 2020 di Sydney. (Supplied: Facebook)
Jakarta -

Aplikasi jasa pengantaran makanan Uber Eats mengirimkan tiga orderan ke Burak Dogan, pada hari Kamis sore di bulan April 2020.

Dia masih hidup untuk mengantarkan orderan pertama.

Mahasiswa asal Turki berusia 30 tahun itu mengendarai sepeda listrik di pusat kota Sydney, Australia.

Namun beberapa menit sebelum mengambil orderan terakhir ia ditabrak truk.

Rentetan kejadian tewasnya pekerja pengantar makanan pada akhir tahun lalu telah mendorong Pemerintah membentuk satuan tugas dan pihak perusahaan berjanji untuk mengambil langkah perbaikan.

Empat kejadian yang sama sudah dialami oleh pekerja pengantar makanan di Sydney.

Persoalan yang dialami para pekerja ini tampaknya lebih buruk daripada yang diperkirakan sebelumnya.

Kejadian yang dialami Burak tidak diberitakan di media sebagaimana kasus lainnya, termasuk yang dialami pekerja pengantar makanan asal Indonesia Dede Fredy.

Meskipun Burak sedang terkoneksi dengan aplikasi Uber Eats, namun perusahaan itu tidak mau mengakui kematiannya sebagai kecelakaan terkait pekerjaannya.

Pihak asuransi perusahaan ini juga menolak klaim asuransi bernilai ratusan ribu dolar yang diajukan pihak keluarga Burak.

Bagaimana kejadiannya?

Laporan polisi yang disampaikan ke ABC News oleh pihak Koroner negara bagian New South Wales (NSW) menyebutkan supir truk dalam kejadian itu sama sekali tidak bersalah.

Saat kejadian Burak mengendarai sepedanya di posisi yang tak terlihat oleh supir truk di jalan Parramatta Road.

Data Uber Eats menunjukkan Burak telah mengambil orderan pertamanya dan sedang menuju ke restoran lain untuk orderan kedua.

Namun dia membatalkannya pada Pukul 12:25 tanpa alasan yang jelas.

Dia ditabrak truk pada Pukul 12:50 di jalur kiri jalan raya.

Saudara Burak, Seda, menjelaskan keluarganya tidak pernah dihubungi oleh pihak Uber Eats sejak kejadian itu.

Seda yang dihubungi ABC melalui sambungan telepon dari Turki mengatakan Burak sangat dekat dengan semua anggota keluarga lainnya.

"Burak orangnya sangat riang. Saya merindukan keriangan itu," ujarnya.

Kematian yang tak dihitung

Pada bulan April tahun ini, general manager Uber Eats untuk Australia, Matt Denman, dipanggil untuk memberikan keterangan di Parlemen NSW tentang kematian pekerja pengantar makanan.

Saat itu Matt mengaku pihak perusahaan turut berduka atas kematian mereka. Dia menyampaikan inisiatif keselamatan yang dilakukan Uber, seperti deteksi helm dan pengaturan jam istirahat.

Anggota Parlemen Daniel Mookhey ingin mengetahui berapa banyak pengendara Uber Eats yang meninggal di NSW pada tahun lalu.

"Ada tiga orang yang meninggal, bukan?" tanyanya.

"Benar," jawab Matt.

Uber Eats telah secara terbuka mengakui kematian tiga orang yang bekerja untuk mereka pada tahun 2020.

Mereka adalah Dede Fredy, Bijoy Paul, dan Ik Wong.

Artinya, kematian Burak tidak diakui oleh pihak Uber Eats.

Kepada ABC, perusahaan ini menyatakan, penjelasan mereka di Parlemen NSW saat itu mengacu pada "kematian di jalan raya yang melibatkan orang yang melakukan pengantaran makanan dengan Uber Eats".

Selisih waktu 10 menit

Burak Dogan bukan hanya tak diakui oleh pihak perusahaan, namun dia juga nyaris kehilangan perlindungan asuransi.

Uber Eats memperlakukan pengendaranya sebagai kontraktor independen, bukan sebagai karyawan.

Artinya mereka tidak mendapatkan akses untuk kompensasi pekerja di NSW.

Perusahaan itu berdalih mereka adalah platform pengiriman makanan pertama yang memperkenalkan asuransi gratis bagi pengendaranya.

Asuransi untuk pekerja seperti Burak mencakup tunjangan kematian sebesar $400.000 (sekitar Rp 4 miliar) yang harus dibayarkan kepada keluarganya, serta biaya pemakaman, jika meninggal di tempat kerja.

Namun, polis asuransi ini hanya berlaku saat pekerja sedang melakukan pengantaran, dan selama 15 menit setelah mereka menyelesaikan pengantaran atau membatalkan orderan.

Pada 2 April 2020, Burak melakukan 'log-in' pada Pukul 12:17 dan tetap dalam status online hingga kematiannya.

Karena membatalkan pesanan terakhirnya pada Pukul 12:25, Burak hanya diasuransikan hingga Pukul 12:40, tapi ditabrak 10 menit kemudian.

Yavuz Cikar, kerabat Burak di Australia, mengatakan sangat kaget karena Uber Eats telah menolak menanggung biaya pemakaman.

"Dengan pikiran sederhana saya, bukan sebagai pengacara atau apapun, yang saya pikir hanyalah orang ini masih bekerja untuk Uber pada saat kematiannya karena mereka mencoba meneleponnya," katanya.

"Saya mengharapkan perlakuan yang adil terhadap orang-orang yang bekerja, karena tanpa mereka ini, tidak ada perusahaan yang bisa mencapai apa pun," ujarnya.

Uber anggap Burak tak sedang bekerja

Uber Eats melaporkan kejadian ini kepada SafeWork NSW, dan menyatakan Burak tidak sedang mengantar makanan atau tidak sedang pulang ke rumah pada saat terjadi kecelakaan.

SafeWork yang dihubungi ABC News menyatakan, kematian Burak tercatat dalam data pemerintah sebagai "Angka kematian kerja terkait dengan kecelakaan lalu-lintas".

Namun SafeWork juga menyebutkan hasil pemeriksaan kasus ini "mencatat ketidakjelasan apakah pengendara tersebut sedang bekerja pada saat kejadian".

Ketua serikat buruh transportasi Australia Michael Kaine mengaku terpukul mendengar kasus Burak.

"Kejadian ini menunjukkan tindakan membabi-buta dan tak berperasaan dari perusahaan yang bersikeras menerapkan model usaha eksploitatif dan meminimalkan biaya," ujar Michael Kaine.

Menurut serikat buruh, pengendara dan pengemudi pengantar makanan harus diakui sebagai karyawan, sehingga berhak atas skema kompensasi pekerja.

Pada bulan April, Menteri Urusan Konsumen NSW, Victor Dominello, mengumumkan rencana peningkatan perlindungan asuransi untuk pekerja di sektor ini.

Selain itu juga juga ada rencana persyaratan keselamatan baru untuk aplikasi pengantar makanan dan barang, ditambah sistem penalti baru dan nomor pelacakan unik bagi pengendara.

Tidak akan menyerah

Setelah kematian Burak Dogan, polisi mengumpulkan barang-barang miliknya: kitab suci Al-Quran, beberapa bungkus rokok Marlboro Gold, sebuah foto, uang receh $13.

Semuanya dikemas menjadi dua bungkusan.

Yang lebih kecil berisi dokumen identitasnya, dikirim kembali ke keluarganya di Turki.

"Tas lain berisi barang-barangnya, saya tak mau membukanya," kata sepupu Burak, Yavuz Cikar, yang menyimpan tas itu di mobilnya.

Yavuz menyebutkan pihaknya masih mempertimbangkan untuk membawa Uber Eats dan perusahaan asuransinya ke pengadilan, meski pun langkah tersebut akan merugikannya secara signifikan .

"Saya tak akan menyerah. Saya akan berusaha mencari seseorang yang bisa membantu melakukan sesuatu untuk itu," katanya.

"Demi keadilan, saya ingin mengurus hal ini," tambahnya.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

(ita/ita)