'Lockdown' Keempat di Melbourne Telah Merugikan Banyak Pekerja Lepas

ABC Australia - detikNews
Selasa, 01 Jun 2021 18:19 WIB
Warga Kota Melbourne Suzanne Stevens kehilangan beberapa pekerjaan kasualnya selama lockdown yang kembali diterapkan untuk keempat kalinya. (ABC News: Emilia Terzon)
Jakarta -

Melbourne dan wilayah lainnya di negara bagian Victoria, Australia, kembali menerapkan 'lockdown' untuk keempat kalinya dalam 15 bulan. Para pekerja kasual atau pekerja lepas merasa jadi korban akibat kehilangan pekerjaan.

Pada awal pekan lalu, sebelum 'lockdown' kembali berlaku, Suzanne Stevens memiliki empat pekerjaan yang dia jalani secara kasual. Mulai jadi model, kerja di salon hingga membuat konten untuk medsos.

"Ada dua kerjaan model, sesi foto dan 30 jam kerjaan di salon. Begitu lockdown diumumkan, semua kerjaan saya itu hilang begitu saja," katanya kepada ABC.

Meski sempat mendapatkan tunjangan 'JobKeeper' saat 'lockdown' tahun lalu, namun kali ini Suzanne merasa "ditelantarkan".

Bantuan 'JobKeeper' telah berakhir pada bulan Maret lalu, dan Pemerintah Federal kini enggan untuk memberikannya lagi saat negara bagian Victoria melakukan 'lockdown' kali ini.

"Saya merasa sangat terabaikan," ujar Suzanne.

"Saya merasa setengah juta pekerja lepas di Victoria dinaikkan ke perahu dan dihanyutkan ke laut lepas, padahal kami semua membayar pajak dan sebagian di antara kami dikenai persentase pajak lebih tinggi," katanya.

"Pemerintah yang mengabaikan kita dan sepertinya membiarkan kita berjuang sendiri itu rasanya sangat menyakitkan," tambah Suzanne.

Hak apa saja yang dimiliki oleh pekerja lepas?

Aturan perundang-undangan di Australia saat ini menetapkan pekerja lepas pada umumnya tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan cuti tahunan, cuti sakit atau hak cuti lainnya yang berbayar. Juga tak diberikan hak pesangon atau jaminan keamanan penghasilan bila diberhentikan.

Sebagai imbalannya, mereka mendapatkan tambahan penghasilan atas gaji mereka sebagai bentuk kompensasi.

Jadi selama 'lockdown', perusahaan yang mempekerjakan pekerja lepas tidak berkewajiban memberikan gaji apabila mereka ini tidak bekerja.

Jenis pekerjaan kasual yang terdampak 'lockdown' kali ini semakin meluas, mulai dari industri kreatif hingga perhotelan dan sektor ritel.

Data bulan Desember 2020 menunjukkan lebih dari 500 ribu orang bekerja secara kasual di Victoria.

Mereka semua berhak mendapatkan tunjangan 'JobKeeper' hingga akhir Maret 2021.

Namun mereka dikenai syarat harus menunjukkan bukti telah bekerja kasual dalam 12 bulan sebelumnya.

Pakar ketenagakerjaan dari Griffith University, David Peetz, memperkirakan sedikitnya 1 juta orang di Australia yang bekerja secara kasual tidak mendapatkan tunjangan 'JobKeeper' dengan berbagai alasan.

Salah satu alasannya, karena pembayaran tunjangan 'JobKeeper' terkait dengan majikan yang harus mampu membuktikan bahwa usaha mereka mengalami kerugian selama jangka waktu tertentu.

Akibatnya, sistem tunjangan seperti 'JobKeeper' ini sangat sulit diterapkan untuk 'lockdown' singkat yang direncanakan berlaku di Victoria saat ini.

Suzanne sendiri mengaku tak memikirkan soal tunjangan ini dan bersyukur karena punya tabungan yang bisa digunakan. Apalagi pasangannya memiliki pekerjaan sebagai pegawai tetap.

Pekerja lepas lainnya seperti Marni, berharap pada tunjangan dari pemerintah. Namun dia tak berhak mendapatkannya, karena bukan warga negara atau penduduk tetap.

Marni telah kehilangan pekerjaannya sebagai penjaga toko ritel di Melbourne sejak pekan lalu.

"Sebagai mahasiswa internasional yang memegang bridging visa, saya tak memenuhi syarat untuk mendapatkan tunjangan pemerintah," ujarnya kepada ABC.

"Saya merasa sangat khawatir, merasa sedih," katanya.

Pada saat lockdown tahun lalu, Marni bekerja pada sebuah perusahaan arsitek yang membolehkannya bekerja dari rumah.

Namun pekerjaannya saat ini sebagai penjaga toko pakaian tidak memungkinkannya bekerja dari rumah.

Tunjangan apa yang tersedia saat ini?

Pemerintah Victoria telah mengumumkan paket bantuan sebesar AU$250 juta untuk dunia usaha, termasuk AU$2.500 hingga AU$3.500 bagi sektor usaha kecil menengah dan 'hospitality'.

Skema ini tidak mengharuskan perusahaan untuk menyalurkan bantuan yang mereka peroleh ke pekerja kasual mereka.

Makanya, pihak negara bagian telah meminta pemerintah federal agar turun tangan memberikan bantuan.

Pemerintah Victoria menyatakan telah meminta agar tunjangan 'JobKeeper' dari federal diberikan selama tujuh hari masa 'lockdown', atau tunjangan lainnya yang dikhususkan untuk pekerja lepas.

Namun Menteri Perbendaharaan Negara (Treasurer) Australia Josh Frydenberg berdalih bahwa dari 'lockdown' singkat yang diterapkan di Perth dan Brisbane setelah berakhirnya tunjangan JobKeeper, bantuan federal tidak diperlukan.

"Lebih dari $45 miliar telah disalurkan ke rumah tangga dan dunia usaha di Victoria selama pandemi COVID. Bantuan ekonomi federal per kapita paling besar disalurkan ke Victoria," jelas Tresurer Josh.

Baik Suzanne maupun Marni berharap pemerintah federal atau negara bagian memikirkan perlunya tunjangan sekali bayar apabila masa 'lockdown' saat ini akan diperpanjang.

Dari pengalaman 'lockdown' singkat yang diperpanjang sebelumnya, Pemerintah Victoria menyalurkan tunjangan sekali bayar bagi para mahasiswa internasional.

Menteri Perdagangan Australia Dan Tehan dalam wawancara dengan ABC menyatakan para pekerja lepas yang terdampak 'lockdown' kali ini agar pergi ke Centrelink.

Centrelink adalah lembaga pemerintah yang menangani berbagai program tunjangan kesejahteraan sosial di Australia bagi warga yang berhak mendapatkannya.

"Silakan pergi ke Centrelink dan jika memenuhi syarat, jika kehilangan seminggu atau dua minggu jam kerja, mungkin Anda memenuhi syarat untuk bantuan darurat," ujar Menteri Dan Tehan.

Namun Pemimpin Oposisi Australia, Anthony Albanese menuding keterangan Menteri Tehan membingungkan.

"Saya tak mengerti tunjangan apa yang dia maksudkan. Apakah tunjangan penghasilan, apakah terkait dengan karantina nasional, atau apa?" katanya.

Terancam tutup bila 'lockdown' diperpanjang

Seorang pemilik kafe di pinggiran Kota Melbourne, Hamed Allahyari, merasa sangat terpukul dengan 'lockdown' keempat ini.

"Banyak persediaan bahan makanan kami terbuang," katanya.

Bantuan bagi UKM dan hospitality yang diumumkan Pemerintah Victoria, menurut Hamed, akan membantu pengusaha seperti dirinya membayar pekerja dan sewa tempat usaha.

Ia mengaku khawatir bila masa lockdown yang direncanakan hanya seminggu akan diperpanjang, mengingat semakin bertambahnya kasus dan lokasi penularan COVID.

"Hanya butuh tiga minggu lockdown untuk menutup usaha kafe saya ini untuk selamanya," kata Hamed.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari berbagai artikel ABC News.

(ita/ita)