China Bantah Naikkan Harga Tabung Oksigen ke India, Taiwan Bergerak Cari Vaksin

ABC Australia - detikNews
Kamis, 20 Mei 2021 16:24 WIB
Pasokan tabung oksigen di India langka karena adanya gelombang kedua penularan selama beberapa minggu terakhir. (AP: Altaf Qadri)
Jakarta -

Pemerintah China membantah tuduhan bahwa perusahaan China menaikkan harga oksigen untuk mereka yang terkena COVID-19. Sementara itu di Taiwan, dengan kasus meningkat, jajaran diplomatik mereka dikerahkan untuk mempercepat pengiriman vaksin dari Amerika Serikat.

Sistem kesehatan India berjibaku dengan kurangnya jumlah peralatan medis, termasuk oksigen, di tengah gelombang kedua pandemi virus corona yang membuat putus asa karena belum bisa tertangani.

Konsul Jenderal India untuk Hong Kong, Priyanka Chauhan minggu lalu meminta kepada pemerintah China untuk melakukan sesuatu mengenai harga peralatan medis yang naik dan meminta mereka meningkatkan jumlah penerbangan kargo supaya bisa mengirim barang-barang yang sekarang sangat diperlukan India.

"Apa yang ingin saya katakan adalah bahwa kami berharap saat ini jaringan pasokan tetap terbuka, dan harga produk tetap stabil," katanya kepada harian South China Morning Post.

"Bahkan kalau pun ada tekanan antara pasokan dan permintaan, setidaknya soal harga harus bisa diprediksi dan stabil. Selain itu, harus ada dukungan pemerintah soal ini.

Perusahaan China dilaporkan mulai menaikkan harga bahkan lebih dari dua kali lipat untuk tabung oksigen dan konsentrator, sementara penerbangan kargo antar-kedua negara belum kembali normal setelah dihentikan karena adanya gelombang kedua penularan di India.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hua Chunying dalam jumpa pers mengatakan bahwa harga konsentrator oksigen ditentukan oleh jumlah pasokan dan permintaan.

Dia mengatakan bahwa permintaan global akan konsentrator oksigen sekarang ini tinggi karena kemampuan produksi tergantung pada pasokan bahan baku dasar dari Eropa.

"Kami setuju dengan pernyataan Konsul India di Hong Kong bahwa jaringan pasokan harus tetap terbuka dan stabil," katanya.

"Kami berharap semua pihak mengambil langkah konkret guna memastikan jaringan pasokan dan industri global tetap stabil dan terbuka."

Karena keterbatasan tempat tidur di rumah sakit di India, banyak pasien yang positif COVID-19 dengan gejala yang ringan menjalani perawatan di rumah.

Karena itu, permintaan akan obat-obatan, termasuk tabung oksigen, juga melonjak di India setelah banyak warga berusaha membeli peralatan itu sendiri langsung dari China.

Selain harga yang mahal, beberapa importir China juga dituduh mengirimkan peralatan bermutu rendah ke India.

Harian India Today melaporkan bahwa perusahaan mengirimkan komponen dengan kualitas lebih rendah namun menjual dengan harga yang lebih mahal dari sebelumnya.

Menurut kuitansi yang didapat oleh wartawan India Today, dari tanggal 30 April sampai 12 Mei, harga pengiriman satu kontainer naik dari A$439 (sekitar Rp4,5 juta) menjadi A$594 (sekitar Rp6 juta).

Di YouTube beredar rekaman di mana seseorang membeli ratusan tabung oksigen dengan harga di atas normal.

Salah seorang pejabat China, Nan Hao dalam postingan di Weibo mengatakan bahwa para importir India ini sudah ditipu.

Nan Hao yang adalah Kepala Pusat Pengembangan Mitigasi Bencana Zhou Ming mengatakan bahwa dia mengalami juga kenaikan harga saat membeli peralatan di China.

"Barang-barang buatan China sekarang menjadi harapan bagi ratusan ribu keluarga di India, namun seberapa banyak harapan keluarga ini musnah karena usaha menguntungkan kelompok tertentu?" katanya.

"Kelompok kecil yang mengambi keuntungan ini sangat memalukan."

Kasus di Taiwan meningkat tajam

Sementara itu, Taiwan sudah mengerahkan jajaran diplomatnya untuk mendapatkan pengiriman vaksin COVID-19 lebih cepat setelah terjadi peningkatan kasus di negeri tersebut di mana hanya sekitar 1 persen penduduknya yang sudah divaksinasi.

Dalam sepekan terakhir, Taiwan melaporkan adanya 700 kasus baru sehingga di ibu kota Taipei diadakan pengetatan aturan.

Hal ini banyak mengejutkan warga karena selama ini Taiwan termasuk kawasan yang hampir tidak memiliki kasus COVID sehingga warganya hidup dalam keadaan normal.

Taiwan sejauh ini baru menerima 300 ribu dosis vaksin bagi sekitar 23 juta orang yang bermukim di sana, semuanya vaksin AstraZeneca dan sekarang vaksin itu sudah hampir habis digunakan.

Dalam pernyataan yang diterbitkan oleh Kantor berita resmi Taiwan, Central News Agency, hari Selasa, seorang pejabat senior Taiwan di Washington mengatakan dia sedang mengadakan pembicaraan dengan Amerika Serikat mengenai pengiriman vaksin ke berbagai negara yang sedang direncanakan oleh Presiden Joe Biden.

"Kami sedang melakukan perundingan dan berusaha mendapatkannya," kata Hsiao Bi-khim, Duta besar Taiwan untuk Amerika Serikat.

Dia mengatakan bahwa meski pembelian vaksin adalah tugas kementerian kesehatan Taiwan, peran kantornya adalah untuk mengadakan pembicaraan dengan Amerika Serikat guna mempercepat pengiriman.

Presiden Biden mengatakan Amerika Serikat akan mengirimkan sedikitnya 20 juta vaksin ke beberapa negara di akhir Juni.

Amerika Serikat sama seperti banyak negara lain tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Taiwan, tetapi merupakan pendukungnya yang krusial dalam dunia internasional.

Presiden Taiwan, Tsai Ing-wen pada hari Selasa (18/05) mengatakan bahwa mereka berharap akan bisa mengembangkan vaksin yang diproduksi di dalam negeri pada akhir Juli, sementara vaksin impor masih dalam perjalanan.

"Vaksin yang kita beli dari berbagai skema akan tiba bertahap dari luar negeri. Jadi warga semua jangan khawatir," katanya.

Taiwan sudah memesan sekitar 20 juta dosis vaksin, kebanyakan dari AstraZeneca dan juga Moderna, di tengah jumlah pasokan yang berkurang karena keterbatasan jumlah vaksin.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari berita ABC News.

(ita/ita)