Akun Resmi Partai Komunis China Bandingkan Peluncuran Roket dengan Kremasi Massal India

ABC Australia - detikNews
Selasa, 04 Mei 2021 09:38 WIB
Tingginya korban yang meninggal di India menyebabkan banyak krematorium harus melakukan pembakaran jenazah dalam waktu bersamaan. (AP: Amit Sharma)
Jakarta -

Partai Komunis China (PKC) telah menghapus postingan kontroversial di akun media sosialnya, yang membandingkan api dari peluncuran pesawat ulang-alik China dengan asap dari pembakaran mayat COVID di India.

Akun itu memuat dua foto berdampingan yang menunjukkan peluncuran modul utama Tianhe yang merupakan bagian dari stasiun luar angkasa China, dengan gambar dari kremasi massal di India.

"China menyalakan api dibandingkan dengan India menyalahkan api," demikian keterangan foto dalam postingan tersebut.

Foto ini diunggah oleh Komisi Sentral Urusan Politik dan Hukum dari PKC di akun Weibo, media sosial yang mirip dengan Twitter.

Ribuan pengguna Weibo kemudian mengeritik postingan yang dianggap 'tidak pantas' tersebut. Lima jam kemudian postingan itu telah dihapus.

"Mayoritas yang meninggal itu berasal dari golongan terendah di India, yang menderita karena tidak adanya tindakan dari pemerintah India," tulis seorang pengguna Weibo, Laowujiadetianxin.

"Warga India harus bersatu," tambahnya.

Ketegangan antara China dan India - dua negara dengan penduduk terbesar di dunia - meningkat dalam setahun terakhir, khususnya berkenaan dengan sengketa perbatasan di daerah pegunungan Himalaya. Selain itu juga didorong oleh meningkatnya sentimen nasionalistis di masing-masing negara.

Beberapa pengguna Weibo lainnya menunjukkan sikap tidak simpatik terhadap apa yang terjadi di India sekarang ini, mengaitkan krisis COVID dengan sengketa perbatasan.

"Saya selalu merasa bahwa negara kita terlalu lunak dan terlalu baik terhadap India," tulis seorang pengguna Weibo.

"India tidak tahu bagaimana menghargai kita," katanya.

Kasus COVID-19 di India terus meningkat dalam sepekan terakhir, dengan angka terbaru sudah melebihi 20 juta kasus, dan lebih dari 215 ribu kematian.

Namun menurut para pakar, jumlah kasus dan kematian kemungkinan lima atau 10 kali lebih tinggi dari angka resmi.

Hari Sabtu, kasus penularan mencapai 401.993 atau yang tertinggi di dunia dalam satu hari.

Sementara itu China hari Minggu hanya melaporkan adanya 11 kasus baru di seluruh negeri itu.

Shen Yi, seorang akademisi dari Fudan University di Shanghai, memuji foto yang diunggah akun PKC itu.

"Kita harus menunjukkan kemarahan kepada India," tulis Shen Yi di Weibo.

Namun Hu Xijin, editor tabloid Global Times yang biasanya bersikap sangat nasionalistis, tidak sependapat.

Hu Xijin mengatakan seharusnya media resmi pemerintah China 'menunjukkan sikap simpatik kepada India'.

"Saya kita ini tidak pantas dibuat oleh sebuah akun resmi," katanya.

Sementara itu Duta Besar China untuk India Sun Weidong mengatakan kepada media pemerintah China bahwa negeri itu sudah mengirimkan 5000 ventilator dan 21.569 generator oksigen ke India dalam beberapa bulan terakhir.

"Sepanjang yang saya ketahui, perusahaan-perusahaan China sudah mempercepat produksi sedikitnya 40 ribu generator oksigen, yang diminta oleh pihak India, dan mereka bekerja secepat mungkin untuk menyelesaikannya," kata Sun.

"Banyak perusahaan Cihna dan juga organisasi swasta menggunakan jalur mereka masing-masing untuk membantu India."

ABC sudah menghubungi Kementerian Luar Negeri China dan India untuk mendapatkan komentar resmi.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari

Simak video 'Tangani Pasien COVID-19, Dokter di India Memutuskan Bunuh Diri':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)