Seberapa Mungkin Kru dan Kapal Selam KRI Nanggala Dievakuasi dari Dasar Laut?

ABC Australia - detikNews
Selasa, 27 Apr 2021 16:18 WIB
Warga menabur rangkaian bunga yang juga tertulis nama-nama kru yang berada di kapal selam KRI Nanggala 402 di Labuhan Lalang, Bali. (Antara: Fikri Yusuf)
Jakarta -

Dalam duka yang mendalam, para keluarga dan kerabat kru KRI Nanggala-402 berkumpul di sebuah kawasan di perairan di Bali utara untuk memberikan penghormatan kepada anggota keluarga dan sahabat mereka yang hilang dan dinyatakan tenggelam.

Hari Senin kemarin (26/04), dengan membawa dupa dan rangkaian bunga, beberapa orang juga terlihat memegang foto dari para prajurit berseragam Angkatan Laut.

Sebagian di antara mereka menaburkan bunga-bunga di laut.

Salah satu yang hadir adalah keluarga dari I Gede Kartika.

"Kami sudah menyerahkan putra kami kepada Pemerintah," ujar Wayan Darmanta, paman dari Kartika.

"Sekarang dia sudah gugur dalam operasi ini, kami berharap Pemerintah mengembalikan jenazahnya kepada kami setelah semua upacara resmi, " ujarnya.

Sejumlah keluarga lainnya juga mendesak agar tubuh para prajurit Angkatan Laut yang tenggelam dievakuasi dari kedalaman air.

Anggota keluarga dari awak kapal lain yang hilang juga berkumpul di Banyuwangi untuk berdoa dan memberikan penghormatan.

Banyuwangi adalah tempat pangkalan Angkatan Laut di Pulau Jawa, sekaligus tempat Nanggala-402 biasanya bermarkas.

Sementara itu Presiden Joko Widodo telah menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan ia berjanji jika negara akan mendanai pendidikan anak-anak dari para anggota Angkatan Laut yang hilang.

Mengapa kapal selam bisa terbelah?

Angkatan Laut RI sebelumnya sudah memastikan nama-nama 53 orang yang berada di dalam kapal selam KRI Nanggala-402 dan tidak ada yang selamat.

Saat ini kapal selam masih berada di dasar laut, sementara penyebab tenggelamnya belum diketahui.

Foto bawah laut yang diambil oleh robot menunjukkan jika kapal selam terbelah menjadi tiga bagian, seperti yang dijelaskan oleh Kepala Staf AL, Laksamana Yudo Margono.

Kapal tersebut tenggelam hingga kedalaman 838 meter, jauh di bawah batas maksimum operasi kapal selam, yakni 250 meter.

"Di kedalaman 500 meter, lambung kapal dapat pulih dari perubahan bentuk apa pun yang akan terjadi akibat tekanan, karena kapal selam melakukan kompresi dan kemudian mengembang lagi," kata Frank Owen, pakar kapal selam dari Submarine Institute of Australia kepada ABC.

"Tapi di bawah itu, kapal selam dengan cepat semakin berubah bentuk dan tidak akan pernah bisa pulih, sampai akhirnya terbelah atau pecah."

Rompi pelampung ditemukan, apa artinya?

Rompi pelampung berwarna oranye ditemukan mengambang di lokasi menghilangnya kapal selam KRI Nanggala-402.

"Baju escape suit yang biasanya ini ditaruh di kotak, tapi ini bisa lepas berarti ada kedaruratan sehingga diambil dari kotak untuk dipakai," kata Laksamana Yudo dalam konferensi pers di Bali.

"Kemungkinan belum sempat dipakai, kondisinya sudah darurat," tambahnya.

Sejumlah benda lainnya juga ditemukan oleh regu pencari, termasuk sebotol pelumas periskop dan serpihan dari sejadah.

Penemuan inilah yang semakin meyakinkan pihak Angkatan Laut RI jika kapal selam telah terbelah.

"Di dalam kapal selam, tekanannya tetap sama sampai lambung kapal rusak, air masuk, lalu ada peningkatan tekanan yang sangat cepat," kata Frank, pakar kapal selam.

"Dan sampai kedalaman yang masuk akal, katakanlah, 200 meter, tubuh manusia bisa menghadapinya".

"Tapi ketika terjadi peningkatan tekanan yang sangat cepat, itu menjadi bencana besar."

Evakuasi jenazah akan jadi tantangan nyata

Angkatan Laut Indonesia mengatakan, mereka berharap bisa mengangkat kapal selam dan jenazah awak ke permukaan.

"Mengangkat kapal selam butuh upaya dan kekuatan logistik yang sangat signifikan," ujar Frank.

Ia juga mengatakan "mengevakuasi jenazah satu per satu, atau tanpa mengangkat seluruh kapal selam, akan menjadi tantangan nyata".

"Kita mengoperasikan kendaraan atau mesin dari jarak jauh, yang belum tentu memiliki kemampuan untuk mengendalikan beberapa bagian tubuh, seperti kalau dilakukan oleh tangan kita sendiri."

Pakar kapal selam dari Australia ini mencontoh kapal selam nuklir Rusia, Kursk.

Kapal selam itu, dengan berat sekitar 20.000 ton, diangkat dari kedalaman lebih dari 100 meter dalam waktu lebih dari satu tahun.

Sebaliknya, KRI Nanggala-402 jauh lebih ringan, yakni 1.400 ton, tapi berada jauh lebih dalam di bawah air, yakni lebih dari 800 meter.

"Tapi bahkan untuk mengangkat kapal selam seberat 1.400 ton dari dasar laut membutuhkan banyak logistik," ujarnya.

"Kita harus menyiapkan kapal yang tepat, Anda kemudian harus turun ke dasar laut, dan 840 meter adalah jalan yang panjang."

"Kemudian kita harus membuat semacam pengapung di kapal selam, yang biasanya berupa tas berisi solar yang kemudian dapat memberikan daya apung, karena udara tidaklah berguna di air sedalam itu."

(nvc/nvc)