Keluarga Muslim dan Non-Muslim di Australia Rayakan Ramadan dengan Keterbukaan

ABC Australia - detikNews
Selasa, 13 Apr 2021 16:58 WIB
Ty Randle, Dr. Diaswati (Asti) Mardiasmo dan putrinya Ariella merayakan Ramadan bersama-sama. (Supplied)
Canberra -

Umat Islam di Australia mulai melaksanakan puasa Ramadan hari Selasa ini (13/04).

Bagi sejumlah keluarga di Australia, Ramadan juga menjadi kesempatan untuk menyambung kembali silaturahmi dengan orang yang berbeda agama dan keyakinan.

Ty Randle, yang tumbuh dalam keluarga Kristen, turut merayakan Ramadan dan Idul Fitri tahun ini bersama pasangannya Diaswati Mardiasmo, ibu seorang anak asal Indonesia.

Randle dan Asti, panggilan akrab Diaswati, pertama kali bertemu pada 2008. namun mulai menjalin hubungan pada 2019.

Meski dia masih mengidentifikasikan dirinya sebagai penganut agama Kristen, Randle terbuka untuk merayakan agama dan budaya lain.

"Saya merayakan Ramadan bersama Asti dan (putrinya), Ariella, karena hal itu merupakan keyakinannya. Saya terbuka terhadap ide dan budaya serta keyakinan baru," katanya.

Asti yang tinggal di Brisbane mengatakan agama selalu menjadi bagian penting dalam hidupnya. Makanya, kehadiran Randle untuk ikut berbuka puasa atau iftar, serta Idul Fitri sangat penting baginya.

"Ini salah satu bulan paling istimewa bagi seorang Muslim. Saya pun selalu senang merayakan Ramadan dan Idul Fitri," katanya.

"Saya juga suka Ty karena dia begitu terbuka merayakannya bersamaku. Saya merasa beruntung karena dia siap dan mau menerimanya," kata Asti.

Sebaliknya, katanya, dia pun turut merayakan keyakinan pasangannya itu.

"Kami turut merayakan Paskah, Ramadan, Idul Fitri, dan Natal bersama-sama. Jadi ada rada adil tanpa membuat siapa pun merasa bahwa keyakinan mereka lebih penting," kata Asti.

"Kita semua adalah manusia yang saling berhubungan satu sama lain," tambahnya.

Bulan untuk mengingat pentingnya kasih sayang

Beberapa warga Muslim di Australia juga merayakan Ramadan dengan orang-orang yang mereka anggap keluarga, meski tidak memiliki hubungan darah.

Salah satunya, Nurul, ketua Sydney Queer Muslim, sebuah organisasi yang menyatukan warga Muslim dari komunitas LGBTQ.

Setiap Ramadan, organisasi ini mengadakan acara berbuka puasa untuk anggotanya.

"Terlepas dari aspek spiritual, Ramadan merupakan salah satu bulan di mana acara kumpul-kumpul keluarga paling banyak terjadi," ujarnya.

"Bagi mereka yang sudah tidak diakui lagi oleh keluarganya,hal ini menjadi saat yang sangat menyakitkan," kata Nurul.

Kegiatan Ramadan mereka terbuka untuk warga non-Muslim yang berperan besar mendukung Muslim queer.

"Hal ini menimbulkan rasa memiliki, yang merupakan kebutuhan dasar manusia karena mereka telah ditolak oleh keluarganya," ujarnya.

Nurul bersyukur dengan adanya pelonggaran pembatasan COVID-19 karena mereka bisa terhubung sekaligus aman dari COVID.

"Bagi kita yang masih percaya adanya tuhan, kita berpuasa karena itu salah satu dari lima rukun Islam," kata Nurul.

"Orang perlu menyadari bahwa menjadi queer hanyalah salah satu dari banyak aspek keberadaan kita," katanya.

Keluarga lintas keyakinan

Adalyah Swann, siswi kelas 11, tinggal bersama ibu dan ayah tirinya di Brisbane.

Dia dibesarkan dalam keluarga yang anggotanya memeluk agama yang berbeda-beda.

Ibunya, Andrietta Swann, seorang pemeluk agama Kristen.

Sementara ayah tirinya, Anze Malalan, seorang Muslim sejak tahun 2006.

Meski pernah merayakan Ramadan dan Idul Fitri sebelumnya, Adalyah baru masuk Islam pada bulan Januari lalu.

Ramadan tahun ini terasa istimewa baginya.

"Saya sangat senang menjalani Ramadan secara penuh, terutama sebagai seorang Muslim sekarang," kata Adalyah.

"Saya akan merayakan bulan ini dengan baik dan dengan niat dan tujuan yang lebih besar," ujarnya.

"Insya Allah ini akan menjadi bulan penyembuhan dan menemukan kedamaian seraya bersyukur atas berkah yang telah kita terima," tambahnya.

Adalyah mulai mempelajari agama Islam atas bantuan teman-teman dan komunitas Muslim.

Keputusannya juga menjadi lebih mudah dengan adanya restu dan dukungan dari ibu dan ayah tirinya.

"Kami berdua senang dengan perjalanan dan dedikasinya untuk mempelajari semua yang dia ketahui sekarang," kata Andrietta Swann, ibu Adalya.

Sementara bagi Ty, meskipun dia tidak ikut berpuasa, namun menantikan saat-saat berbuka bersama.

"Saya senang karena Asti melibatkan saya dalam semua ini," kata Randle kepada ABC.

"Saya masih memiliki keyakinan kuat terhadap agama saya sendiri, namun bukan berarti kami tidak bisa ikut merayakan keyakinan orang lain," ujarnya.

"Pada akhirnya, bagaimana memiliki pikiran terbuka dan menikmatinya," tambahnya.

Simak artikelnya dalam Bahasa Inggris di sini.

(nvc/nvc)