Penyelenggara BaliFest di Australia Akan Tetap Menyumbang untuk Bali di Tengah Kecaman

ABC Australia - detikNews
Jumat, 09 Apr 2021 10:16 WIB
abc
Beberapa pengunjung acara bertema Bali bernama BaliFest menolak untuk meminta kembali uang karcis mereka, meski merasa
Jakarta -

Sebuah festival bertema Bali bernama BaliFest mendapatkan serangan komentar negatif dari beberapa pengunjung yang merasa kecewa dengan acara tersebut.

Dengan tujuan "membawa Bali ke Australia", BaliFest adalah sebuah festival yang digelar di pantai Mandurah, Australia Barat dari tanggal 2 hingga 6 April kemarin.

Hiburan tarian dan musik, penjual makanan, olahraga air, hingga kedai minuman, ditampilkan di acara tersebut untuk menghadirkan "suasana seperti di Bali".

Namun, pihak penyelenggara terpaksa mengeluarkan pernyataan maaf, setelah mendapat komentar negatif akibat "kurangnya representasi budaya" seperti yang diunggah di halaman Facebook BaliFest Australia.

Beberapa komentar tersebut diantaranya menyebutkan tarian Bali yang tidak ditampilkan sesuai dengan tarian aslinya.

Ada pula tuduhan pihak penyelenggara "tidak memahami budaya Bali" atau "tidak mengajak komunitas Bali" di Perth untuk terlibat.

"Kami menggunakan kesempatan ini setelah beberapa hari mengadakan festival untuk meminta maaf kepada pihak yang merasa telah dibohongi dan [dibuat] kewalahan karena acara ini," bunyi pernyataannya.

"Kami juga dengan sepenuh hati meminta maaf kepada komunitas Bali yang merasa tersinggung melihat kurangnya representasi budaya mereka."

Pihak penyelenggara juga sudah menawarkan pengembalian uang tiket penuh bagi pengunjung yang menginginkannya.

Tidak minta uang dikembalikan karena akan disumbang

Leanne, warga Australia Barat datang ke BaliFest bersama seorang temannya.

Kepada ABC Indonesia, ia mengatakan sangat menikmati sate Indonesia yang dijual di 'food truck' atau truk makanan yang disantapnya sambil minum bir.

"Saya setuju mungkin acara ini tidak seperti bagaimana dipromosikannya, dan kalau saya pribadi akan lebih setuju kalau ada lebih banyak orang Indonesia di Perth yang lebih dilibatkan, lebih banyak makanan tradisional dan suasana kebudayaan," kata Leanne.

"Tapi pada akhirnya, tiket seharga A$30 [sekitar Rp332 ribu] untuk penampilan live sepanjang hari juga sudah cukup adil untuk saya, apalagi mengetahui banyak pemusik [di acara tersebut] yang tahun lalu tidak bisa bekerja [karena pandemi]."

"Saya rasa orang-orang lupa gambaran besar [tujuan acara ini]," katanya.

Dengan alasan tersebut, ia memilih untuk tidak meminta pengembalian uang tiket BaliFest.

Sama dengan Leanne, warga Australia Barat lainnya bernama Anna juga tidak ingin meminta agar uang tiketnya dikembalikan oleh pihak BaliFest, meski ia mengaku "sangat kecewa" dengan harga tiket.

"Saya rasa penyelenggara memiliki niat baik, tapi harga tiketnya masih terlalu mahal bila dibandingkan dengan jumlah uang yang akan disumbangkan," katanya.

"Penyelenggara mengadakan acara ini dengan cara yang salah, tidak ada perasaan berada di Bali ketika datang ke acara ini ... saya hanya ingin uang hasil penjualan tiket disumbangkan."

Dampak pengembalian uang tiket terhadap sumbangan

Walau pada akhirnya memutuskan untuk mengembalikan uang penjualan tiket kepada orang-orang yang meminta, direktur penyelenggara BaliFest, Leigh Rose, mengatakan akan tetap menyumbangkan hasil penjualan tiketnya.

"Hanya ada sedikit orang yang meminta dikembalikan uangnya," kata Leigh.

Ia mengatakan sejak empat hari yang lalu sudah ada lebih dari 13.000 hingga 14.000 pembeli tiket.

Leigh mengatakan 10 persen dari penjualan tiket dan 50 sen, atau sekitar Rp5 ribu, dari setiap penjualan minuman beralkohol akan disumbangkan kepada beberapa organisasi.

Di Bali sendiri, hasil penjualan tiket dari acara tersebut akan disumbangkan kepada Bali Life Foundation dan Bali Peace Park, termasuk untuk membantu situasi di Bali karena COVID-19.

Menurut Leigh keputusan untuk mengembalikan uang para pengunjung telah membawa dampak yang besar.

"Proses pengembalian uang ini berpengaruh signifikan terhadap jumlah sumbangan kami yang baru akan dihitung beberapa hari lagi," kata Leigh kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

"[Namun] uang untuk semua seniman, staf, dan pihak lain yang bersangkutan akan dibayarkan sesuai yang telah direncanakan, dengan jumlah yang telah disisihkan."

Leigh juga mengatakan pihaknya tengah mempertimbangkan untuk mengambil langkah hukum terhadap sejumlah perusahaan media "karena telah menyesatkan orang dan merugikan kegiatan amal, bisnis saya, dan komunitas".

Ikuti berita seputar pandemi Australia dan lainnya di

(ita/ita)