'Tak Perlu ke Luar Negeri', Imigran Afghanistan Ubah Satu Kawasan di Adelaide

ABC Australia - detikNews
Kamis, 08 Apr 2021 16:36 WIB
Saat Hanif Rahimi tiba di Adelaide tahun 2001, kondisi kawasan jalan Prospect Road di bagian utara ibukota Australia Selatan itu masih sangat sepi. (Supplied)
Jakarta -

Jalanan kosong dengan banyak pertokoan yang tutup. Pecahan kaca bertebaran di trotoar.

Begitulah kondisi Prospect Road di Adelaide, ibu kota Australia Selatan, dua dekade silam.

Tapi para pendatang kemudian menghidupkan kawasan ini.

Dalam ingatan Hanif Rahimi, imigran Hazara dari Afghanistan, kawasan di utara Adelaide itu agak menyeramkan saat ia pertama tiba di sana tahun 2001.

Kini, kawasan itu telah berubah drastis.

Sangat ramai dan dinamis. Orang setempat menjulukinya sebagai "Little Afghanistan".

"Sebelumnya, setelah pukul enam atau tujuh malam, tidak ada lagi orang yang berada di jalanan karena mereka takut. Saat itu tidak aman," kata Hanif kepada ABC.

"Area ini benar-benar kosong. Pertokoan sangat sepi," ujarnya.

Hanif bersama imigran Hazara lainnya telah menganggap Adelaide sebagai kampung halaman sendiri.

Mereka merupakan salah satu komunitas berbahasa non-Inggris terbesar di Australia Selatan sekarang.

Bukan cuma jalan Prospect Road yang berubah, begitu pula kawasan Port Adelaide Enfield.

"Sejak pendatang dari Timur Tengah, dari Afghanistan, orang Hazara, pindah ke sini. Mereka perlahan-lahan mengubah kondisi di sini," kata Hanif.

Sebuah laporan penelitian dari South Australia University menyebutkan pengungsi Hazara dari Afghanistan berperan merevitalisasi kawasan tersebut menjadi "multikultural, dan dinamis."

Laporan itu menyebut orang Hazara merupakan salah satu kelompok etnis paling teraniaya di dunia.

Pada tahun 2018, mereka menjadi pengungsi terbesar kedua, setelah 2,7 juta orang Hazara melarikan diri dari Iran dan Pakistan.

Peneliti Dr David Radford mengatakan para imigran ini hanya ingin mendapatkan kesempatan dan menjadi bagian dari komunitas, sama seperti orang lain.

"Mereka melakukannya dengan cara sehari-hari. Itulah yang membangun kohesi sosial kita, sebagai masyarakat Australia yang terdiri dari banyak komunitas berbeda," jelasnya.

"Orang Hazara di Adelaide tidak melihat diri mereka selamanya sebagai pengungsi. Meski label semacam itu juga bisa melekat terus," tambah Dr David.

Peran olahraga bagi komunitas

Laporan itu juga mencatat pentingnya olahraga bagi imgran Hazara di Adelaide sebagai faktor kunci untuk menjembatani kesenjangan antara komunitas yang berbeda.

"Ada klub sepakbola yang cukup terkenal bernama Ghan Kilburn City," kata Dr David Radford.

"Klub ini dibuat bukan hanya untuk orang Hazara tapi sejumlah komunitas yang berbeda dari Afrika dan lainnya," jelasnya.

Klub Ghan Kilburn City dibentuk tahun 2008 oleh Rahim Shah Zaidi.

Ia bersama sejumlah imigran Afghanistan pernah bermain di divisi amatir Australia Selatan.

"Mereka menanyakan mengapa kita tidak membentuk tim baru," kata Rahim kepada ABC.

Klub ini kemudian aktif bermain di lapangan salah satu sekolah.

Namun pada akhir 2014, klub Kilburn City mengajak mereka untuk berbagi lapangan sepakbola di daerah itu.

"Mereka bilang , Rahim kenapa tidak ikut kami saja di lapangan sini," ujarnya.

Rahim mengaku bangga dengan klub yang dia dirikan.

Awalnya hanya 22 pemain, tim senior dan cadangan, tapi sekarang klub itu memiliki lebih dari 150 pemain terdaftar.

"Kami punya tim untuk di bawah delapan tahun, di bawah 15 tahun, di bawah 16 tahun, serta tim perempuan Hazara," katanya.

Rahim menargetkan agar klubnya bisa bergabung dengan federasi sepak bola Australia Selatan sehingga memberikan lebih banyak kesempatan bagi komunitasnya.

Mengakui peran komunitas Hazara

Carol Martin, seorang pejabat dari pemerintahan setempat, menyebut keberhasilan ekonomi di kawasan Prospect Road didorong terutama oleh komunitas Afghanistan.

"Mereka itu pahlawan yang luar biasa," ujar Carol kepada ABC.

Ia menyebut Hanif Rahimi sebagai pahlawan bagi komunitas setempat, yang kini mengelola sebuah toko serba ada.

Ketika jaringan supermarket Colespindah dari Prospect Road pada tahun 2016, Hanif memutuskan memperluas toserbanya yang fokus melayani kebutuhan imigran Timur Tengah, Afghanistan, dan Pakistan.

Ia bergabung dengan IGA, sebuah jaringan supermarket independen.

Di mata Carol, langkah ini penting sebab warga di kawasan itu, terutama para lansia, yang sangat terbantu dalam memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari tanpa perlu berjalan jauh.

Hanif sendiri merasa bangga dengan toserba yang dia kelola di Prospect Road.

Selain menyediakan barang kebutuhan khusus untuk komunitas imigran, produk yang ditemukan di supermarket lainnya di Australia pun ada di sana.

"Orang Muslim bisa mendapatkan daging dan semua makanan yang diperlukan, begitu pula produk lain yang biasanya mereka dapatkan di supermarket lain," ujar Hanif.

Menurut Carol, secara keseluruhan perubahan ini mendorong warga Australia Selatan lainnya datang ke kawasan Prospect Road untuk mencoba makanan Afghanistan.

"Kami tak perlu ke luar negeri, tapi [makanan]berbagai negara yang datang ke sini," katanya.

Transformasi kawasan Prospect Road cukup menggembirakan bagi Hanif.

Ia masih ingat saat pertama kalinya membuka toko pada tahun 2006.

"Kaca jendela toko bisa pecah tiga kali sebulan. Tidak mudah mengelola toko saat itu," ujarnya.

Dia memuji dukungan yang diterima imigran Hazara dari Pemkot setempat serta investasi yang masuk ke daerah tersebut.

"Jalanan kini bersinar dan terang, pertokoan terbuka,banyak pekerja yang terserap, warga menikmati sajian restoran Afghanistan di sekitar Prospect Road," kata Hanif.

"Jika mau buka toko di sini sekarang, Anda tidak akan mendapatkan tempat lagi," ujarnya.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari

(ita/ita)