Mayoritas Pekerja di Australia Ingin Tetap Bisa Bekerja dari Rumah

ABC Australia - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 16:08 WIB
Jakarta - Apakah Anda ingin kembali bekerja sepenuhnya di kantor setelah pandemi COVID-19 usai?

Menurut sebuah survei terbaru, sebanyak 75 persen warga Australia menilai lingkungan kerja yang ideal adalah campuran dari bekerja di kantor dan bekerja dari rumah atau tempat lain.

Sekitar 16 persen lainnya malah berpandangan lebih radikal, yang menginginkan tempat kerja virtual sepenuhnya sebagai solusi yang mereka inginkan karena mereka bisa bekerja dari mana saja.

Perusahaan konsultan besar PwC baru saja melakukan survei besar-besaran mengenai pekerja, dengan melibatkan 32.500 orang dari 19 negara termasuk 2000 orang warga Australia.

Survei itu dikeluarkan dalam bentuk laporan berjudul 'Hopes dan Fears 2021' atau Harapan dan Kekhawatiran 2021, pada hari Rabu (24/03) lalu.

Survei yang dilakukan antara tanggal 26 Januari sampai 8 Februari tersebut melibatkan para responden yang terdiri dari karyawan, pemilik bisnis, pekerja kontrakan, mahasiswa, mereka yang sedang mencari pekerjaan, mereka yang mendapat tunjangan atau sudah diberhentikan sementara.

Negara yang disurvei adalah Australia, Kanada, Prancis, Jerman, Belanda, Spanyol, Polandia, Inggris, China, Jepang, Singapura, Malaysia, India, Kuwait, Qatar, Saudi Arabia, Uni Emirat Arab dan Afrika Selatan.

Australia khawatir soal keamanan kerja

Hasil survei tersebut menyebutkan jika pandemi COVID-19 membuat warga Australia semakin khawatir akan masa depan mereka.

Sekitar 56 persen percaya di masa depan semakin sedikit orang yang akan memiliki pekerjaan yang tetap dan stabil (yang dimaksud dengan pekerjaan tetap adalah dengan masa kerja lebih dari dua tahun).

Sekitar 32 persen lainnya mengatakan pekerjaan mereka akan hilang dalam masa lima tahun.

Proses otomatisasi, saat tugas manusia digantikan oleh mesin atau robot, menjadi kekhawatiran utama dari para responden.

59 persen di antaranya khawatir banyak pekerjaan yang akan hilang, dan 44 persen mengatakan pekerjaan mereka sekarang terancam hilang karena otomatisasi.

Sekitar 61 persen dari mereka yang disurvei merasa pemerintah harus melindungi lapangan kerja, dan perasaan itu lebih kuat di kalangan responden yang berusia 18-34 tahun (63 persen) dibandingkan mereka yang berusia di atas 65 (50 persen).

Pekerja di bidang jasa dan industri hiburan yang paling merasakan dampak selama pandemi menghendaki pemerintah melindungi lapangan kerja, atau sebanyak 79 persen.

Pelonggaran perbatasan di Victoria

Laporan PwC ini muncul bersamaan dengan pembukaan negara bagian Victoria, dengan ibukota Melbourne, yang para pekerjanya mulai bersiap kembali ke kantor.

Mulai pukul 6 sore hari Jumat (26/03) nanti, batas kapasitas maksimal perkantoran sebanyak 75 persen tidak berlaku lagi sehingga semua pekerja boleh kembali bekerja di kantor seperti biasa.

Pegawai negeri akan diminta untuk bekerja di kantor paling tidak tiga hari dalam seminggu, dengan adanya pengecualian bila ada kondisi khusus, misalnya harus mengambil cuti mengurusi rumah tangga, atau mengalami cedera atau harus pindah ke tempat yang lebih jauh dari kantor.

Tanpa pekerja terampil dari luar, pekerja Australia harus dilatih kembali

Tim Rawlings salah seorang direktur di PwC Australia mengatakan dengan adanya penutupan perbatasan internasional, bisnis yang ada tidak bisa lagi mengandalkan pada migran yang terampil untuk mengisi lowongan kerja.

"Untuk memenuhi desakan perkembangan teknologi yang cepat tanpa adanya migran yang terampil, bisnis harus mengubah fokus ke peningkatan keterampilan para staf yang ada," katanya.

"Organisasi yang memberi pelatihan kepada staf mereka akan membangun budaya yang lebih kuat dan lebih percaya diri pada keberhasilan mereka di masa depan.

"Kita harus merencanakan masa depan yang dinamis, dan bukannya yang statis. Melatih kembali staf akan memberikan kesempatan baru sehingga bila satu pekerjaan hilang, mereka sudah siap dengan pekerjaan baru."

Menurut PwC, 75 persen karyawan di Australia siap mempelajari keterampilan baru untuk membuat mereka tetap bisa bekerja dan 72 persen mengatakan perlu memiliki keterampilan digital untuk melakukan tugas mereka.

Fokus ke kesehatan mental dan kesejahteraan

Menurut survei, masih banyak hal yang harus dilakukan terkait kesehatan mental dan kesejahteraan pribadi para pekerja.

Hanya 26 persen responden yang mengatakan mereka didorong untuk mengambil waktu istirahat selama bekerja.

"Pekerja harus berjuang di tengah pandemi, dan tantangan bagi pekerja adalah untuk tetap bisa produktif sementara di saat yang sama juga harus memerangi rasa kesepian karena bekerja sendiri," kata Dr Ben Harmer dari PwC Australia.

"Kami mendengar dari staf kami sendiri yang mengatakan bahwa beban kerja mereka meningkat selama pandemi dan ini juga terjadi di banyak organisasi lain.

"Ketika kita tidak bisa bertemu orang lain secara langsung, sulit untuk mengetahui masalah yang mereka hadapi. Khusus bagi mereka yang bekerja dari rumah, batas antara kerja dan kehidupan pribadi menjadi tidak jelas," katanya.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari artikel di ABC News (ita/ita)