'Ada Monster Baru', Kasus COVID-19 di Filipina Naik Sementara Vaksinasi Lambat

ABC Australia - detikNews
Senin, 22 Mar 2021 17:37 WIB
Jakarta - Sebagai tenaga kesehatan di garda terdepan, Dr Genalyne Maroon-Berzabal telah menyaksikan secara langsung lonjakan terbaru kasus COVID-19 di Filipina.

Dokter muda itu menjalankan klinik dokter anak di Manila, tetapi ketika pandemi melanda setahun yang lalu, dia mulai bekerja menangani pasien virus corona yang jumlah kasusnya meroket di rumah sakit pemerintah di kota itu.

"Jumlah pasien di rumah sakit meningkat dalam beberapa hari terakhir," katanya.

"Kapasitas di beberapa rumah sakit penuh."

Setelah menunggu dengan cemas, Dr Maroon-Berzabal akhirnya menerima vaksin COVID-19 dengan harapan akan melindunginya.

Ia adalah salah satu orang yang beruntung.

Pengiriman dan peluncuran vaksin yang lambat di Filipina membuat banyak petugas kesehatan lainnya harus menunggu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk mendapatkan giliran disuntik.

Sejauh ini Filipina menerima vaksin yang jumlahnya tidak cukup menyuntik 1 persen dari populasi.

Dengan jumlah saat ini artinya cakupan vaksinasi di Filipina belum akan terpenuhi sampai tahun 2023.

A young woman in glasses, face shield and mask and scrubs
Sejauh ini Filipina telah menerima cukup vaksin untuk 1 persen dari populasinya. Dr Genalyne Maroon-Berzabal adalah salah satu yang beruntung. (Supplied: Genalyne Maroon-Berzabal)

"Pasokannya sangat kecil, kita semua perlu melakukan vaksinasi secepat mungkin untuk menyelamatkan hidup kita," kata Dr Maroon-Berzabal.

Bersamaan dengan peluncuran program imunisasi massal di Filipina, ditemukan tanda-tanda yang mengkhawatirkan beberapa jenis baru virus corona yang lebih cepat menyebar dan memicu gelombang baru yang sangat besar.

Dalam sebulan terakhir, Filipina telah mencatat ratusan kasus varian B.1.1.7 yang pertama kali terdeteksi di Inggris dan 152 kasus varian B.1.351 dari Afrika Selatan.

"Ada monster baru," Presiden Filipina Rodrigo Duterte memperingatkan tentang varian Inggris.

"Saya benar-benar berdoa kepada Tuhan agar varian ini tidak lebih berbahaya dan tidak lebih beracun daripada COVID asli."

Minggu lalu, Flipina juga baru mengonfirmasi kasus pertamanya dari varian P.1 Brasil.

Para ilmuwan yakin mereka telah menemukan strain Filipina, yang dikenal sebagai P3, di wilayah Central Visayas.

Varian virus lokal baru telah "dikaitkan dengan kemungkinan peningkatan penularan dan lolos dari kekebalan, menurut hasil beberapa penelitian," demikian disampaikan UP Philippine Genome Center.

Ini adalah contoh nyata bahaya yang dihadapi negara-negara berpenghasilan rendah, yang jauh tertinggal dalam antrean vaksin global, tetapi pada saat bersamaan masih rentan dari jenis varian virus yang lebih menular.

Kasus virus corona di Filipina telah melonjak menjadi 656.056, dan mencatat hampir 13.000 kematian atau tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Indonesia.

Dalam beberapa hari terakhir ada 20.000 kasus baru di Filipina.

Jika tidak segera mengambil tindakan, para peneliti kesehatan memperingatkan jenis COVID-19 yang lebih menular akan menyebabkan penularan naik dua kali lipat menjadi 11.000 pada akhir Maret.

'Terus menyebar'

Dr Guido David, dari kelompok Riset OCTA di Universitas Filipina, mengatakan jumlah reproduksi virus, atau jumlah orang yang tertular dari satu pasien COVID-19, telah meningkat menjadi 2,03.

Pada tingkat itu, virus akan menyebar secara eksponensial jika tidak ada langkah konkret untuk menurunkannya.

Wabah terparah terjadi di wilayah ibu kota, termasuk Manila yang berpenduduk 13 juta orang dan termasuk kota terpadat di dunia.

A young woman in a black face mask talk to someone while they line up with other masked people
Wabah terparah di Filipina terjadi di Manila, yang adalah kota terpadat di dunia. (Reuters: Lisa Marie David

Pemerintah Filipina menyalahkan warga yang dinilai terlalu cepat puas dengan ukuran keamanan.

Tetapi ada kritikan kepada Pemerintah karena telah gagal berbuat lebih banyak untuk mengatasi pandemi dan malah melonggarkan pembatasan yang memungkinkan orang keluar rumah atau kembali bekerja, sebagai upaya memutar kembali roda ekonomi.

Dr David mengatakan jenis virus baru yang menyebar lebih cepat juga menjadi salah satu faktor utama.

"Varian virus ini menyebar lebih cepat," katanya.

"Kami juga melihat peningkatan jumlah kasus pediatrik, peningkatan jumlah anak-anak yang terinfeksi varian baru ini. Dan ini belum pernah kami lihat sebelumnya."

Dia mengatakan, para tenaga kesehatan mengalami penularan yang menjangkiti seluruh anggota keluarganya.

"Kami belum melihat keparahan infeksi yang meningkat ... atau jumlah kasus yang parah dan kritis. Tapi kami melihat ada lebih banyak infeksi, terutama pada anak-anak," katanya.

A man holds a spoonful of food to a little boy's face while an older boy watches
Florentino Jadion harus bertahan sebagai supir taksi agar keluarganya tetap bertahan, tetapi dia takut membawa pulang COVID-19 dan menularkannya kepada anak-anaknya. (ABC News)

Lonjakan infeksi keluarga mengkhawatirkan pengemudi taksi Manila, Florentino Jadion, yang memiliki lima anak, salah satunya punya masalah kesehatan yang serius.

Florentino saat ini bekerja sekitar 15 jam sehari untuk menafkahi istri dan anak-anaknya.

Ia khawatir bisa tertular virus dan membawanya ke keluarganya.

"Tidak peduli seberapa berhati-hatinya saya, saya tetap bisa tertular dari penumpang saya ketika saya melakukan proses pembayaran atau memegang uang mereka," kata Jadion.

"Itulah mengapa saya ingin segera divaksinasi demi keselamatan saya dan keluarga saya."

Orang Filipina sangat membutuhkan vaksin

Krisis yang berkembang menunjukkan kekurangan vaksin di Filipina.

Flipina adalah salah satu negara terakhir di Asia Tenggara yang mulai memvaksinasi warganya.

A woman in a facemask and wire rimmed glasses gets an injection from a nurse in her shoulder
Filipina saat ini hanya memiliki persediaan vaksin yang cukup untuk 1 persen dari populasinya. (Reuters: Lisa Marie David)

Program vaksinasi nasional secara resmi telah dimulai pada 1 Maret lalu.

Namun, Filipina baru memiliki sebagian kecil dari 150 juta dosis vaksin yang dibutuhkan untuk mencapai 'herd immunity' untuk penduduknya yang berjumlah 108 juta orang

Filipina sejauh ini baru menerima 1,1 juta dosis.

Sebanyak 600.000 dosis di antaranya adalah vaksin Sinovac yang disumbang oleh China, sementara 525.600 dosis lainnya didapat dari AstraZeneca melalui program COVAX.

Program tersebut dirancang untuk memastikan negara-negara miskin memiliki akses ke vaksin.

Pengadaan vaksin Pfizer, Moderna dan Novavax sedang dalam proses pemesanan, tetapi diperkirakan masih akan memakan waktu berbulan-bulan untuk sampai di Filipina.

Pemerintah Filipina telah berupaya untuk membuat kesepakatan dengan sejumlah pembuat vaksin lain dalam persaingannya dengan negara-negara lain yang lebih kaya.

"Beberapa negara kaya mendapat prioritas pertama," kata Dr David.

"Beberapa negara telah mendapatkan pasokan lebih dari jumlah yang mereka butuhkan. Dan saat ini Filipina jelas belum mendapatkan pasokan yang cukup untuk kebutuhan kami."

Lonjakan infeksi, ditambah dengan vaksinasi yang lambat, telah memicu kekhawatiran akan terjadinya 'lockdown' yang berkepanjangan sebagai satu-satunya cara mengatasi wabah terbaru.

Pemberlakuan lagi Lockdown menimbulkan ketakutan warga Filipina

A woman in a red sarong and face mask walks through a narrow street
Pemerintah Filipina mengatakan lockdown yang lebih luas dan lebih ketat dapat diberlakukan jika kasus terus meningkat. (AP: Aaron Favila)

Filipina telah mengalami salah satu 'lockdown' terpanjang dan tersulit di dunia tahun lalu, ketika pandemi pertama kali dimulai.

Kebijakan itu memaksa orang untuk tinggal di rumah selama berbulan-bulan, menutup toko dan bisnis, serta membatasi perjalanan ke luar negeri.

Pekan lalu, pihak berwenang memberlakukan larangan baru terhadap orang asing dan beberapa warga negara yang memasuki negara itu hingga akhir April.

Beberapa perkampungan di wilayah ibu kota telah diisolasi, sementara wilayah lain memberlakukan jam malam selama dua minggu.

Pemerintah minggu ini memperingatkan kemungkinan 'lockdown', meskipun akan kembali berdampak pada kehidupan warga.

Perekonomian Filipina mencatat rekor penurunan pada tahun 2020 karena pandemi.

A man in a face mask cleans the inside of a vehicle with a spray bottle and towel
Zaldy Mundero takut virus COVID-19, tetapi menurutnya lockdown kedua dapat membuat dia dan keluarganya melarat. (ABC News)

Zaldy Mundero, 58 tahun, mengandalkan jeepney-nya, atau bus bergaya terbuka khas Manila, sebagai sumber mata pencahariannya selama dua dekade terakhir.

Saat situasi sedang baik, dia bisa memenuhi kebutuhannya.

Tetapi saat 'lockdown' ketat tahun lalu, dia dilarang mengangkut penumpang setidaknya selama empat bulan dan harus berjuang untuk bertahan hidup.

Zaldy mengatakan 'lockdown' yang kedua akan menghancurkannya.

"Sulit untuk mencari pekerjaan atau makanan untuk saya dan anak-anak saya," katanya.

"Kadang-kadang saya harus meminjam uang dari sepupu saya. Saya akan meminta uang untuk membeli makanan. Jika lockdown terjadi, kami tidak akan punya apa-apa lagi untuk dimakan."

Artikel ini diproduksi oleh Hellena Souisa dari artikel ABC News dalam Bahasa Inggris. (ita/ita)