All England 'Kurang Seru' Tanpa Tim Bulutangkis RI, Apa yang Bisa Dipelajari?

ABC Australia - detikNews
Jumat, 19 Mar 2021 16:29 WIB
Jakarta -

Tahun ini tim Indonesia mundur dari turnamen All England di Birmingham yang merupakan ajang yang paling bergengsi bagi cabang bulu tangkis.

Laporan ini telah dikonfirmasi oleh Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang menyebut alasan saat tim Indonesia terbang ke dari Istanbul ke Birmingham, terdapat penumpang yang dinyatakan positif COVID-19.

Tim Indonesia mendarat di kota Birminingham, Sabtu pekan lalu (13/03) dan karena ada satu penumpang positif COVID-19, badan yang memberikan layanan kesehatan di Inggris, atau NHS, melakukan pelacakan siapa saja penumpang yang ada dalam pesawat tersebut.

Selain tim Indonesia, Neslihan Yigit, pemain bulu tangkis putri asal Turki juga diketahui berada di dalam penerbangan yang sama.

Akibat satu penumpang yang positif COVID-19, seluruh tim Indonesia harus menjalani karantina selama 10 hari dan menyebabkan semua pemain Indonesia tidak bisa lagi bertanding, seperti yang disampaikan Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF).

Dalam konferensi pers, Ketua PBSI, Agung Firmansah Sampurna mengatakan mundurnya Indonesia dari All England tahun ini "sudah tidak masuk akal".

Para pencandu bulu tangkis di Indonesia menyampaikan kekecewaannya di jejaring sosial atas laporan ini.

Sementara itu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste, Owen Jenkins mengatakan hal ini "sangat disayangkan" karena Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang paling berbakat di cabang olahraga ini.

Namun, dalam pernyataannya mereka juga mengatakan Inggris, seperti halnya negara lain, menerapkan aturan kesehatan yang ketat juga "adil dan transparan", termasuk terkait COVID-19.

Dari pengalaman saya tinggal di Inggris dari tahun 1994-2010, aturan di negara tersebut ditegakkan sesuai dengan yang sudah diputuskan.

Apalagi, di tengah situasi Inggris yang mementingkan kesehatan dan nyawa manusia, jika isolasi itu adalah langkah terbaik yang harus dilakukan, maka keputusan itu tidak bisa ditawar-tawar.

Belajar dari turnamen tenis Australia Terbuka

Turnamen All England merupakan salah satu turnamen bulu tangkis tertua di dunia, yang sama bergengsinya dengan turnamen Grandslam di cabang olahraga tenis.

Tetapi dengan sumber daya dan infrastruktur yang lebih besar, tenis sudah membentuk tradisi yang lebih kuat dalam menyelenggarakan turnamen, termasuk mengantisipasi perubahan di tengah pandemi.

Salah satu turnamen Grandslam yang baru saja dilangsungkan di tengah pandemi adalah Australia Terbuka di Melbourne, yang bisa dikatakan berhasil karena tetap berlangsung hingga selesai, meski saat itu Melbourne sempat memberlakukan 'lockdown' singkat selama lima hari.

Insiden yang terjadi di All England terjadi juga di Australia terbuka, saat empat kasus positif COVID-19 terdeteksi di penerbangan sewaan yang membawa pemain dan pelatih tenis menuju Melbourne.

Tapi salah satu hal yang membedakan antara penyelenggaraan Australia Terbuka dan All England adalah aturan karantina bagi kedatangan pemain.

Australia menerapkan aturan karantina yang ketat, setiap pendatang dari luar negeri harus menjalani karantina selama 14 hari.

Karenanya, sebagian pemain kemudian harus menjalani karantina selama 14 hari di dalam kamar hotel tanpa boleh keluar, termasuk di antaranya finalis di tunggal putri Jennifer Brady dari Amerika Serikat.

Jennifer Brady looks back and clenches her fist, Naomi Osaka hits a shot
Walau harus menjalani karantina selama 14 hari Jennifer Brady maju ke final tunggal putri Australia Terbuka walau kalah dari Naomi Osaka dari Jepang. (AP: Andy Brownbill/AAP: Dave Hunt)

Namun karena mereka memiliki cukup waktu, semua pemain bisa tetap turun bertanding.

Dalam pertandingan bulu tangkis, pemain tidak bisa melakukan karantina yang lebih lama sebelum turnamen.

Turnamen Grandslam berlangsung selama dua minggu, sementara turnamen bulu tangkis biasanya hanya berlangsung selama 4-5 hari.

Kemungkinan besar, panitia turnamen tidak bisa mendatangkan pemain 10 hari di muka karena akan menghabiskan biaya yang begitu besar hanya untuk pertandingan yang hanya berlangsung selama lima hari.

Ini juga yang menurut saya menyebabkan tahun ini tim dari Korea Selatan, China dan Taiwan memutuskan untuk tidak mengikuti All England.

Selain itu, ada banyak faktor yang bisa mengganggu perjalanan dan konsentrasi bertanding.

Karena masalah logistik yang lebih rumit, panitia dan induk organisasi bulutangkis Badminton World Federation (BWF) menerapkan aturan yang berbeda dengan harapan masalah seperti yang dialami tim Indonesia tidak akan muncul.

Pelajaran penting bagi tim Indonesia

Bisa dipahami mengapa tim Indonesia merasa dirugikan dan merasa jadi korban, mengingat persiapan yang sudah dilakukan dengan sebaik mungkin sebelum tiba di Birmingham.

Indonesia juga telah memiliki sejarah panjang dengan All England.

Sudah menjadi tradisi, kejuaraan All England ini adalah salah satu turnamen yang harus diikuti oleh pemain Indonesia.

Di tengah pandemi, tindakan pencegahan agar bebas COVID-19 juga telah dilakukan oleh pemain, salah satunya dengan menjalani vaksinasi sebanyak dua kali.

Tetapi ada hal lain yang terjadi di luar dugaan: tim bulu tangkis Indonesia berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.

Mereka berada di dalam pesawat yang salah satu penumpangnya kemudian terdeteksi positif COVID-19.

Ini akan menjadi pelajaran berharga bagi tim Indonesia di masa mendatang karena masih banyak turnamen yang akan diselenggarakan di tengah pandemi termasuk Olimpiade Tokyo pada bulan Juli.

"Kita akan mengambil situasi ini sebagai referensi untuk Olimpiade Tokyo, karena ada banyak yang bisa dipelajari dan adapsi soal aturan di tengah pandemi COVID-19," ujar Raja Sapta Oktohari dari Komite Olimpiade Indonesia menanggapi insiden di All England.

Salah satu hal yang mungkin perlu mendapat perhatian adalah bagaimana melakukan perjalanan ke satu tempat pertandingan.

Sejak tahun 1990 saya banyak meliput pertandingan bulu tangkis tim bulu tangkis Indonesia di luar negeri.

Walau bulu tangkis adalah olahraga perseorangan, menjadi kebiasaan bagi para pemain untuk melakukan perjalanan bersama dalam satu rombongan besar.

Di masa lalu hal seperti itu mungkin tidak menjadi masalah. Tapi di saat yang tidak menentu seperti pandemi COVID-19 saat ini, alternatif lain perlu diperhatikan.

Hal lainnya adalah persiapan dan membawa dokumen selengkap mungkin mengenai riwayat kesehatan, seperti vaksinasi yang bisa dijadikan bukti bahwa mereka sudah menjalani seluruh proses kesehatan yang diperlukan.

Selain itu, karena situasi yang terus berubah, pemain atau pengurus PBSI dan cabang olahraga lainnya sebaiknya juga mempelajari dengan cermat aturan kesehatan yang kerap berubah di negara lain.

Sejumlah petenis dunia saat tiba di Melbourne untuk Australia Open kemarin juga mengaku tidak tahu aturan seluruh penumpang akan dikarantina dua minggu jika ada penumpang positif COVID-19,

Meskipun sudah diberitahu sebelumnya, tapi ternyata mereka mengaku tidak membacanya dengan baik.

Sejumlah petenis dunia saat itu banyak mengeluh, tapi mereka tetap diminta untuk mengikuti aturan soal karantina.

Rudy Hartono pernah menjadi juara All England sebanyak delapan kali sebagai bagian dari keikutsertaan Indonesia di turnamen bergengsi di Inggris ini.
Rudy Hartono pernah menjadi juara All England sebanyak delapan kali sebagai bagian dari keikutsertaan Indonesia di turnamen bergengsi di Inggris ini.

Foto: All England

Yang pasti, All England menjadi 'kurang seru'

Karena para pemain Indonesia tidak boleh bertanding, termasuk unggulan pertama di ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo yang difavoritkan untuk merebut gelar, banyak yang merasa kecewa.

Dalam reaksinya beberapa pecinta bulu tangkis di Indonesia bahkan menuduh adanya usaha menjegal Indonesia untuk menjadi juara.

Saat saya meliput turnamen All England setiap tahunnya di Wembley Arena maupun di Birmingham, kehadiran pemain-pemain Indonesia memang selalu dinantikan.

Walau Indonesia tidak lagi dominan seperti di tahun 1970-an atau tahun 1980-an, namun prestasi pemain Indonesia di turnamen ini selalu menjadi salah satu daya tarik utama kejuaraan ini.

Lawan utama mereka bukanlah pemain-pemain Inggris, tapi musuh klasik seperti Denmark, Malaysia, Korea Selatan dan China.

Karenanya Duta Besar Inggris di Indonesia juga mengatakan dalam pernyataannya kemarin (18/03), All England jadi "kurang seru, kurang menghibur, dan kurang kompetitif tanpa Indonesia".

(ita/ita)