Vaksin COVID-19 Bisa Mengubah Genetik Manusia? Ini Penjelasan Pakar

ABC Australia - detikNews
Kamis, 04 Mar 2021 09:34 WIB
Jakarta - Dalam Bahasa Inggris | Dalam Bahasa Mandarin

Saat warga Australia yang paling berisiko tertular virus corona sudah siap menerima vaksin, sejumlah pakar memperingatkan beredarnya informasi menyesatkan di jejaring sosial, termasuk di kelompok multikultural di Australia.

KP Misinformasi COVID-19

  • Pakar mengatakan "sangatlah tidak benar" vaksin mRNA dapat bersatu dengan DNA seseorang
  • Departemen Kesehatan mengatakan pihaknya sedang bekerja sama dengan kelompok penasihat CALD
  • Pakar Studi Islam mengatakan belum tentu 100 persen warga mau divaksinasi meski sudah diberikan informasi

Salah satu kasus informasi yang salah soal vaksin bisa ditemukan di jejaring sosial asal China, 'WeChat, menyebutkan vaksin mRNA, contohnya Pfizer, dapat menyatu dengan DNA dan membuat mereka jadi "orang yang genetiknya diubah".

Menurut beberapa akun yang ditemukan ABC, unggahan informasi seperti ini sudah disebarkan di lima kelompok 'WeChat', di mana lebih dari 2.000 warga China di Australia membahas berbagai informasi soal pandemi dan COVID-19.

Penyebaran pesan seperti ini juga telah terjadi dalam kelompok orang yang mengaku sebagai pakar kesehatan dan menggunakan bahasa akademis untuk mengacu pada "penelitian ilmiah" yang tidak berdasar, seperti 'Nature'.

"Ini yang saya harapkan dibandingkan memutuskan untuk tidak divaksinasi karena sesuatu yang dilihat di media sosial."

Meskipun media milik China telah beberapa kali menyanggah soal informasi yang beredar dan mengklarifikasi jika hal tersebut adalah informasi yang salah, tapi upaya mereka seringkali terlambat dilakukan.

Penyebabnya adalah informasi tersebar sangat cepat di WeChat, karena komunitas China aktif melakukan percakapan di platform ini.

Yang Bingqing, ketua dari kelompok sukarelawan cek fakta bagi warga China di Australia, mengatakan informasi yang salah muncul di "hampir semua kelompok chat" yang diikutinya di 'WeChat'.

"Saya merasa [kelompok chat tersebut] membingungkan bagi seseorang yang tidak berlatar belakang ilmu medis," katanya.

ABC sudah menghubungi 'WeChat' untuk meminta komentar soal misinformasi yang terjadi di platform mereka.

Namun seberapa serius warga percaya pada informasi seperti ini? Dan ketika bahasa Inggris menjadi hambatan bagi warga pendatang serta ketidakpercayaan pada Pemerintah Australia menyebabkan banyak yang tak percaya, apa yang bisa dilakukan untuk memastikan mereka mendapat informasi yang benar?

Vaksin menjadi DNA 'sama sekali tidak benar'

Badan pengawas obat-obatan Australia untuk sementara waktu telah mengizinkan penggunaan dua vaksin untuk kelompok rentan, salah satunya adalah Pfizer, yang merupakan vaksin mRNA pertama dan satu-satunya yang diterima untuk digunakan di Australia.

Vaksin mRNA, yang merupakan singkatan dari 'messenger RNA' bekerja setelah untai DNA disuntik pada sel manusia.

Sel tersebut kemudian menggunakan untai itu sebagai denah untuk membangun protein spike yang ditemukan di permukaan virus SARS-CoV-2.

Setelah beberapa hari, mRNA kemudian diuraikan.

Dr Archa Fox, dosen kepala jurusan biologi RNA di University of Western Australia, mengatakan pesan yang tersebar di WeChat tersebut "sama sekali tidak benar".

Ia mengatakan tidak mungkin vaksin mRNA dapat menjadi bagian dari DNA dalam genom kita.

"Ibaratkan DNA adalah buku resep. Dan RNA adalah kertas kecil berisi oretan," katanya.

"Kita tidak bisa mengambil potongan kertas kecil ini dan menempelkannya pada buku besar. Bahannya berbeda. Tidak cocok. Hal demikian tidak terjadi di sel kita."

Menurutnya, jutaan orang di dunia sudah menerima vaksin RNA hingga saat ini dan belum menunjukkan bukti dari pernyataan ini.

Ia pun menekankan bahwa informasi yang salah justru malah menyebabkan kelompok yang paling berisiko menolak untuk divaksinasi.

"Hal ini akan menimbulkan risiko bagi pihak bersangkutan dan orang-orang tercintanya," katanya.

Kelompok relawan cek fakta tidak cukup besar untuk penuhi komunitas

Dr Alexandra Grey adalah seorang peneliti University of Sydney yang mempelajari efektivitas pesan pemerintah terhadap komunitas multikultural Australia.

Ia mengatakan informasi yang salah dalam bahasa tertentu dapat secara signifikan mempengaruhi kepercayaan publik terhadap informasi kesehatan.

"Khususnya dalam hal komunikasi tentang kesehatan, di mana perubahan perilaku diharapkan terjadi, kita ingin pembaca kita percaya pada apa yang kita katakan," ujar Dr Grey kepada ABC.

"Ini menjadi alasan lain mengapa kita perlu memakai bahasa yang berbeda-beda, sebanyak mungkin, untuk menjangkau kelompok-kelompok berbeda di Australia."

Menurutnya, tindakan ini akan menyampaikan "sesuatu yang baru dan simbolis berkaitan dengan inklusi dan kepercayaan".

ABC telah berbicara pada puluhan warga dari komunitas Asia di jalanan kota Sydney minggu lalu.

Mayoritas dari mereka yang memiliki bahasa Inggris sebagai bahasa kedua merasa kesulitan mengakses informasi kesehatan publik dalam bahasa mereka sendiri.

Beberapa orang mengkonfirmasi jika mereka telah menemukan informasi yang salah soal vaksin di media sosial, seperti Facebook, Instagram, dan WeChat.

Yang Bingqing mendirikan kelompok cek fakta di WeChat di masa awal pandemi April lalu, ketika berita bohong dan disinformasi terkait COVID-19 sedang hangat-hangatnya menyebar di komunitas China di Australia.

Pusat cek fakta tersebut kini telah mempekerjakan lebih dari 600 warga China-Australia yang menawarkan bantuan di dua kelompok WeChat dan meluruskan misinformasi ketika dibutuhkan.

Namun, Yang mengatakan mereka masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan komunitas dan meminta agar pemerintah pusat Australia menyediakan pusat cek fakta untuk menyebarkan informasi akurat dalam bahasa berbeda bagi komunitas multikultural.

"Saya pikir Pemerintah Australia perlu menyediakan lebih banyak informasi [dalam bahasa masing-masing] yang akurat dan membuatnya mudah diakses," katanya.

Sebuah penelitian yang diadakan oleh Edith Cowan University juga menemukan informasi yang disediakan oleh Pemerintah Australia sejauh ini masih "terlalu sulit untuk dimengerti oleh warga Australia".

Penelitian berbeda yang diterbitkan minggu ini oleh tim peneliti pimpinan UNSW juga menemukan tantangan ketika menyebarkan informasi kepada kelompok multikultural di tengah pandemi.

Di dalam penelitian tersebut, disebutkan keterlambatan dalam menerjemahkan informasi kesehatan dan kesulitan dalam menavigasi situs pemerintah.

Walau demikian, kekhawatiran terkait ketepatan dan konsistensi pesan terus muncul.

Peneliti mengatakan komunikasi dapat diperbaiki dengan mengenali dan memberikan pelatihan pada perwakilan komunitas dan mempekerjakan petugas yang memiliki kemampuan dua bahasa.

Selain itu, peneliti juga mengusulkan diadakannya dokumen sumber yang "sudah dikembangkan dan diperiksa oleh komunitas yang ditargetkan sebelum diterjemahkan untuk memastikan agar jelas dan sesuai dengan kebudayaan mereka".

Seorang juru bicara dari Departemen Kesehatan Australia mengatakan di samping dari kampanye informasi publik tentang vaksinasi COVID-19 dengan anggaran sebesar A$31juta, di samping dari anggaran untuk menjangkau komunitas multikultural senilai A$1,3juta.

"Kampanye Vaksin Nasional meliputi iklan yang diterjemahkan ke dalam 32 bahasa bagi audiens multikultural melalui radio, print, dan media sosial, termasuk WeChat dan Weibo, serta tersedia di situs kesehatan," ujarnya.

"Departemen [Kesehatan] juga akan menggunakan media sosial lain untuk menjangkau komunitas multikultural."

Jaringan komunitas di luar kampanye vaksin nasional

Seorang juru bicara Departemen Kesehatan Australia mengatakan kepada ABC selain kampanye soal vaksinasi COVID-19 senilai AU$31 juta dari pemerintah, senilai AU$1,3 juta telah dialokasikan untuk organisasi budaya untuk membantu menjangkau komunitas dari beragam budaya.
"Kampanye Vaksin Nasional mencakup iklan yang diterjemahkan dalam 32 bahasa untuk pendengar dari beragam budaya di radio, media cetak dan sosial, termasuk WeChat dan Weibo dan tersedia di situs web kesehatan," kata mereka.

"Departemen Kesehatan juga sedang menjajaki saluran media sosial lain untuk menjangkau komunitas multikultural."

"Bekerja sama dengan Departemen Kesehatan Australia, SBS telah membuat video, menjelaskan vaksin dan keamanan, proses persetujuan, kelompok prioritas, dan cara tetap mendapat informasi."

Meskipun Departemen Kesehatan telah memberikan informasi terkait vaksin COVID-19 dalam lebih dari 60 bahasa di situsnya, mereka melupakan satu kelompok populasi yang cukup besar, misalnya satu-satunya bahasa yang tersedia untuk komunitas warga asal Pasifik adalah bahasa Samoa, padahal ada banyak bahasa lainnya dari kawasan ini.

Hal ini mengkhawatirkan bagi Rita Seumanutafa, yang bertugas di Kelompok Penasihat Kesehatan COVID-19 Komunitas yang Beragam Budaya dan Bahasa dan membantu berbagi pesan tentang program vaksinasi COVID-19.

"Orang-orang kami mendapatkan berita mereka dari unggahan Facebook," kata Rita kepada program Pacific Beat dari Radio ABC.

"Ada postingan copy-paste anti-vaxxer yang beredar saat ini ... tidak ada nasihat ini yang berasal dari profesional medis, tetapi saya tahu orang-orang kita akan membacanya kata demi kata."

Dalam Bahasa Inggris | Dalam Bahasa Mandarin

Ikuti berita seputar pandemi Australia dan lainnya di ABC Indonesia

Simak juga 'Dua Lansia di Korsel Meninggal Usai Disuntik Vaksin AstraZeneca':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)