Perusahaan Tambang di Australia Saling Bersaing Mencari Insinyur Terampil

ABC Australia - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 20:04 WIB
Canberra -

Di tengah pandemi COVID-19 permintaan hasil tambang dari Australia malah semakin meningkat dengan harga tinggi di pasar dunia. Namun banyak perusahaan mengalami kekurangan pekerja.

  • Permintaan hasil tambang Australia mendorong meningkatnya kebutuhan pekerja di sektor pertambangan
  • Salah satu perusahaan tambang menyatakan pihaknya kini mempertimbangkan untuk memberi tawaran lebih menarik agar bisa mendapatkan tenaga kerja yang dibutuhkan
  • Penutupan perbatasan internasional mempersulit usaha mendatangkan pekerja dari luar negeri untuk kontrak jangka pendek

Akibatnya, terjadi persaingan di antara perusahaan tambang untuk mendapatkan pekerja dari dalam maupun luar Australia.

Harga emas, biji besi, tembaga dan timah sekarang sedang tinggi-tingginya walau perekonomian di banyak negara melesu karena adanya pandemi COVID-19 yang sudah dimulai tahun lalu.

Direktur operasional perusahaan tambang Glencore Queensland Metals, Matt O'Neill, mengatakan saat ini ketersediaan insinyur pertambangan baik dari lulusan baru maupun yang sudah ada sangat terbatas.

"Kami melihat banyak orang dihubungi dan mereka dijanjikan promosi," kata O'Neil.

Pertambangan Glencore di kawasan Mount Isa mempekerjakan paling banyak orang di kota berpenduduk 18 ribu jiwa dan terletak sekitar 900 km ke pedalaman dari Townsville.

Biasanya para pekerja tinggal di kota dan banyak di antara para insinyur pertambangan ini bekerja dari Senin sampai hari Jumat dengan tambahan hari libur setiap dua minggu.

Namun tawaran semacam ini belum mampu menarik minat orang untuk bekerja di sana. Sebanyak 200 lowongan kerja terbuka di Glencore sekarang ini, sebagian besar mencari insinyur pertambangan.

Menurut O'Neil, Mount Isa Mines harus berpikir ulang mengenai strategi mereka dalam menarik pekerja baru.

A man in a pink high visibility work shirt smiles at the camera.

Direktur Operasional Glencore Matt O'Neill mengatakan banyak perusahaan sekarang menawarkan promosi bagi pekerja trampil yang mau pindah. (ABC News: Harriet Tatham)

"Kami lihat tahun lalu banyak pekerja yang mau melakukan shift yang fleksibel seperti kerja di pedalaman atau di mana hanya bekerja satu minggu dalam sebulan di lokasi tambang," katanya.

"Tawaran seperti ini sekarang menjadi hal yang normal dan itulah yang sedang kami pelajari saat ini."

Kekurangan tenaga kerja dari luar negeri

Dewan Perusahaan Pertambangan Australia di tahun 2018 sudah memperingatkan berkurangnya mahasiswa jurusan pertambangan di Australia. Hanya ada 50 orang yang lulus universitas setiap tahunnya.

Gavin Lind dari dewan tersebut mengatakan banyak perusahaan tambang di Australia kesulitan mencari tenaga kerja karena ditutupnya perbatasan internasional ke dan dari Australia.

"Kekurangan insinyur ini sekarang menjadi masalah karena kami tidak bisa mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri," kata Gavin Lind.

"Yang bisa kami lakukan dulunya adalah mendatangkan tenaga dari luar negeri di saat kita membutuhkannya. Itu juga bukan solusi permanen."

Ia mengatakan industri pertambangan masih bisa beroperasi dengan baik sekarang dengan perkiraan penutupan perbatasan internasional hanya akan sementara, dan tetap akan mengikuti apa yang direncanakan pemerintah.

"Masih ada mekanisme dispensasi khusus, khususnya bila kita harus melakukan perawatan yang sudah dijadwal atau penutupan operasi mendadak, kita harus mendatangkan orang dari luar," katanya.

Beberapa universitas di Australia sudah melakukan perubahan drastis dengan meningkatkan penerimaan mahasiswa jurusan ilmu-ilmu pertambangan.

Gavind Lind mengatakan mereka bekerja sama dengan beberapa universitas dalam membantu perubahan kurikulum.

Diproduksi oleh Sastra Wijaya dari artikel ABC News.

Simak video 'Australia Cabut Kewarganegaraan Warganya Bila Terlibat Terorisme':

[Gambas:Video 20detik]



(nvc/nvc)