Setiap Hari 3 Ribu Orang Meninggal, Korban COVID di AS Lampaui Setengah Juta

ABC Australia - detikNews
Selasa, 23 Feb 2021 19:45 WIB
Washington DC -

Sulit rasanya mencerna apa yang terjadi di Amerika Serikat saat ini. Di waktu yang sama tahun lalu belum ada satu orang pun yang meninggal karena virus Corona.

Dua belas bulan kemudian, 500 ribu warganya sudah meninggal dunia, padahal menurut Presiden Donald Trump dalam pidatonya di televisi ketika itu virus ini akan segera menghilang.

Angka setengah juta orang itu sulit untuk membayangkannya dalam bentuk apapun.

Bagi sebagian orang ini mungkin sekedar angka yang akan berlalu begitu saja dari ingatan, angka yang tidak berarti bagi mereka yang belum menjadi korban.

Berbagai media di Amerika sudah mencoba menggambarkan jumlah korban dengan melakukan beberapa perbandingan.

Mulai dari jumlah kematian akan sama dengan jumlah penduduk di kota besar seperti Atlanta atau Sacramento, sampai dengan jumlah korban bisa membuat Taman Makam Pahlawan Arlington penuh.

Yang lain membandingkan dengan jumlah korban dalam perang dunia atau perang lainnya di mana Amerika Serikat pernah terlibat.

Jumlah korban karena COVID-19 ini sekarang sudah melampaui korban warga AS yang terlibat dalam perang dunia 1 dan 2 dan juga Perang Vietnam.

Elizabeth adalah salah satu dari 500 ribu

Keluarga Carrie English adalah termasuk dari jutaan orang di seluruh dunia yang berduka setelah mendapat sentuhan mematikan virus tersebut.

A woman with dark hair and eyes smiles next to a girl with blue eyes and blonde hair.

Carrie kehilangan putri terkecilnya Elizabeth yang baru berusia 12 tahun bulan Desember lalu ketika penyebaran COVID sangat tinggi di AS. (AP: Jae C. Hong)

Putri termudanya, Elizabeth yang berusia 12 tahun meninggal tahun lalu ketika wabah Corona ini menjalar dengan cepat di Amerika Serikat.

"Dia orangnya periang, rambutnya pirang, mata biru, anak pintar, lucu, dan selalu tersenyum," kata Carrie.

"Tanggal 4 Desember adalah hari pertama ketika dia mengatakan tidak enak badan. Tanggal 7 Desember dia masuk rumah sakit, dan tanggal 9 Desember dia meninggal dunia."

Elizabeth menjalani tes COVID-19 tiga kali dan semuanya negatif, sehingga rumah sakit mencoba menemukan antibodi di dalam tubuhnya.

Hasil tes menunjukkan dia positif, namun hasil itu datang terlalu terlambat baginya untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

"Suasananya kacau sekali. Sepertinya mereka tidak tahu sama sekali. Dia tidak mendapat diagnosis resmi sampai dia diotopsi, jadi kami meninggalkan rumah sakit tidak tahu apa penyebab kematiannya," kata Carrie.

Elizabeth meninggal karena sindroma pembengkakan multisistem atau dikenal dengan MIS-C, kondisi yang sebenarnya jarang terjadi dimana berbagai bagian dalam tubuh mengalami pembengkakan.

Pusat Pencegahan Penyakit Menular (CDC) Amerika Serikat mengatakan masih belum mengetahui apa yang menjadi penyebab terjadinya MIS-C, namun banyak anak-anak yang mengalami MIS-C juga terkena virus atau pernah berdekatan dengan orang yang memiliki virus.

Sudah ada lebih dari 2.000 ribu kasus MIS-C di Amerika Serikat.

"Sedih sekali bahwa banyak nyawa hilang yang menimbulkan kesedihan mendalam bagi banyak orang. Ini seperti gelombang yang menerpa, menerjang dan menciptakan korban besar," kata Carrie English.

Bagaimana bencana ini bisa terjadi di Amerika Serikat?

Untuk memahami ini, kita harus menengok kembali ke belakang.

Ketika musuh yang tidak terlihat ini mencapai daratan Amerika Serikat, negeri ini sedang dalam masa menjelang pemilu dengan masa jabatan Presiden Trump yang berjalan dari hari ke hari yang sudah diprediksi apa yang diperbuat.

Di saat para pejabat kesehatan memperingatkan adanya bahaya virus tersebut, pemerintahan Trump menganggap remeh.

Saya masih ingat di hari ketika presiden naik ke podium mengumumkan bahwa Amerika Serikat akan melarang perjalanan dari Eropa mulai 12 Maret.

Di saat itulah tampaknya Amerika Serikat betul-betul menyadari betapa seriusnya keadaan.

Namun saat itu virus COVID-19 ini sudah berada di sana selama beberapa bulan.

Yang terjadi adalah sebagai sebuah negara, sebagian besar penduduk Amerika Serikat tidak sadar atau mungkin naif mengenai kemungkinan pandemi yang akhirnya mencapai berbagai pelosok negeri yang besar ini.

Wakil Editor Majalah Foreign Policy James Palmer baru-baru ini mengatakan "Bagi banyak warga Amerika, bencana adalah sesuatu yang terjadi pada orang lain, bukan pada diri mereka sendiri".

Banyak warga Amerika tidak terbiasa bahwa apa menjadi pemberitaan bisa mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

Tidak ada negara lain yang memiliki korban kematian karena pandemi sebanyak Amerika Serikat.

Banyak warga mengenakan masker dan hanya berdiam di rumah saja namun banyak yang lainnya tidak perduli.

Meski jumlah korban terus menanjak dengan cepat, menjelang hari libur Thanksgiving bulan November 2020, jutaan masih melakukan perjalanan walau sudah diberi peringatan.

Beberapa anggota Kongres beraliran konservatif di internet mengatakan berencana mengadakan pertemuan besar-besaran tanpa mengindahkan petunjuk mengenai social distancing.

Puluhan ribu orang tetap menghadiri pertemuan setelah Trump kalah dalam penghitungan suara namun belum resmi, dan mereka beberapa kali masih mendatangi ibukota Washington DC.

Tingkat harapan hidup menurun

Baru setelah dua belas bulan sejak kasus pertama tingkat kematian di Amerika Serikat mencapai puncaknya.

Seratus ribu orang meninggal di bulan Januari 2021, di tengah musim dingin yang sangat buruk tahun ini.

Rata-rata 3.100 orang meninggal setiap harinya selama bulan tersebut, ini berarti setiap 28 detik ada yang meninggal.

Jumlah korban setiap hari sama besarnya dengan jumlah korban dalam serangan 11 September 2001.

Hanya diperlukan waktu lima minggu bagi tercapainya 100 ribu kematian.

Tingkat harapan hidup di Amerika Serikat turun satu tahun dalam paruh pertama tahun 2020, ini penurunan tertinggi sejak Perang Dunia kedua.

Alasan utama: Kematian karena COVID-19.

Tingkat harapan hidup sekarang adalah 77,8 tahun, turun satu tahun dari 78,8 tahun di 2019.

Bagi laki-laki, penurunan yang terjadi adalah 1,2 tahun ke angka 75,1. Bagi perempuan turun ke angka 80,5, turun 9 bulan.

Mereka yang angka harapan hidup paling turun adalah warga kulit hitam tapi bukan berdarah Latin, dengan tingkat harapan hidup turun tiga tahun.

Mereka yang keturunan Latin juga menurun tingkat harapan hidupnya sebanyak 2,4 tahun.

Selama pandemi, warga keturunan Afrika dan Latin dua kali lebih banyak yang meninggal dibandingkan warga kulit putih.

Dengan adanya presiden baru Joe Biden dan program vaksinasi, keadaan membaik dengan tingkat penularan dan kematian menurun drastis selama minggu terakhir.

Namun tantangan yang baru adalah bagaimana mencegah menyebarnya varian baru dari virus tersebut dan dalam waktu bersamaan membangun kembali perekonomian di sana.

Diproduksi oleh Sastra Wijaya dari artikel dalam bahasa Inggris di sini

(nvc/nvc)