Seperti Apa Dunia Tanpa Layanan Google? Mungkin Kita Bisa Berkaca dari China

ABC Australia - detikNews
Selasa, 02 Feb 2021 12:03 WIB
Jakarta -

Pekan lalu Google mengusulkan sesuatu yang tak mengejutkan: mengancam menarik layanan pencariannya atau 'Google Search' dari Australia, jika Pemerintah Australia mengesahkan undang-undang yang ditujukan kepada perusahaan internet raksasa tersebut.

Perseteruan Pemerintah Australia dengan Google berawal dengan adanya wacana aturan yang meminta Google membayar kantor berita untuk setiap berita yang ditampilkan pada hasil pencariannya.

Direktur Google Australia, Mel Silva berpendapat rancangan undang-undang tersebut akan menciptakan "risiko keuangan dan operasional yang tidak dapat dikelola" bagi usaha bisnisnya.

Undang-undang yang diusulkan, dengan nama 'News Media Barganing Code' juga akan meminta Google untuk membuat perjanjian komersial dengan setiap outlet berita, jika tidak, akan dipaksa melakukan arbitrasi.

Ini bukan pertama kalinya Google berada dalam situasi seperti ini.

Pada tahun 2010, Google dan perusahaan teknologi lainnya menjadi sasaran serangan dunia maya yang "sangat canggih dan terarah" asal China dan dilaporkan didukung oleh Pemerintah China.

Serangan itu membuat Google menutup layanannya di China karena diharuskan mematuhi aturan sensor yang berlaku di China.

Akibatnya lebih dari 900 juta pengguna internet di China, atau setara dengan 20 persen pengguna internet aktif di seluruh dunia, tidak dapat mengakses Google dengan mudah.

Apa yang pernah terjadi di China bisa jadi contoh jika Google menghentikan layanannya di Australia atau negara-negara lainnya.

Apa yang terjadi dengan Google.cn?

A sign saying Not OK Google #Dontbeevil is held up in front of a crowd of protesters

Sejumlah pengamat menilai Google menjadi contoh praktik monopoli dalam teknologi. (Koleksi pribadi)

Namun praktik ini kemungkinan besar akan berdampak besar pada hasil penelusuran yang diandalkan oleh ribuan bisnis Australia.

Jika Google memblokir pengguna Australia berdasarkan lokasi geografis mereka, Yang mengatakan warga Australia masih dapat menggunakan VPN, yang sudah digunakan oleh beberapa orang yang paham teknologi untuk melakukan streaming konten yang lokasinya diblokir.

"Warga Australia tidak perlu khawatir tentang itu, karena selalu ada solusi di masa depan," kata Yang.

"Sejujurnya … kasus antara Pemerintah Australia dan Google menjadi contoh yang bagus untuk merefleksikan monopoli dalam teknologi."

Dr Jiang menekankan penting untuk diingat jika "perhatian utama yang dikedepankan oleh Google bukanlah demokratisasi", tetapi mereka sendiri.

"Saya pikir kebanyakan orang akan menyadari betapa naifnya menganggap teknologi Barat membawa keterbukaan dan demokrasi ke masyarakat yang otoriter," kata Dr Jiang.

"Ini belum benar-benar berhasil di China, juga tidak berhasil bahkan di Amerika Serikat."

ABC telah menghubungi Google Australia untuk memberikan komentar.

Artikel ini diproduksi oleh Erwin Renaldi dari laporannya dalam Bahasa Inggris

(ita/ita)