Kota Perth Langsung Lockdown Begitu Ditemukan Satu Kasus COVID-19

ABC Australia - detikNews
Senin, 01 Feb 2021 17:48 WIB
Jakarta -

Kota Perth dan sejumlah wilayah lainnya di Australia Barat memberlakukan lockdown sejak hari Minggu kemarin (31/01), setelah ditemukan satu kasus positif COVID-19.

  • Kota Perth dan sejumlah wilayah Australia Barat memasuki masa lockdown lima hari sejak hari Minggu
  • Pemerintah mengambil tindakan ini setelah ditemukan satu kasus COVID-19 pada seorang penjaga hotel karantina
  • Orang itu dikhawatirkan telah terinfeksi varian baru virus corona dari Inggris yang lebih cepat menular

Terhitung sejak pukul 18:00 waktu setempat kemarin, Perth, wilayah Peel, dan wilayah Barat Daya Australia Barat menjalani 'lockdown' selama lima hari.

Mereka tidak diperkenankan keluar rumah, kecuali dengan empat alasan: berbelanja untuk keperluan makanan dan sehari-hari, mendapat perawatan kesehatan atau berobat, bekerja jika tidak bisa dilakukan dari rumah, dan berolahraga di lingkungan sekitar rumahnya dengan hanya satu orang lainnya selama paling lama satu jam.

Satu kasus positif diketahui berasal dari seorang pekerja di sebuah hotel karantina yang ditujukan bagi warga Australia yang pulang dari luar negeri.

Pelacakan kontak dari pria yang terinfeksi telah dilakukan beberapa jam sebelum lockdown dan hingga kini masih berlangsung.

Hasil dari tes genom dari kasus ini kemungkinan bisa diketahui hari ini atau besok, namun pihak berwenang memperkirakan pria ini terinfeksi varian baru dari Inggris.

Ia terinfeksi saat bertugas di hotel karantina yang menampung seorang pasien positif.

Sejalan dengan itu, tes massal terhadap warga di sekitar lokasi yang terpapar juga telah dilakukan kemarin.

Pelacakan kontak langsung dilakukan

A woman uses the SafeWA app on an iPhone at a cafe in East Perth.

Penjaga hotel karantina yang terinfeksi COVID-19 merekam setiap pergerakannya melalui aplikasi SafeWA. (Google Maps)

Petugas penjaga hotel karantina diketahui memiliki pekerjaan lain sebagai supir di salah satu perusahaan berbagi tumpangan.

Menteri Utama Australia Barat, Premier Australia Barat Mark McGowan kemarin memastikan pria itu tidak menjalankan pekerjaan keduanya saat terinfeksi virus.

"Masukan yang saya terima menyebutkan jika ia tidak bekerja lagi sejak tertular virus," kata Premier McGowan.

"Kami belum tahu bagaimana pria ini tertular virus di hotel. Kita semua tahu virus ini berbahaya, sangat mudah menular," ujarnya.

Premier McGowan sempat dicecar pertanyaan, mengapa pihaknya tidak belajar dari kasus karantina hotel di negara bagian Victoria, dimana penjaga keamanan yang memiliki pekerjaan lain merupakan suatu kesalahan serius.

Ia berdalih bahwa sangat sulit untuk mengawasi dan memastikan seseorang tidak melakukan pekerjaan sampingan.

Optimis dapat dikendalikan

Ketua Asosiasi Medis (AMA) Australia Barat Dr Andrew Miller mengaku kecewa dengan terjadi penularan dalam komunitas namun memuji tanggapan yang diambil Pemerintah.

"Kami akan mengetahui apakah Australia Barat bisa menangani pelacakan kontak ini. Cukup bagus karena mereka bergerak cepat," ujarnya.

"Kami memuji Pemerintah, karena mereka terbuka tentang keadaan ini. Langkah selanjutnya sekarang yaitu memastikan hal dilacak dan dikendalikan," kata Dr Miller.

Ia menyebutkan saran dari AMA agar pemerintah negara bagian meningkatkan sistem karantina sebelumnya telah diabaikan.

"Secara khusus kami telah sampaikan agar fasilitas karantina ini tidak digunakan untuk keperluan lain, serta perlunya perlindungan dari penularan melalui udara bagi orang-orang yang bekerja di situ," katanya.

"Itulah salah satu cara penyebaran dari virus ini," kata Dr Miller.

Pihak Asosiasi Medis, katanya, juga mendorong dilakukannya tes yang tepat terhadap orang-orang yang bekerja di hotel karantina serta melarang mereka ini bekerja di tempat lain.

"Kita akhirnya mengalami situasi ini, yang akan menimbulkan gangguan bagi orang banyak, namun kami optimis kita dapat mengendalikannya," ujarnya.

Saat ini tes COVID-19 telah dilakukan setiap hari kepada setiap orang yang bekerja di hotel karantina.

Namun Dr Miller menyarankan agar pemerintah terus meningkatkan kapasitas tes COVID-19 saat ini.

"Saya pikir kita ingin mengatasi varian virus ini dalam waktu 24 jam. Jadi aneh kalau tesnya hanya sampai jam 10 malam," katanya.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News

(ita/ita)