Tenaga Kesehatan di Indonesia Berjuang Antara Selamatkan Pasien dan Keluarga Sendiri

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 30 Jan 2021 16:28 WIB
Jakarta -

Sudah tiga bulan dokter muda Nadhira Anindita Ralena dikarantina di salah satu tower di kawasan Wisma Atlet Kemayoran Jakarta.

Dr Dita mengatakan sehari-hari ia bisa merawat sekitar 150 pasien yang dirawat di rumah sakit darurat di wisma tersebut.

"Sebelum tahun baru, Tower 6 dan 7 Wisma Atlet menampung sekiranya 1.000-an pasien. Lepas tahun baru, 2.500 pasien hampir terlampaui," kata dr Dita.

"Peningkatan penumpukan pasien COVID itu nyata sekali di rumah sakit dan itu membuat tenaga kesehatan kelelahan."

"Sejawat saya mulai kelelahan, bahkan ada yang jatuh sakit. Jumlah pasien terus meningkat dengan jumlah tenaga kesehatan yang malah berkurang. Kami benar-benar jungkir balik dua minggu ini." katanya lagi.

Dr Nadhira Anindita Ralena menjalani karantina di kompleks Wisma Atlet Kemayoran karena pekerjaannya.

Dr Nadhira Anindita Ralena menjalani karantina di Rumah Sakit Darurat COVID Wisma Atlet Kemayoran selama tiga bulan di tengah pekerjaannya di sana. (Koleksi pribadi)

Di Yogyakarta, Dr Sri Aminah, berusia 61 tahun, adalah dokter spesialis anak yang pernah menjadi Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yogyakarta.

Dr Sri mengatakan suaminya yang juga seorang dokter di bidang telinga, hidung, dan tenggorokan, serta dua sopir keluarnya pernah dinyatakan positif COVID-19.

"Saya dan anak saya dokter yang sedang mengambil spesialis kardiologi di RSUP Dr Sardjito yang sejauh ini negatif," katanya dalam perbincangan dengan Sastra Wijaya dari ABC Indonesia.

"Suami saya masih praktek di rumah sakit, dan tiap hari masih keluar rumah untuk belajar dan diskusi selama beberapa jam," katanya.

Sementara dirinya masih melakukan praktek dari rumah dan selalu berhati-hati dengan protokol kesehatan.

"Saya punya keyakinan bahwa suatu saat akan terjangkit COVID, karena kurang disiplin dengan protokol kesehatan dan juga berinteraksi dengan komunitas yang tidak taat protokol kesehatan." tambah Dr Aminah lagi.

Dr Aminah yang berpengalaman menangani masalah kesehatan di medan konflik di luar negeri menegaskan Indonesia sudah seharusnya menyatakan negara dalam keadaan darurat COVID-19, sehingga protokol kesehatan lebih diperketat.

"Banyak sekali hambatan untuk menerapkan protokol kesehatan. Pengawasan yang tidak ketat," katanya

"Orang banyak yang melakukan kegiatan seperti biasa, berkerumun. Harusnya ada hukuman yang tegas bagi mereka yang tidak mematuhi." katanya.

Dr Aminah mengatakan kampanye 5 M, yakni mencuci tangan, menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilisasi harus betul-betul serius dilakukan.

"Ini harus menjadi gaya hidup sekarang, bukan dilihat sebagai penderitaan. Ini semua harus kita terima, alam sedang berubah dan manusia juga harus menyesuaikan diri," jelasnya.

Melihat hampir ambruknya sistem layanan kesehatan di berbagai rumah sakit di Indonesia, Dr Sri Aminah mengatakan dia bersama dengan kelompok relawan yang ada di Yogyakarta sedang berusaha membuat tempat isolasi mandiri yang bisa digunakan oleh pasien COVID yang tidak tertampung di rumah sakit.

"Hari ini saya akan rapat dengan beberapa teman relawan. Saya akan mencari kasur, karena kami sudah memiliki tempat namun masih perlu berbagai peralatan," katanya dalam percakapan dengan ABC Indonesia, Kamis kemarin.

"Kita harus bergotong royong untuk membantu sejauh yang kita bisa lakukan. Saya sebagai dokter akan membantu dengan daftar alat-alat kesehatan apa yang diperlukan."

(ita/ita)