'Tak Sampai 10 Detik', China Terapkan Tes Swab COVID-19 Melalui Lubang Anus

ABC Australia - detikNews
Jumat, 29 Jan 2021 13:51 WIB
Jakarta -

Pemerintah China menerapkan langkah baru yang ketat, termasuk melakukan tes swab anal melalui lubang anus, di tengah melonjaknya kasus COVID-19 menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.

  • Melakukan tes swab melalui lubang anus menimbulkan perdebatan di kalangan pakar kesehatan China
  • Pemerintah menerapkan tes ini bagi mereka yang menjalani karantina di hotspot penularan COVID-19
  • Masa karantina bagi pendatang ke China diperpanjang menjadi satu bulan

Mereka yang dianggap perlu mendapatkan pengawasan ketat yaitu para pendatang dari luar negeri.

Mereka diharuskan menjalani empat tes yaitu tes darah, swab melalui hidung, tenggorokan, dan melalui lubang anus.

"Menerapkan tambahan swab melalui anal akan meningkatkan pendeteksian infeksi dan mengurangi kekeliruan diagnosis," kata Li Tongzeng, direktur asosiasi penyakit pernapasan dan infeksi pada Rumah Sakit You'an di Beijing.

Kepada media pemerintah Central Chinese Television, Dr Li mengatakan karena swab anal lebih menimbulkan rasa tak nyaman hanya diperuntukkan bagi mereka yang menjalani karantina di kawasan hotspot penularan COVID-19, termasuk distrik Daxing di Beijing.

Seorang warga dari kota Tangshan mengatakan kepada media setempat jika tes swab anal yang ia jalani "agak memalukan" tapi semuanya demi kebaikan sendiri.

"Tes berlangsung tak sampai 10 detik. Jadi bisa ditoleransi," ujarnya.

Douyacai, seorang mahasiswa yang baru kembali dari Korea Selatan, telah menjalani swab anal di Beijing pada hari ke-14 karantina.

Dalam postingan di salah satu media sosial, Douyacai menyebut dirinya dites dua kali melalui lubang anus.

"Rasanya sangat malu. Tidak ada perasaan lain. Selamat menjalani," tulis Douyacai.

Winny, seorang mahasiswa yang kuliah di Australia, mengaku telah menjalani swab anal ini saat berada dalam karantina di kota Guangzhou.

Selain swab mulut, katanya, ia juga menjalani swab anal pada hari ke-12 karantina.

Dr Sanjaya Senanayake smiles.

Dr Sanjaya Senanayake menyebut pemerintah China tampaknya ingin mendeteksi sebanyak mungkin kasus COVID-19. (AP: Ng Han Guan)

Di Beijing, pemerintah kota telah melarang semua pertemuan massal, termasuk perayaan Tahun Baru Imlek di kuil dan acara olahraga.

Tempat-tempat hiburan, seperti bioskop dan tempat hiburan lainnya hanya boleh beroperasi dengan kapasitas 75 persen.

Mereka yang melanjutkan perjalanan pada tahun 2021 harus menunjukkan hasil tes COVID-19 negatif yang diambil tujuh hari sebelum perjalanan.

China mencatat peningkatan harian terendah dalam kasus COVID-19 dalam lebih dari dua minggu pada hari Rabu, menunjukkan langkah-langkah ketat yang diterapkan mulai berhasil.

Komisi Kesehatan Nasional menyebutkan ada 75 kasus baru pada 26 Januari, turun dari 82 sehari sebelumnya.

Dari 75 kasus tersebut, 50 kasus adalah penularan lokal, dan 20 sisanya diklasifikasikan sebagai kasus impor.

Secara total, China sejauh ini mencatat 89.272 kasus virus corona dengan 4.636 kematian.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

(ita/ita)