Raih Penghargaan, Greg Fealy Ingin Makin Banyak Orang Australia Berbahasa Indonesia

ABC Australia - detikNews
Kamis, 28 Jan 2021 13:13 WIB
Jakarta -

Pakar politik Islam Indonesia Dr Greg Fealy mendapat penghargaan dari Pemerintah Australia karena dianggap berjasa memperkuat hubungan Australia dengan Indonesia.

Setiap peringatan 'Australia Day' di tanggal 26 Januari, Pemerintah Australia memberikan penghargaan bernama 'Order of Australia', yang tahun ini diberikan kepada 845 warga di Australia yang dinilai telah memberikan inspirasinya.

Salah satunya adalah Dr Gregeory John Fealy, atau akrab dengan nama Greg Fealy, seorang 'associate professor' di Australian National University (ANU) yang juga warga di Canberra.

Ia mendapat penghargaan 'Member in the General Division' karena peran signifikannya terhadap sektor pendidikan tinggi dan hubungan Australia-Indonesia.

"Saya meneliti tentang Indonesia dan hubungan Australia-Indonesia karena saya memiliki minat yang sangat besar untuk memahami Indonesia dan memastikan kedua negara bisa menjalin hubungan terbaik," ujar Profesor Greg.

"Jadi saya sangat mengharapkan agar semakin banyak orang Australia bisa berbahasa Indonesia dan bisa memahami sejarah, politik dan kebudayaan Indonesia," katanya kepada Farid M. Ibrahim.

Greg fealy

Profesor Greg Fealy menilai Australia lebih baik jika merasa dekat ke kawasan Asia Tenggara, seperti Indonesia, bukannya ke negara-negara barat. (Istimewa)

Bagaimana Pak Greg melihat perkembangan di Indonesia saat ini, dari segi demokrasi dan segi lainnya?

Saya salah satu pengamat Indonesia yang merasa prihatin, karena saya menganggap bahwa kualitas demokrasi Indonesia merosot.

Merosot karena pemerintah tidak melindungi HAM dan suara-suara yang ingin mengecam pemerintah semakin tertekan oleh aparat.

Kita bisa lihat baru-baru ini ada larangan atas FPI. Sebelumnya HTI dibubarkan.

Saya bisa memahami kekhawatiran pemerintah Indonesia mengenai kegiatan tertentu oleh FPI, tetapi menurut saya belum ada kasus yang kuat bahwa organisasi itu pantas untuk dibubarkan saja.

Saya kira pembubaran itu agak represif dan punya konsekuensi yang negatif bagi masa depan sistem demokrasi di Indonesia.

Komunitas Islamis dalam masyarakat Indonesia sangat besar dan dalam sistem demokrasi mereka bisa menyuarakan aspirasi-aspirasinya, walaupun tidak disukai oleh orang lain.

Kalau mereka melanggar hukum, ya jelas harus ditindak dengan tegas.

Tetapi kalau belum ada pelanggaran besar, justru susah untuk menjustifikasi pembubaran organisasi seperti FPI itu.

Kalau kita melihat survei dari berbagai pihak, seperti Freedom House, itu semuanya menilai bahwa demokrasi Indonesia sedang menurun.

Hal apa yang paling berkesan bagi Pak Greg selama menggeluti studi tentang Indonesia?

Lengser keprabon Presiden Soeharto.

Saya masih ingat dengan jelas semua kejadian dalam bulan-bulan itu, karena sebelumnya itu ada ekspektasi Soeharto akan bertahan lama sekali, mungkin sampai umur 90 tahun. Tapi itu kejadian yang dramatis.

Kemudian, saya juga sangat terkesan dengan pengerahan massa 212, karena dalam sejarah Indonesia belum pernah ada mobilisasi sebesar itu oleh kelompok Islamis bersama kelompok lain yang cukup beragam dan ikut dalam protes itu.

Saya kira ini adalah fenomena yang kami belum bisa pahami dengan betul, perlu penelitian lebih banyak.

Menurut saya, ini adalah salah satu indikator bahwa Islam yang lebih konservatif itu menguat, tetapi juga ada faktor politik yang turut menciptakan situasi itu.

Saya dan beberapa orang lain sedang menjajaki fenomena 212 karena hal ini sangat penting untuk memahami sejarah politik kontemporer Indonesia.

Ikuti berita menarik lainnya dari Australia hanya di ABC Indonesia

(ita/ita)