Sejumlah Potensi Masalah Setelah Vaksinasi COVID-19 Dimulai di Indonesia

ABC Australia - detikNews
Kamis, 14 Jan 2021 13:10 WIB
Jakarta -

Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama yang menerima vaksin COVID-19 di Indonesia, bersama dengan sejumlah perwakilan dari kalangan pejabat publik, tenaga kesehatan, tokoh agama dan tokoh publik lainnya.

CoronaVac, vaksin buatan Sinovac resmi digunakan setelah Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengumumkan persetujuan penggunaan darurat vaksin, Senin kemarin (11/01).

Berdasarkan hasil uji klinis di Indonesia, vaksin yang dikembangkan di China ini mencatat tingkat efikasi 65,3 persen.

Dalam keterangannya, BPOM juga menyampaikan potensi efek samping dari vaksin, seperti sakit kepala, gangguan pada kulit, nyeri otot, dan demam, namun dianggap "bukan berbahaya" dan "dapat pulih kembali".

Sebelumnya, Jumat pekan lalu (08/01) Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menetapkan vaksin virus corona buatan Sinovac tersebut halal untuk digunakan.

Potensi masalah vaksinasi COVID-19 di Indonesia

Peneliti Biomolekuler dari Australian National University (ANU) dan Direktur Utama Lipotek Australia, Dr Ines Atmosukarto kepada ABC Indonesia mengatakan target Presiden Jokowi yang meminta agar vaksin bisa selesai kurang dari setahun tidak bisa dipaksakan.

Rumah sakit penuh

Twitter: @jokowi: Sejumlah petugas memberikan pelayanan kepada warga di Rumah Sakit Darurat (RSD) Covid-19, Kemayoran, Jakarta.

Vaksin bukan solusi pandemi, 5M harus terus dijalankan

Sebagai bagian dari kelompok prioritas penerima vaksin, beberapa tenaga kesehatan yang berbicara dengan ABC Indonesia mengaku siap dan tidak mengkhawatirkan keamanan vaksin Sinovac.

"Bagi saya pribadi, efikasi vaksin menjadi tidak begitu penting banget. Saya takutnya setelah vaksin ini, protokol kesehatannya menjadi kendur," tutur dr Andika.

Dr Dicky Budiman mengatakan keberhasilan program vaksinasi dalam situasi wabah sangat bergantung pada efektifitas program tes, telusur, isolasi, dan karantina yang ditunjang strategi 5M (mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, membatasi mobilisasi, menjauhi kerumunan) dengan komunikasi risiko yang tepat.

"Sangat penting pemerintah melakukan program testing, tracing, isolasi, karantina serapi, sekonsisten, dan seserius program vaksinasi."

Ini senada dengan pendapat Dr Ines Atmosukarto.

"Kita tetap harus mengurangi mobilitas sosial kita, kita tetap harus pakai masker, dan saat ini aku rasa pakai masker, enggak peduli mau indoor atau outdoor, tetap saja harus pakai masker di Indonesia dengan melihat angka yang [tinggi] begitu," pungkas Ines.

(ita/ita)