Mengapa Efikasi Vaksin COVID-19 Sebesar 50 Persen Bukanlah Hal yang Buruk?

ABC Australia - detikNews
Kamis, 14 Jan 2021 13:01 WIB
Jakarta -

Jumlah kematian akibat COVID-19 di dunia mendekati angka dua juta jiwa dan semakin banyak negara yang mulai melakukan program vaksinasi.

Indonesia telah memulai program vaksinasi Rabu kemarin (14/01), Presiden Joko Widodo menjadi orang pertama di Indonesia yang mendapat suntikan vaksin COVID-19 buatan Sinovac.

Menurut petunjuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap perusahaan pembuat vaksin harus memastikan tingkat efikasi vaksin mereka sekurang-kurangnya adalah 50 persen.

Angka ini sudah dicapai oleh pembuat vaksin yang dibuat di beberapa negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris dan Jerman.

Sebagian besar warga Australia akan menerima vaksin Oxford-AstraZeneca, yang akan bisa diproduksi di dalam Australia sehingga ada kemungkinan jika dilakukan terhadap seluruh warga maka akan tercapai kekebalan massal.

Namun sampai saat ini tidak ada satupun vaksin yang bisa memastikan tercapainya kekebalan massal, atau 'herd immunity', termasuk di Indonesia.

Vaksin yang sudah disetujui digunakan di beberapa negara sejauh ini hanya bisa mengurangi tingkat keparahan ketika terkena COVID-19 dan masih belum diketahui apakah mereka yang divaksin tidak akan terkena sesudahnya.

Tidak diketahui juga apakah mereka yang sudah divaksin akan tidak bisa menyebarkan virus ke yang lain, serta berapa lama mereka mendapat perlindungan.

Meski masih ada ketidakjelasan, banyak negara sudah memesan jutaan vaksin yang memiliki tingkat efikasi yang berbeda.

Target efikasi 50 persen terlihat tidaklah tinggi, beberapa pakar mengatakan hal tersebut, dan mungkin tidak akan cukup untuk mengembalikan dunia ke keadaan normal seperti sebelum COVID-19.

Jadi mengapa muncul target efikasi 50 persen tersebut? Apa yang dimaksudkan dengan tingkat efikasi vaksin?

Apa yang disebut sebagai tingkat efikasi dan juga tingkat efektivitas?

A black woman in a face mask sits while a black doctor with black hair tied in a bun injects her.

Tingkat efikasi dan tingkat efektivitas vaksin merupakan dua hal yang berbeda. (ABC News Glyn Jones)

Baik Dr McVernon dan Dr Esterman menekankan dibutuhkan waktu untuk bisa melihat tingkat efektivitas vaksin.

Dalam situasi bukan pandemi, Dr McVernon mengatakan persetujuan mengenai vaksin untuk penyakit tidak mendesak memerlukan waktu yang lama, kadang sampai 20-30 tahun dari proses awal sampai bisa diproduksi masal.

Dia mengatakan banyak faktor yang menjadi pertimbangan pihak regulator sebelum memberi persetujuan, antara lain seberapa parah penyakit tersebut, biaya untuk menangani penyakit tersebut, dan tentu saja tingkat efikasi, biaya dan efek samping.

Di tengah keadaan dunia seperti sekarang ini, Dr McVernon mengatakan pihak regulator harus mempertimbangkan ancaman COVID-19 terhadap penduduk dunia secara keseluruhan.

"Kadang tingkat efikasi setinggi mungkin menjadi tidak penting dibandingkan melakukan vaksinasi untuk sebanyak mungkin orang," katanya.

"Bila hanya ada satu vaksin yang memiliki tingkat efektivitas 50 persen dan berguna, maka tentu kita ingin segera menggunakannya sambil menunggu yang lebih baik lagi."

"Kriteria untuk bisa dapat vaksin yang terbaik akan terus meningkat karena penyakit COVID-19 akan semakin menyebar ke seluruh dunia."

"Virus ini tidak akan menghilang begitu saja dalam waktu dekat."

ABC sudah berusaha meminta komentar dari WHO.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dan lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita)