Warga Australia Bantu Bali dengan Buat Buku Resep Masakan dari Warung di Bali

ABC Australia - detikNews
Selasa, 12 Jan 2021 16:10 WIB
Jakarta -

"Semakin sedikit yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinan ia akan memberi ke yang lain."

Inilah pelajaran hidup yang dirasakan oleh koki asal Australia, Dean Keddell yang memiliki restoran di kawasan Seminyak Bali, setelah melihat hancurnya perekonomian Bali karena menurunnya pariwisata di tengah pandemi COVID-19.

"Biasanya restoran akan penuh, ramai, dengan orang, dengan kembang api, banyak kegiatan terjadi namun tidak tahun ini," kata Dean kepada ABC.

Angka resmi menunjukkan hanya ada 900 kasus aktif corona saat ini di Bali dan Dean melihat dampaknya langsung dari kursi-kursi di restoran yang kosong dan juga jalan-jalan yang tidak ramai dengan turis lagi.

"Ketika COVID-19 mulai menyebar, jumlah turis asing yang membatalkan perjalanan meningkat dan kami mulai panik," kata Dean.

"Saya tetap buka selama tiga bulan namun saya tidak terus seperti ini dan harus merumahkan karyawannya. 95 persen staf adalah warga Bali. Saya melihat mereka sebagai keluarga sendiri dan sekarang mereka hanya bisa menunggu panggilan untuk kerja dari saya."

Dean melihat banyak warga yang harus kembali ke desa asal mereka, tinggal bersama keluarga, bertani lagi untuk bertahan hidup.

A man in black is surrounded by people in white with a huge stainless steal kitchen behind them.

Koki dan staf di salah satu restoran Dean Keddell di Seminyak Bali sebelum pandemi terjadi. (Supplied)

Banyak orang yang berharap proyek ini akan berhasil termasuk diantaranya Margaret.

Dia sadar jika bahwa penjualan buku akan bisa mendanai pembelian makanan dan dana yang digunakan badan amalnya akan kembali lagi ke masyarakat.

"Ada begitu banyak warga lokal yang menjadi bagian dari organisasi kami. Kami ada 16 orang staf, guru, mereka yang magang dan mereka yang mengantarkan makanan," katanya.

"Warga membantu pengiriman, kami membeli bahan lokal dan ada dukungan warga yang kuat."

"Kami membayar staf yang bekerja dengan beras. Ini menjadi cara pembayaran baru."

Warga Australia lainnya, David Booth memiliki badan amal bernama Proyek Kemiskinan Bali Timur (East Bali Poverty Project) berkenaan dengan pembangunan berkelanjutan dengan membantu warga Bali di pedesaan dengan air bersih, toilet dan makanan.

Namun dengan tingkat pengangguran yang meningkat, memberikan bantuan makanan sekarang menjadi prioritas.

"Saat ini paket makanan adalah yang paling penting," katanya.

"Di bulan Desember saya menghabiskan dana yang sebenarnya tidak saya miliki dan sekarang di bulan Januari saya harus membayar untuk distribusi makanan. Banyak anak-anak yang kekurangan gizi."

Bagi Dean perjalanan pembuatan buku ini telah memberikan banyak pengalaman berharga bagi dirinya.

Banyak warga Bali yang bersedia berbagi resep makanan dan menghabiskan waktu dan keahlian mereka, kemudian ada juga pembeli yang sudah mengirimkan uang agar buku tersebut bisa dicetak.

Namun ucapan terima kasih terbesar Dean adalah bagi warga Bali yang ditemuinya.

"Saya jadi mengerti pendapat bahwa semakin sedikit yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinannya dia memberikannya kepada yang lain."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dan lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita)