WHO ' Kecewa' China Belum Keluarkan Izin Untuk Tim Pemeriksa Asal Usul COVID-19

ABC Australia - detikNews
Kamis, 07 Jan 2021 09:52 WIB
Jakarta -

Kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan ia "kecewa" karena pejabat China belum menyelesaikan izin untuk memperbolehkan tim ahli ke China untuk memeriksa asal-usul COVID-19.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan anggota tim sains internasional mulai berangkat dari negara asal mereka sejak Selasa kemarin (5/01), seperti yang sudah diatur oleh WHO dan Pemerintah China.

"Hari ini, kami mengetahui jika para pejabat China belum menyelesaikan izin yang diperlukan untuk kedatangan tim di China," kata Dr Tedros dalam konferensi pers di Jenewa.

"Saya sangat kecewa dengan berita ini," ujarnya.

"Mengingat dua anggota telah memulai perjalanan mereka dan yang lainnya tidak dapat melakukan perjalanan di saat-saat terakhir, tetapi sudah melakukan kontak dengan pejabat senior China," katanya.

Dr Tedros mengatakan ia "sudah membuat jelas" jika misi ke China adalah prioritas bagi badan kesehatan PBB.

Ia juga sebelumnya "yakin jika China mempercepat prosedur internal untuk melakukannya sesegera mungkin".

"Kami sangat ingin menjalankan misi ini secepat mungkin," katanya.

Workers in protective suits walk past the Hankou railway station.

Kota Wuhan di China diyakini menjadi tempat berasalnya virus corona yang kini telah menjadi wabah di seluruh dunia. (AP: Ng Han Guan)

Para ahli yang berasal dari seluruh dunia tadinya berencana mengunjungi kota Wuhan, yang diduga sebagai tempat pertama kali munculnya virus corona, lebih dari setahun lalu.

Michael Ryan, kepala darurat WHO, mengatakan kunjungan diharapkan akan dimulai pada hari Selasa, tetapi persetujuan yang diperlukan, seperti visa, belum diberikan.

"Kami berharap ini hanya masalah logistik dan birokrasi yang bisa diselesaikan dengan sangat cepat," tambah Dr Ryan.

Australia memimpin seruan awal untuk penyelidikan asal-usul virus di China, sebuah langkah yang meningkatkan ketegangan dengan China.

'Politik tak akan hentikan penyelidikan'

Ilmuwan Australia Dominic Dwyer, yang akan bergabung dengan tim beranggotakan 10 orang ke China, mengatakan kepada ABC jika ia tidak akan membiarkan politik menghalangi penyelidikan.

"Sebagai seorang dokter dan ilmuwan, saya pikir politik memperumit mendapatkan jawaban," kata Profesor Dwyer.

"Jadi saya lebih suka mengesampingkannya dan membiarkan orang lain memperdebatkan hal itu."

Profesor Dwyer, seorang ahli mikrobiologi di Westmead Hospital di Sydney, mengatakan penyelidikan nantinya akan menemukan beberapa jawaban, meski tidak semuanya.

"Menemukan hewan asli atau 'pasien nol' mungkin sangat sulit jika bukan tidak mungkin," katanya.

"Tapi saya yakin kita pasti akan menemukan jawaban untuk beberapa pertanyaan, dan pengalaman saya jika kita duduk dengan kolega kita di mana saja, dan kita menghormati kemampuan satu sama lain, kita benar-benar bisa mendapatkan jawabannya.

"Ilmuwan China, mereka ingin tahu jawabannya juga."

Profesor Dwyer mengatakan tim sains international ini nantinya akan mengumpulkan dan membangun pengetahuan yang sudah didapat oleh otoritas China sebelumnya.

"Jelas pihak China telah melakukan banyak pekerjaan untuk mencoba memahami apa yang terjadi," katanya.

"Jadi, ini masalah meninjau apa yang telah mereka lakukan sejauh ini, menanyakan pendapat mereka tentang apa yang mungkin terjadi sesuai pengetahuan mereka dan bekerja dengan mereka untuk membantu mengisi kekosongan dari yang belum diketahui."

Badan kesehatan PBB pernah menerima kritikan tajam dari Presiden Donald Trump dan pejabat di Amerika Serikat lainnya karena WHO dituduh telah memberikan penghormatan dan pujian berlebihan kepada China soal bagaimana menangani virus korona di awal pandemi.

Pihak WHO juga pernah melakukan pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping saat pandemi dimulai.

Virus corona telah dilaporkan melanda di lebih dari 210 negara sejak pertama kali dilaporkan di China pada Desember 2019.

Artikel ini diproduksi oleh Erwin Renaldi dari laporannya dalam bahasa Inggris

Ikuti perkembangan terkini soal pandemi virus corona di dunia hanya diABC Indonesia

Reuters

(ita/ita)