Seorang Pria Meninggal Sendirian, Orang yang Tak Dikenal Hadiri Pemakamannya

ABC Australia - detikNews
Selasa, 05 Jan 2021 09:11 WIB
Jakarta -

Belasan orang, di antaranya orang asing dan orang terakhir yang dilihatnya, menghadiri prosesi pemakaman kecil dan sederhana dari seorang pria berusia 82 tahun di Australia Utara.

Beberapa dari mereka menganggap peristiwa tersebut cukup aneh sekaligus mengharukan, karena harus mengucap selamat tinggal pada seseorang yang tidak pernah mereka kenal.

Ini semua bermula dari suatu siang di bulan November tahun lalu, ketika seorang pria lanjut usia mengunjungi toko barang bekas bernama 'St Vincent de Paul' di Darwin dan meminta relawan di sana untuk memanggilkan ambulan.

Karena pernah mengikuti Pelatihan Pertolongan Pertama, para relawan pun mengerti bahwa pria tersebut sedang sakit parah.

Akhirnya mereka melakukan apapun yang bisa dilakukan sebelum menemani pria tersebut berteduh di bawah pohon terdekat.

Namun, dalam waktu beberapa menit, pria tersebut meninggal dunia.

"Peristiwa ini membuat sukarelawan kami dan saya sendiri berpikir bahwa pria tersebut datang ke Vinnies karena tahu bahwa kami pasti akan menolongnya," ujar manajer St Vincent de Paul Australia Utara, Fay Gurr.

Kejadian tersebut membuat para relawan tertarik untuk mengenal lebih jauh tentang orang asing ini.

Menurut catatan medis dan percakapan dengan karyawan rumah sakit, Fay akhirnya menemukan nama pria tersebut, yaitu Arpad Kiss.

"Ini adalah nama Hungaria. Ia adalah seorang pemeluk Katolik. Ia sudah tinggal di Australia Utara selama beberapa tahun," ungkapnya.

"Ia mungkin bukan tunawisma ketika datang ke kami, namun sempat tidak punya rumah. Dan ia memang sudah punya masalah kesehatan."

The St Vincent de Paul op shop on Westralia Street in Stuart Park.

Arpad yang berusia 82 tahun mengunjungi toko ini sebelum meninggal dunia beberapa saat kemudian. (ABC News: Dane Hirst)

Uskup Katolik Charles Gauci di Darwin mengundang para hadirin untuk sekilas berinteraksi dengan Arpad, dengan menundukkan kepala dan berdoa.

"Ia meninggal dengan sangat terhormat," ujar Uskup Charles kepada ABC.

Uskup Charles mengajak para hadirin untuk membayangkan pemakaman mereka suatu hari dan memikirkan apa yang mereka harapkan akan dikatakan tentang mereka, dan bagaimana ini berpengaruh terhadap kehidupan saat ini.

"Kami memilih untuk melakukan apa yang baik, penuh kasih, dan berbudi luhur," katanya.

"Momen ini menjadi refleksi yang baik untuk kita semua, namun juga adalah sebuah bentuk ekspresi cinta dan kepedulian pada sesama saudara."

Diproduksi oleh Natasya Salim dari artikel dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.

Ikuti berita seputar pandemi Australia dan lainnya di ABC Indonesia.

(ita/ita)