Banyak Pilot Jarang Terbang karena Pandemi, Perlukah Kita Khawatir Saat Kembali Naik Pesawat?

ABC Australia - detikNews
Senin, 21 Des 2020 14:28 WIB
Jakarta -

Untuk pertama kalinya setelah tujuh bulan tidak terbang, David Sapulete, pilot asal Tangerang menerbangkan pesawatnya pada akhir Oktober lalu dengan mengikuti protokol kesehatan.

Sejak tahun 2013, David menerbangkan pesawat selama 110 jam setiap bulannya. Namun, karena pandemi dan dikuranginya jam penerbangan, ia sempat tidak menyentuh panel kontrol pesawat.

"Rasa takut sih ada ya, cuma kalau saya pribadi mengacu pada apa yang kita punya saja, karena kita sudah dibekali kemampuan, pengetahuan, serta standar yang kita punya," katanya.

David mengatakan jika pilot memiliki tanggung jawab yang dinamis, karenanya setelah sempat lama di luar 'cockpit', ia harus berusaha untuk menerapkan semua prosedur yang telah dipelajarinya.

"Kalau sudah lama tidak melakukan penerbangan, hal-hal seperti ini mungkin ada yang terlewat-lewat sedikit," kata David.

Sebagai bentuk penenangan diri, David mengaku harus melakukan persiapan, termasuk mempelajari buku pedoman menerbangkan pesawat semasa pandemi, setebal 300 halaman.

"Saya baca lagi SOP nya dan berangkat lebih awal ke kantor karena untuk prosedur 'New Normal' ada SOP Covid tambahan ... bangun lebih cepat, tidur lebih cepat," katanya kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

Ilustrasi Staff Pesawat

Di hari pertamanya kembali menerbangkan pesawat, David harus kembali memegang tanggung jawab manajemen yang menurutnya "dinamis". (Reuters: Tyrone Siu: [ILUSTRASI])

Memastikan keselamatan penerbangan di negara berkembang

Menurut Shukor, dalam sebuah negara yang tidak memiliki persediaan simulator memadai, pasti ada permasalahan.

"Pilot di pasar negara berkembang, seperti Indochina, Filipina, Indonesia, tidak memiliki jumlah simulator memadai. Jadi harus bagaimana? Ini adalah salah satu bahaya yang dihadapi industri saat ini."

Dengan kondisi seperti ini, David mengatakan diperlukan ketegasan dari divisi pelatihan setiap maskapai untuk memastikan para pilot taat kepada SOP yang ada.

"Akhirnya lari ke divisi training kantor. Mereka akan mendapatkan mandat untuk bisa melatih semua sumber daya manusia di lapangan sehingga menghasilkan operasional yang efisien," katanya.

"Dan untuk menjaga [pilot] tetap mengikuti standar itu tidak bisa overnight, harus dilihat pelatihan setiap perusahaan itu bagaimana, sehingga nantinya tercermin ke operasional pilotnya."

Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mendorong pemerintah untuk mengambil langkah dalam memastikan bahwa pilot memiliki pelatihan yang cukup.

Mereka ingin agar awak pesawat dikategorikan sebagai pekerja penting sehingga dapat menggunakan 'travel bubble' untuk mengakses fasilitas di luar negeri, misalnya peralatan simulasi pesawat.

"Kegagalan untuk melakukannya dapat menimbulkan konsekuensi buruk," ujar ICAO.

Diproduksi dari artikel dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.

Ikuti berita seputar pandemi dan lainnya di ABC Indonesia.

(ita/ita)