Para Peneliti Vaksin COVID-19 Jadi Sasaran Serangan Siber

ABC Australia - detikNews
Selasa, 15 Des 2020 15:07 WIB
Jakarta -

KETIKA para peneliti COVID di seluruh dunia berlomba mengembangkan vaksin yang efektif, diam-diam mereka dibuntuti oleh mata-mata dan pencuri di dunia siber.

"Pasukan" bayaran di dunia maya serta peretas yang disponsori negara tertentu, dengan nama sandi seperti Cozy Bear dan Hidden Cobra, aktif mengintai pengembangan vaksin yang dilakukan para peneliti.

Pekan lalu, targetnya adalah European Medicines Agency, yang memiliki dokumen rahasia tentang vaksin Pfizer yang tersimpan di servernya.

Sejauh ini, baru vaksin buatan Pfizer bekerja sama dengan BionTech, yang telah mendapatkan persetujuan untuk penggunaan darurat vaksinasi di Inggris dan Amerika Serikat.

Tidak jelas kapan atau bagaimana serangan itu berlangsung, atau siapa penanggung jawabnya, namun sejumlah dokumen berhasil diakses secara tidak sah.

Menurut Tim Wellsmore, direktur intelijen perusahaan keamanan siber FireEye, para peneliti COVID kini menjadi sasaran empuk peretas.

FireEye memiliki 3.000 karyawan dengan klien perusahaan-perusahaan besar dan sejumlah pemerintah di negara Barat.

"Ada sejumlah kelompok (peretas) yang kami lihat menarget para peneliti COVID," kata Wellsmore kepada ABC.

A hand in a white glove holding a COVID vaccine

Peretasan terhadap pengembangan vaksin Covid-19 diperkirakan terus berlangsung di tengah upaya para peneliti menemukan vaksin yang paling efektif. (Supplied: Crowdstrike)

Berhasilkah serangan terhadap peneliti COVID?

Serangan terhadap European Medicines Agency dengan target vaksin yang dikembangkan Pfizer bersama BioNtech, diakui berhasil mencuri beberapa dokumen.

Namun tidak dijelaskan seberapa berguna dokumen-dokumen yang dicuri tersebut.

Perusahaan dan lembaga pemerintah biasanya tidak akan melaporkan bila dibobol karena khawatir dengan reputasi mereka. Atau karena para peretas terlalu piawai sehingga serangannya tak disadari.

"Apa pun yang muncul dalam pemberitaan hanyalah puncak gunung es," kata Sergei Shevchenko.

Butuh waktu bulanan untuk menyadari adanya serangan siber. Pada tahun 2018, FireEye melaporkan rata-rata masa tunggu serangan siber (waktu sebelum serangan terdeteksi) adalah 71 hari di AS, dan 204 hari di Asia Pasifik.

Menurut Robert Potter, pakar keamanan siber Australia bekerja di Deplu AS, tidak ada bukti bahwa peretas telah mencuri data COVID yang berguna.

"Saya belum mendengar laporannya," katanya.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Science.

(ita/ita)