Bagaimana Teknologi Pengurutan Genom Bantu Hentikan Penularan COVID di Sydney

ABC Australia - detikNews
Jumat, 11 Des 2020 12:39 WIB
Jakarta -

Jarum jam menunjukkan lewat malam pada Kamis pekan lalu, ketika Departemen Kesehatan negara bagian New South Wales (NSW) Australia mendapat kabar menakutkan.

Seorang perempuan yang tinggal di pinggiran Kota Sydney dinyatakan positif COVID-19 lewat tes, padahal sudah hampir sebulan kota Sydney tanpa terjadinya penularan.

Perempuan itu seorang pekerja kebersihan di lokasi karantina Hotel Novotel dan Ibis di Darling Harbour, memicu kekhawatiran akan meluasnya penularan.

Ketika para politisi masih berusaha menjawab berbagai pertanyaan, para ilmuwan langsung bertindak.

Keesokan harinya, mereka langsung sibuk untuk mengurutkan genom dari sampel positif tersebut.

Menemukan cetak biru genetik

Untuk menentukan dari mana asal kasus COVID-19, para ilmuwan mencari kasus lainnya yang mengandung materi genetik serupa dan menyusun pohon keluarga dari kasus terkait.

Salah satu metode paling umum yang digunakan untuk itu disebut pengurutan genom nanopore.

Pakar virologi Prof Rowena Bull dari Kirby Institute menjelaskan prosesnya dimulai dengan sampel positif COVID-19.

"Setelah mengambil sampel, mereka kemudian menambahkan beberapa bahan kimia yang dapat membongkar virus dan melepaskan RNA kecil di dalamnya," kata Dr Rowena kepada ABC.

RNA, atau asam ribonukleat, adalah materi genetik di dalam virus yang mengandung cetak birunya.

"Kalau kita memiliki DNA, maka virus memiliki RNA, yang amat sangat mirip," jelasnya.

Rowen Bull stands in a lab.

Pakar virus pada Kirby Institute Profesor Rowena Bull turut mengembangkan metode uji genetika yang digunakan dalam pengurutan RNA COVID-19 di Australia. (Supplied: The Garvan Institute)

Penelitian tim ini telah dipublikasikan di jurnal Nature Communications.

Kepala teknologi genom pada Garvan Institute Dr Ira Deveson mengatakan temuan mereka membuka pintu bagi laboratorium lainnya untuk melakukan pelacakan genetik virus corona semacam ini.

"Kelebihan utama dari instrumen nanopore ini bukan hanya karena ia kecil, tapi juga tidak memerlukan banyak keahlian, atau infrastruktur laboratorium khusus," katanya.

Dr Ira berkata, dengan hasil penelitian ini mereka telah menghilangkan hambatan yang ada agar teknologi ini dapat diadopsi lebih lanjut oleh pihak lain.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC Science

(ita/ita)