Akankah Jutaan Dosis Potensi Vaksin di Indonesia Cukup Untuk Atasi COVID-19?

ABC Australia - detikNews
Kamis, 10 Des 2020 18:21 WIB
Jakarta -

Sambil menunggu persetujuan dari BPOM, sekitar 1,2 juta dosis vaksin Sinovac asal China sudah tiba di Indonesia dimana masalah penanganan virus COVID-19 sekarang adalah kurangnya ventilator di banyak rumah sakit.

Rumah Sakit kekurangan ventilator

  • Vaksin dari China sudah tiba di Indonesia tapi masih menunggu persetujuan BPOM
  • Banyak rumah sakit melaporkan kapasitas mereka sudah penuh melebihi 80 persen
  • Liburan Natal dan Tahun Baru diperpendek, namun diperkirakan tetap akan berdampak pada peningkatan kasus

Indonesia sekarang menjadi negara dengan penularan virus corona tertinggi di Asia Tenggara dengan kasus sudah mendekati angka 600 ribu dan jumlah kematian resmi tercatat sudah lebih dari 18 ribu orang.

Dengan hanya 1,2 juta dosis vaksin Sinovac Biotech dari Beijing dan tambahan 1,8 juta dosis yang akan tiba bulan Januari, maka hanya sekitar 1,5 juta orang saja yang akan mendapatkan vaksin, karena setiap orang harus mendapatkan dua dosis.

Bila nantinya disetujui oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk penggunaan vaksin di Indonesia, maka kemudian perusahaan farmasi negara BioFarma akan memproduksinya dalam jumlah besar.

Para dokter, perawat dan petugas kesehatan lainya akan menjadi mereka yang pertama-tama menerima vaksinasi.

Saat ini sistem layanan rumah sakit di banyak daerah di Indonesia sedang kewalahan menangani peningkatan kasus setiap hari.

Sejauh ini sudah 200 dokter dan paling sedikit 136 perawat meninggal karena COVID-19.

Banyak petugas kesehatan yang bekerja di unit gawat darurat atau di rumah sakit khusus COVID1-9 menghadapi tekanan, karena banyak rekan kerja mereka yang tidak bisa bekerja akibat positif terkena virus.

Radiolog Dr Sardjono Utomo adalah salah satu contoh yang harus masuk rumah sakit di Pamekasan, di Madura, hari Jumat lalu setelah mengalami kesulitan bernapas.

Tetapi di kota tersebut tidak ada satupun ventilator atau alat bantu pernapasan yang tersedia.

Petugas rumah sakit kemudian berusaha mencari ke berbagai tempat termasuk mencari ke Surabaya, Jawa Timur yang berjarak 112 km dari Pamekasan.

Namun ventilator tidak bisa ditemukan dan dalam waktu 24 jam Dr Sardjono dan istrinya Sri Martini, keduanya berusia 60 tahunan, meninggal.

Ini sekarang masalah yang banyak dihadapi rumah sakit pemerintah, utamanya di Pulau Jawa yang menjadi episentrum pandemi COVID-19 di Indonesia.

"Dimana-mana rumah sakit penuh. Semua rumah sakit penuh di Pamekasan," kata Dr Syaiful Hidayat dokter spesialis pernapasan yang menangani Dr Sardjono.

"Sekarang ini masa puncaknya."

A group of men in full PPE carry a coffin wrapped in tarps through a cemetery

Angka resmi menyebutkan korban meninggal karena COVID di Indonesia adalah 18 ribu orang namun diperkirakan angka sebenarnya jauh lebih tinggi. (Supplied)

Mengurangi hari libur Natal dan Tahun Baru

Walau kasus terus meningkat, Indonesia tidak seperti Australia yang menerapkan lockdown sepenuhnya secara ketat.

Karenanya pusat perbelanjaan dan kantor-kantor masih buka seperti biasa, serta transportasi umum seperti di Jakarta yang masih dipadati dengan warga.

Hanya beberapa daerah yang melaporkan keberhasilan menerapkan 'social distancing' dan pemakaian masker.

Mengambil pengalaman dari liburan beberapa hari di bulan Oktober, Pemerintah Indonesia memutuskan memperpendek liburan akhir tahun Natal dan Tahun Baru agar mengurangi penularan baru virus.

Namun pembatasan tampaknya kecil kemungkinan akan memberikan dampak besar.

Kemarin baru saja dilaksanakan pemilihan kepala daerah di sejumlah daerah di Indonesia dengan sekitar 100 juta warga Indonesia memiliki hak untuk memberikan suara.

Pilkada dan kemudian liburan Natal dan Tahun Baru diperkirakan akan menimbulkan gelombang baru penambahan kasus.

Dr Irwandy di Makassar mengatakan peningkatan kasus baru akan bisa dilihat di bulan Januari.

"Saya kira di bulan Januari baru kita merasakan dampak dari peningkatan kasus, dan di ujungnya adalah fasilitas layanan kesehatan kita yang akan merasakan dampaknya." katanya.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dan lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita)