Bagaimana Dinasti Kerajaan Thailand Bisa Jadi Salah Satu Terkaya di Dunia?

ABC Australia - detikNews
Selasa, 08 Des 2020 17:30 WIB
Bangkok -

Raja Thailand, Maha Vajiralongkorn, sering disebut sebagai salah satu raja terkaya di dunia.

Sebelum penobatannya sebagai Raja Rama X pada tahun 2019, sebagai seorang putra mahkota, ia sempat membangun reputasi hedonisme saat berpergian ke seluruh dunia, sangat berbeda dengan ayahnya yang dicintai oleh warganya.

Ayahnya memiliki kesan sebagai orang yang hemat meski dilaporkan tetap menimbun kekayaannya.

Seberapa kekayaan kerajaan Thailand menarik perhatian nasional dalam beberapa pekan terakhir, setelah pengunjuk rasa menentang undang-undang untuk tidak mempertanyakan atau menghina kerajaan.

Pengunjuk rasa ingin agar sistem kerajaan direformasi termasuk lebih banyak pengawasan soal keuangan kerajaan.

Berapa banyak kekayaan Monarki Thailand?

King Vajiralongkorn (bottom-left) pictured on a royal barge during his coronation procession in 2019.

Raja Vajiralongkorn (kiri bawah) ketika dimahkotai pada tahun 2019. (Supplied)

Jumlah kekayaan kerajaan Thailand tidak ada yang bisa memastikan, karena tidak ada angka-angka yang dipublikasikan.

Pada bulan Mei, sebuah laporan dari kantor berita Jerman Deutsche Welle menyebutkan angkanya antara AS$ 30 dan AS$ 60 miliar, atau sekitar Rp 424 triliun dan Rp 848 triliun.

Banyak kantor berita lainnya, termasuk Reuters, mengutip perkiraan minimal AS$ 40,7 miliar atau sekitar Rp 565 triliun.

Angka itu berasal dari perkiraan Forbes tahun 2009, menurut Andrew MacGregor Marshall, mantan kepala biro Reuters Bangkok yang sudah dilarang masuk ke Thailand sejak 2011.

Kepada ABC, ia mengatakan jumlah kekayaan yang pernah ia sebutkan sekarang sudah tidak akurat dan ketinggalan zaman.

"Tapi sejak itu, kami memiliki pakar akademisi yang benar-benar meneliti secara terperinci, sehingga ada perkiraan yang lebih dari dari angka AS$ 30 miliar yang angkanya terlalu terlalu kecil," kata Andrew.

Dia memperkirakan, kekayaan kerajaan Thailand paling sedikit AS$ 66 miliar atau Rp 933 triliun, sementara laporan terbaru di Nikkei Asia dan Los Angeles Times memperkirakan angkanya mencapai AS$ 60 miliar, sekitar Rp 848 triliun, atau AS$ 70 miliar, sekitar Rp 989 triliun.

Supaya jelas, kekayaan kerajaan berbeda dari kekayaan raja yang sedang bertakhta, di mana raja yang berkuasa memiliki akses ke kekayaan pribadi dan kekayaan kerajaan.

Namun sejak 2018, kekayaan pribadi Raja Vajiralongkorn dan kekayaan kerajaan secara keseluruhan telah menyatu.

Sementara itu, biaya operasional sehari-hari monarki ditanggung oleh warga Thailand, sebagai pembayar pajak dan Pemerintah Thailand mengalokasikan sekitar AS$ 1,3 miliar, atau Rp 18 triliun dalam anggaran tahun ini.

Terdiri dari apa sajakah kekayaan Monarki Thailand?

Dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan lain di seluruh dunia yang sudah berdiri selama berabad-abad, Andrew mengatakan kekayaan dinasti Chakri tidak berasal dari turun temurun, sebaliknya, sebagian besar berasal dari aset yang terkumpul selama abad ke-20.

Sebagian besar berasal dari kepemilikan tanah dan properti. Kerajaan Thailand diperkirakan memiliki sekitar 40.000 lahan tanah yang disewakan, sementara studi di tahun 2015 tentang kekayaan institusi menemukan Kerajaan Thailand adalah salah satu pemilik tanah terbesar di negara itu.

Kepemilikan tanah ini berjumlah sekitar 6.560 hektare di seluruh Thailand, 1.328 hektare diantaranya terkonsentrasi di Bangkok, menurut laporan Reuters 2019.

Biografi penguasa sebelumnya, Raja Bhumibol Adulyadej pada tahun 2011, memperkirakan kepemilikan properti monarki di Bangkok bernilai setidaknya AS$ 44,8 miliar, atau lebih dari Rp 635 triliun.

Nilai properti di Bangkok telah naik secara signifikan sejak saat itu.

Kerajaan Thailand juga memiliki saham di dua perusahaan korporasi terbesar di negara itu, yakni Siam Commercial Bank (SCB) dan Siam Concrete Group, dengan nilai AS$ 12,2 miliar (Rp 170 triliun) tahun lalu.

Batu permata yang ada di mahkota Thailand juga dapat dianggap sebagai aset, meskipun tidak ada angka pasti berapa nilainya dan banyak barang menjadi tak ternilai karena memiliki nilai budaya dan sejarah bagi Thailand.

Tapi harga satu perhiasan yang masuk dalam koleksi yang dikenal sebagai 'Golden Jubilee Diamond', yakni berlian terbesar di dunia dengan 545,6 karat, diperkirakan mencapai AS$ 16,3 juta (Rp 226 miliar) tahun lalu, menurut situs perhiasan The Diamond Authority.

Siapa yang mengelola kekayaan kerajaan Thailand?

Jawabannya adalah Raja sendiri yang mengelolanya, meski tidak selalu ia yang melakukannya.

Undang-undang soal ini pernah diubah pada 2018 agar Raja Vajiralongkorn kendali langsung atas aset kerajaan.

Sejak 1948, monarki di Thailand mengatakan aset mereka adalah milik rakyat Thailand, sehingga akan dikendalikan dari jarak jauh lewat organisasi yang dikenal dengan sebutan Biro Properti Mahkota (CPB).

Tamara Loos, seorang sejarawan Thailand di Universitas Cornell Amerika Serikat, mengatakan kepada ABC sementara "di atas kertas" CPB secara historis mengizinkan pemisahan kekuasaan, tapi masih belum jelas apakah seperti itu dalam praktiknya.

"Saya tidak dapat membayangkan anggota biro akan memberi tahu Raja Bhumibol jika dia tidak dapat membelanjakan uang seperti yang ia inginkan, dan bagaimana ia ingin membelanjakan uangnya mungkin sesuai dengan banyak tujuan negara," kata Dr Loos kepada ABC.

Tetapi Dr Loos mengatakan melihat alasan sejumlah unjuk rasa yang meletus di seluruh Bangkok merupakan indikasi bahwa beberapa orang Thailand tidak menyukai langkah yang dilakukan Raja dan anggota keluarganya.

"Mereka melihat jika dia tidak menjalani kehidupan hemat seperti ayahnya, tapi ia juga terlihat sangat bermewah-mewahan dalam menjalankan keluarganya."

Bagaimana jika dibandingkan dengan kerajaan dunia lainnya?

Membandingkan total kekayaan total kerajaan-kerajaan di dunia hanya bisa dilakukan secara garis besar dengan menebaknya, karena tidak ada transparansi antara aset milik publik atau semi-publik, sementara kekayaan pribadi raja atau ratu biasanya tidak dipublikasikan.

Misalnya, monarki Inggris, pemilik 15 negara lain termasuk Australia, yang memiliki 'Crown Estate', mencakup properti dan tanah yang luas di beberapa tempat paling mewah di London, hampir semua kawasan perairan Inggris, serta 55 persen dari pinggiran pantai Inggris dan aset lainnya.

Tetapi 'Crown Estate' tidak mencerminkan seluruh kekayaan total kerajaan Inggris.

Jumlah itu mungkin pada akhirnya tidak dapat diketahui, mengingat jaringan aset yang kompleks, mencakup tempat bersejarah, koleksi seni kerajaan, permata mahkota Inggris, dan artefak sejarah dan budaya lainnya yang telah berlangsung berabad-abad.

Jumlah yang dilaporkan untuk monarki Inggris sangat beragam: laporan MSN Money tahun lalu memperkirakan nilainya AS$ 900 juta atau lebih dari Rp 12 triliun; sementara laporan tahun 2017 dari sebuah konsultan bisnis menilai AS$ 88 miliar atau Rp 1.243 triliun, yang memperhitungkan keseluruhan "nilai" di Inggris.

Kekayaan pribadi Ratu, sementara itu, diperkirakan sekitar AS$ 500 juta, atau lebih dari Rp 7 triliun.

Mengapa pengunjuk rasa menargetkan kekayaan kerajaan?

Sementara para pengunjuk rasa tidak menyerukan penggulingan kerajaan, mereka menyerukan adanya reformasi akibat ketidaksetaraan kekayaan.

Mereka ingin membalikkan kendali sepihak Raja atas keuangan kerajaan dan menyerukan adanya mekanisme untuk menjaga akuntabilitas kerajaan yang lebih kuat dalam konstitusi Thailand.

"Jutaan keluarga sedang kesulitan, jadi kenapa kita bisa memberikan uang pajak untuk satu keluarga yang dibelanjakan dengan bermewah-mewahan?" kata Parit Chiwarak, seorang aktivis terkemuka kepada Reuters di tengah protes pekan lalu.

Antara 2015 dan 2018, tingkat kemiskinan Thailand, di mana warga hidup dengan kurang dari AS$ 1,90, atau kurang dari Rp 27.000 per hari, meningkat dari titik terendah dalam sejarah, yakni dari 7,2 persen menjadi 9,9 persen dari populasi, menurut angka Bank Dunia.

Dan pandemi diperkirakan akan memperburuk tingkat kemiskinan, karena pendapatan nasional Thailand diperkirakan akan menyusut setidaknya 5 persen, yang merupakan salah satu yang paling tajam di kawasan Asia Tenggara, menurut laporan Bank Dunia bulan Juni lalu.

Dr Tamara Loos, sejarawan Thailand dari Universitas Cornerll di Amerika Serikat mengatakan para pengunjuk rasa tidak hanya fokus soal gaya hidup bermewah-mewahan, tetapi juga adanya hierarki atau tingkatan sosial.

"Mereka menargetkan monarki, tapi yang sebenarnya mereka lakukan adalah mengadvokasi perubahan sosial yang radikal, maksud saya, mereka ingin diakhirinya hierarki," kata Dr Loos.

Seperti yang dirasakan Kanyanatt Kalfagiannis, dari organisasi Alliance for Thai Democracy yang berbasis di Sydney, yang mengatakan kepada ABC jika "feodalisme" masih ada di Thailand.

"Ketika Anda membeli sebidang tanah, ada segel tanda tangan Raja di sertifikat," kata Kanyanatt.

"Ini mengingatkanmu jika kamu tidak benar-benar memiliki tanah, itu masih punya Raja."

Namun dia mengatakan pengunjuk rasa seperti dirinya masih perlu melakukan banyak hal agar didukung rakyat Thailand, karena propaganda kerajaan selama beberapa dekade telah menyamarkan apa yang sebenarnya terjadi dengan kerajaan Thailand.

"Kita perlu menyampaikan kebenaran kepada mereka," katanya.

"Jika masih menginginkan Raja, buat saja dia lebih cocok dengan konteks saat ini, sama seperti raja lainnya di dunia."

Artikel ini diproduksi dari laporannya dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.

(nvc/nvc)