Perempuan Indonesia Korban KDRT di Australia yang Jumlahnya Meningkat di Masa Pandemi

ABC Australia - detikNews
Selasa, 01 Des 2020 12:49 WIB
Jakarta -

Ditendang, dipukul, bahkan ditusuk dengan pisau merupakan sebagian dari tindak kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang dialami sejumlah perempuan di Australia, yang dilakukan suami mereka.

  • Semakin banyak perempuan migran yang melaporkan tindak KDRT yang mereka alami
  • Banyak yang ingin melapor tapi tidak paham dengan aturan hukum yang ada
  • Masalah keuangan dan sosial juga menjadi kendala mereka untuk mencari pertolongan

Sebagian yang mengalami hal ini adalah perempuan migran yang jauh dari negara asal mereka, dan kadang kesulitan untuk membicarakan apa yang mereka alami karena berbagai kendala.

Meski halangan itu masih ada sekarang semakin banyak perempuan dari berbagai latar belakang budaya di Australia mau mengungkapkan apa yang mereka alami di depan publik dan meminta pertolongan.

A woman holds the hands of a small child.

Nora mengatakan dia sudah merasa ada yang tidak benar dengan suaminya ketika pindah ke Perth setelah menikah. (ABC News: Margaret Burin)

Namun sekarang dengan berjalannya waktu semakin banyak perempuan dari kalangan migran yang berani melapor mengenai tindak KDRT yang mereka alami.

Di Pusat Kesehatan Multibudaya Ishar di Perth, petugas di sana lebih banyak mengkonsentrasikan diri untuk membantu mereka yang mengalami masalah dari berbagai latar belakang budaya.

Sekarang ini di sana mereka sudah membantu sekitar 300 perempuan berkenaan dengan masalah kekerasan dalam rumah tangga dibandingkan 89 perempuan yang meminta bantuan serupa di tahun 2018.

Rata-rata pusat layanan itu membantu 12 perempuan setiap bulan yang merupakan klien baru.

Direktur eksekutif Ishar Andrea Creado mengatakan data polisi dan juga data umum belum bisa menggambarkan berapa banyak perempuan yang mengalami KDRT karena banyak yang masih enggan melapor karena berbagai alasan.

"Pembatasan pergerakan karena COVID-19 menyebabkan peningkatan KDRT senanyak lima persen menurut polisi. Di Ishar layanan kami meningkat sebanyak 20 persen," kaanya.

"Banyak perempuan yang terlibat adalah mereka yang baru-baru ini tiba di Australia.

"Mereka memiliki kemampuan bahasa Inggris terbatas, tidak memiliki pengetahuan mengenai hak sebagai perempuan di Australia dan masih memerlukan bantuan penerjemah.

"Pasangan yang melakukan KDRT sengaja membatasi para perempuan ini belajar bahasa Inggris sebagai bentuk untuk mengontrol mereka."

Untuk melindungi mereka nama-nama korban KDRT ini diganti dengan nama lain.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya. Baca versi Bahasa Inggris di sini

(ita/ita)