Sejumlah Mahasiswa Indonesia di Melbourne Alami Kesulitan Uang Saat Pandemi

ABC Australia - detikNews
Senin, 30 Nov 2020 12:57 WIB
Jakarta -

Sri Dila Riwu, mahasiswa asal Kupang, berharap suatu hari nanti suami dan anak-anaknya bisa bergabung dengannya di Australia, setelah ia tinggal seorang diri selama setahun.

Setelah hal itu terwujud, lalu datanglah pandemi yang membuyarkan impian mereka.

Dila sedang kuliah S2 kedokteran laboratorium pada universitas RMIT di Melbourne dan hidup dari beasiswa yang diterimanya.

Setelah menjalani pendidikan selama setahun seorang diri, akhirnya suami dan anak-anaknya pun bergabung dengan Dila dan tinggal di Brunswick, suatu kawasan dekat pusat kota Melbourne.

Namun tak berselang lama sejak kedatangan keluarganya itu, pandemi COVID-19 menghadirkan persoalan baru karena hampir semua sektor harus ditutup akibat pembatasan sosial yang ketat.

"Saya stres ketika keluarga saya datang karena bertepatan dengan lockdown," katanya kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

Tadinya suami Dila berencana untuk bekerja untuk membantu menghidupi keluarga mereka. Namun rencana itu gagal karena kurangnya kesempatan kerja di masa pandemi.

Dila mengaku sangat terpukul dengan kondisi ini.

"Saya kesulitan mengurus semuanya. Tapi setidaknya suamiku sangat membantu karena dia selalu berada di rumah," katanya.

Groceries

Sejumlah mahasiswa internasional sangat bergantung pada bantuan badan amal untuk memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. (Supplied)

Kebutuhan pokok sehari-hari, menurut Susan, bukan satu-satunya permasalahan yang dihadapi mahasiswa internasional.

"Saya kira karena masa lockdown itu, orang mendambakan adanya hubungan sosial," katanya kepada ABC.

"Mereka terlihat senang bisa melihat orang lain. Jadi kami berusaha menurunkan relawan yang sama untuk menyalurkan bantuan ke rute yang sama sehingga mereka dapat membangun hubungan," tambahnya.

Menurut catatan ABC, sektor pendidikan internasional menyumbang $40 miliar setiap tahun untuk perekonomian Australia dan mendukung 250.000 lapangan kerja.

Sebagian besar kontribusi itu terlihat di Victoria, dengan pendapatan $12,6 miliar dari sektor pendidikan internasional serta mendukung 79.000 lapangan kerja tahun lalu.

Awal tahun ini, Pemerintah Federal membuat lima visa untuk memastikan kondisi mahasiswa internasional tidak menjadi lebih buruk akibat pandemi virus corona.

Perubahan itu termasuk mengizinkan mahasiswa yang belajar online di luar Australia karena COVID-19 untuk menggunakan masa studi tersebut dalam persyaratan visa kerja pasca-studi.

"Kami negara yang terbuka dengan sistem pendidikan kelas dunia dan kondisi COVID-19 terendah di dunia," kata Penjabat Menteri Imigrasi Alan Tudge pada Juli lalu.

Seorang juru bicara Pemerintah mengatakan kepada ABC bahwa mahasiswa internasional merupakan bagian penting dari sektor pendidikan dan memberikan kontribusi yang signifikan kepada masyarakat luas.

"Itulah mengapa kami memberikan dukungan melalui Dana Bantuan Darurat Mahasiswa Internasional senilai $45 juta," kata juru bicara itu.

"Kami juga telah menugaskan Palang Merah untuk memberikan bantuan keuangan, informasi, dan rujukan sebagai bagian dari program senilai $50 juta untuk mendukung mereka yang paling rentan di Victoria - termasuk para mahasiswa internasional," tambahnya.

Simak artikelnya dalam versi Bahasa Inggris di sini.

(ita/ita)