Guru di Pedalaman Australia Hadapi Tantangan Untuk Ajarkan Bahasa Indonesia

ABC Australia - detikNews
Jumat, 27 Nov 2020 15:37 WIB
Jakarta -

Australia adalah negara terbesar di luar Indonesia, yang memiliki program pengajaran Bahasa Indonesia secara sistematis mulai dari tingkat sekolah dasar sampai universitas.

Di tengah menurunnya minat belajar bahasa Indonesia, berbagai usaha mempertahankan jumlah sekolah dan perguruan tinggi untuk tetap mengajarkan bahasa Indonesia sudah dilakukan.

Namun mereka yang terlibat di dalamnya mengatakan masih banyak hal yang bisa dilakukan.

Baru-baru ini La Trobe University mengumumkan rencana tidak akan lagi menerima mahasiswa untuk program bahasa Indonesia mulai akhir tahun 2021.

Ada beberapa alasan menurunnya minat untuk belajar bahasa Indonesia di tingkat universitas, karena secara statistik jumlah siswa yang mengambil mata pelajaran bahasa Indonesia di tingkat sekolah dasar dan menengah di Australia sebenarnya masih cukup besar.

Namun setelah kelas tertentu, pelajaran bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran pilihan, sehingga murid-murid harus memutuskan apakah akan terus melanjutkan mengambil pelajaran bahasa Indonesia atau tidak.

Liz Formby berasama Dubes Indonesia untuk Australia Kristiarto Legowo (tengah) dan Konjen RI di Melbourne Spica Tutuhatunewa.

Liz Formby berasama Dubes Indonesia untuk Australia Kristiarto Legowo (tengah) dan Konjen RI di Melbourne Spica Tutuhatunewa. (Foto: Supplied)

Menurutnya Departemen Pendidikan Indonesia memiliki apa yang disebut BIPA, program pengajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing.

Lia yang sebelumnya menamatkan pendidikan di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim di Malang dari Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris tersebut pernah mengajar bahasa Indonesia di Thailand Selatan di tahun 2017.

Penduduk Thailand Selatan yang sebagian besar warga Islam, menurut Lia, banyak yang tertarik untuk belajar bahasa Indonesia dan itu menjadi salah satu sebab mengapa guru bahasa Indonesia dikirim ke sana.

"Sekolah di Thailand Selatan yang banyak komunitas muslimnya mereka tertarik mengirimkan anak-anak untuk kuliah di Indonesia terutama di jurusan bisnis," kata Lia kepada ABC Indonesia.

Karena Australia termasuk negara yang sudah memiliki program bahasa Indonesia yang mapan, sejauh ini tidak ada pengiriman guru bahasa Indonesia yang dilakukan oleh Depdikbud, meski ada program kerjasama yang dilakukan pemerintah provinsi dan universitas.

Lia mengatakan dia tertarik dan mendukung jika Indonesia akan mengirimkan guru yang berpengalaman untuk mengajar di Australia guna membantu meningkatkan ketertarikan pelajar Australia belajar bahasa Indonesia.

"Memang diperlukan komunikasi, koordinasi, dan kerja sama dari semua pihak, baik pemerintah Indonesia, pemerintah Australia, lembaga penyelenggara Bahasa Indonesia di Australia juga, serta tenaga pengajar yang berpengalaman," kata Lia.

Menurutnya sejauh ini yang dipantaunya pengiriman guru bantu asal Indonesia ke Australia dibatasi kriteria usianya sehingga pengajar Bahasa Indonesia yang berpengalaman tidak bisa berpartisipasi.

"Menurut saya, kalau ini dilihat sebagai hal yang serius ya seharusnya yang dikirim ke Australia yang memang berpengalaman mengajar Bahasa Indonesia untuk orang asing," katanya.

"Karena mengajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) berbeda dengan mengajar Bahasa Indonesia untuk orang Indonesia."

"Saya berharap, pengajar BIPA yang berpengalaman diberi kesempatan untuk berpartisipasi memajukan pengajaran BIPA di Australia.

"Apabila ada kesempatan saya sangat ingin berpartisipasi," tambahnya.

(ita/ita)