Pasien Terakhir COVID-19 Sudah Sembuh dan Keluar dari Rumah Sakit Melbourne

ABC Australia - detikNews
Rabu, 25 Nov 2020 11:34 WIB
Melbourne -

Negara bagian Victoria, Australia semakin dekat untuk dinyatakan telah memerangi virus Corona, setelah pasien terakhir yang dirawat di Melbourne sembuh dan kembali ke rumahnya, Senin kemarin (23/11).

Premier Victoria, Daniel Andrews menjelaskan pasien tersebut, yang merupakan satu-satunya kasus aktif yang tersisa, telah bebas dari virus Corona setelah menjalani perawatan di Monash Medical Center.

"Hari ini menjadi sangat penting dan setiap warga Victoria bisa bangga atas peran mereka dalam mengalahkan gelombang kedua pandemi," kata Premier Andrews, hari ini (24/11).

Istri dari pasien terakhir tersebut, yang juga dirawat di rumah sakit karena virus Corona, sudah lebih dulu sembuh pekan lalu.

Departemen Kesehatan Victoria menyatakan pasien pertama yang dirawat di rumah sakit akibat infeksi COVID-19 terjadi pada tanggal 21 Februari atau sembilan bulan lalu.

Depkes mengatakan dari 9.960 hasil tes COVID yang dilaksanakan kemarin, tak satu pun kasus baru yang ditemukan.

Dengan demikian, Victoria mencatat 24 hari berturut-turut tanpa kasus baru dan kematian terkait COVID-19.

Meskipun Victoria sudah bebas dari COVID, Premier Andrews tetap meminta warga agar jangan sampai lengah sebelum adanya vaksin.

"Masih jauh dari selesai bahkan dengan nol kasus hari ini, tidak ada kasus aktif, tes yang banyak dan masyarakat telah mengikuti aturan yang benar," katanya.

A new hospital unit under construction at Monash Health.

Rumah sakit Monash Health di Melbourne menambah unit darurat untuk perawatan pasien COVID-19. (ABC Radio Adelaide: Spence Denny)

Victoria telah mencatat sebanyak 20.345 kasus COVID dengan 819 kematian dan pada tanggal 11 Agustus lalu, terdapat 7.880 kasus aktif.

Negara bagian dengan ibukota Melbourne ini mengidentifikasi kasus positif pertama pada tanggal 24 Januari, yaitu seorang yang baru tiba dari luar negeri.

Pejabat langgar aturan sendiri di Sydney

Di negara bagian New South Wales (NSW), Premier Gladys Berejiklian menjadi sorotan karena terungkap dia tidak menjalani isolasi mandiri setelah melakukan tes COVID pekan lalu.

Setelah berbulan-bulan mendesak warga NSW untuk mengikuti aturan, Premier Gladys diketahui melanggar aturannya sendiri tentang isolasi.

Ia dites COVID-19 di kantornya Selasa pekan lalu, namun tetap bekerja dan bertemu koleganya sambil menunggu hasil tes.

Premier Gladys menjelaskan ia mulai kehilangan suaranya sehingga memutuskan untuk menjalani tes sebagai tindakan berjaga-jaga.

Dalam tempo sekitar dua jam, hasil tesnya diketahui negatif.

Hari ini, Premier Gladys mengakui telah melakukan hal yang salah, orang-orang keluar masuk kantornya padahal ia seharusnya diisolasi.

"Kalau dipikir-pikir, saya seharusnya menutup pintu dan tidak bertemu siapa pun selama 90 menit hingga dua jam saat saya menunggu hasil tes," katanya.

Aturan Depkes NSW menyebutkan siapa pun yang melakukan tes COVID-19 harus "langsung pulang" dan mengisolasi diri sambil menunggu hasilnya.

Pasien diminta untuk tidak berbagi kamar dengan orang lain jika hal itu memungkinkan.

Ditanya apakah sekarang akan mengubah aturan seputar isolasi, Premier Gladys menjawab "Mengapa saya harus mengubah aturan itu?"

Queensland buka perbatasan dengan NSW

Queensland dengan ibukota Brisbane akan mengizinkan warga dari Kota Sydney dan sekitarnya untuk masuk ke negara bagiannya tanpa harus menjalani karantina 14 hari, mulai 1 Desember mendatang.

Premier Annastacia Palaszczuk mengumumkannya setelah bertemu Kepala Petugas Kesehatan Dr Jeannette Young, Selasa pagi.

Keputusan itu diambil setelah New South Wales mencatat 28 hari berturut-turut tanpa adanya penularan COVID-19 antar komunitas.

Berdasarkan aturan saat ini, pengunjung dari New South Wales dan Victoria tidak diizinkan masuk ke Queensland.

Dengan dibukanya kembali perbatasan antar negara bagian ini, berarti warga Sydney dan sekitarnya bisa masuk ke Queensland untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli.

Queensland juga menutup perbatasannya dengan beberapa bagian Victoria pada pertengahan Mei, serta menutup total sejak awal Juli.

"Saya telah menyampaikan ke Premier Victoria Daniel Andrews jika mereka mencapai 28 hari tanpa kasus, maka perbatasan kita juga akan dibuka untuk mereka pada 1 Desember," jelasnya.

Pelanggaran aturan lockdown di Australia Selatan

Dalam perkembangan terbaru di Australia Selatan, polisi telah menyita telepon seorang pekerja restoran pizza yang berbohong dan menyebabkan negara bagian itu menerapkan lockdown pekan lalu.

Polisi kini memeriksa telepon tersebut untuk menyelidiki klaster penyebaran COVID di klaster Parafield.

Klaster tersebut mencakup kasus-kasus yang terkait dengan restoran Woodville Pizza Bar, termasuk pria yang mengaku hanya memesan pizza padahal sebenarnya dia bekerja di sana.

Kafe, restoran, perhotelan dan toko-toko ritel yang ditutup selama dua hari telah dibuka kembali pada hari Minggu.

Pejabat tertinggi bidang medis Australia Selatan, Profesor Nicola Spurrier menjelaskan, seminggu setelah kasus pertama ditemukan di klaster Parafield, lebih dari 4.500 sekarang menjalani karantina.

Termasuk diantaranya 21 kontak dekat yang terkait dengan restoran Woodville Pizza Bar, staf dan anggota keluarga mereka.

Menurut Profesor Nicola, mereka semua telah menjalani tes COVID namun belum semua hasilnya dapat diketahui pada tahap ini.

Hingga hari Minggu, tercatat masih ada 37 kasus aktif di negara bagian itu.

Sementara itu Kepolisian Australia Selatan menyatakan telah menjatuhkan denda kepada ratusan orang yang melakukan pelanggaran selama lockdown singkat pekan lalu.

Polisi melayangkan surat peringatan kepada warga dan pemilik toko sebanyak 337 kali sejak Kamis hingga Minggu. Selain itu, polisi juga mengeluarkan 157 denda.

Artikel ini diproduksi oleh Farid M. Ibrahim.

Ikuti perkembangan pandemi COVID-19 di Australia hanya di ABC Indonesia.

(nvc/nvc)