Australia Bangga dengan Keberagaman Budayanya, Tapi COVID-19 Mengubahnya

ABC Australia - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 17:49 WIB
Jakarta -

Wajah keberagaman budaya Australia dengan warganya kebanyakan berasal dari imigran, migran dan pelajar internasional, akan berubah besar setelah pandemi COVID-19.

Perubahan Multibudaya di Australia

  • Australia masih menutup perbatasan internasional karena adanya pandemi COVID-19
  • Kedatangan mahasiswa internasional turun dari 200 ribu menjadi 350
  • Muncul kekhawatiran akan dampak panjang karena penutupan ini

Dalam hampir setahun terakhir, pandemi telah membuat pergerakan manusia sangat terbatas dan masih belum diketahui kapan Australia akan menutup perbatasannya.

Menurut data Biro Statistik Australia (ABS), hanya 350 mahasiswa internasional yang tiba di Australia antara bulan April-Agustus tahun 2020.

Dibandingkan periode yang sama tahun lalu, jumlah kedatangan mahasiswa internasional mencapai 200 ribu orang.

Menurut Profesor Amanda Davies, Dekan Jurusan Ilmu Sosial University of Western Australia (UWA) di Perth, penurunan ini akan memberikan dampak panjang.

A head and shoulders shot of Professor Amanda Davies posing for a photo in an office in front of a bookcase.

Professor Amanda Davies adalah Dekan Jurusan Ilmu Sosial University of Western Australia di Perth. (ABC News: Herlyn Kaur)

"Jadi ini yang pertama bagi saya dan saya yakin juga paling lama bagi banyak mahasiswa lain, karena banyak yang biasanya pulang kalau ada liburan."

Viknash juga mengatakan berkurangnya mahasiswa seangkatan membuat suasana kampus sangat berbeda tahun ini.

"Saya lihat ketika mahasiswa mulai pulang, kegiatan di berbagai klub sangat menurun, karena anggotanya tidak ada lagi, jadi saya kira ini sangat memberikan dampak bagi kehidupan budaya di kampus," kata Viknash.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini

(ita/ita)