Warga Indonesia di Melbourne Ikut 'Terharu' Bisa Salat Jumat Lagi

ABC Australia - detikNews
Jumat, 13 Nov 2020 17:29 WIB
Jakarta -

Sejumlah masjid di kota Melbourne menjalankan ibadah shalat Jumat untuk pertama kalinya, setelah hampir delapan bulan masjid ditutup akibat pandemi virus corona.

Muchlis Setioaji, asal Kebumen, Jawa Tengah yang sudah tinggal selama hampir enam tahun di Melbourne mengungkapkan kegembiraannya saat dihubungi ABC Indonesia.

"Sangat terharu, karena saya sudah delapan bulan tidak Jumatan," ujar Muchlis.

Muchlis melakukan shalat Jumat di Coburg Islamic Centre yang berada di kawasan Coburg dekat rumahnya.

Ia mengatakan jemaah yang hadir di Masjid Coburg berjumlah 50 orang, jumlah maksimal peserta kegiatan keagamaan di luar ruangan sesuai aturan otoritas kesehatan di Victoria.

"Saya harus mendaftar dulu. Pendaftaran sudah dibuka sejak jam 5 sore kemarin dan alhamdulillah, saya mendapat nomer 19."

Muchlis mengaku tidak merasa khawatir saat datang ke masjid untuk menjalankan shalat Jumat.

"Sebelum masuk ada scan suhu tubuh, pakai hand sanitizer, kemudian mengecek nama sesuai pendaftaran," ujarnya.

"Ini menjadi contoh yang bagus bagaimana hubungan agama dan negara, semua harus mengikuti aturan."

"Ibadah tetap jalan tapi mengikuti aturan negara dan melakukannya [shalat Jumat] dalam beberapa sesi, jadi setiap jemaah juga kebagian tempat," tambahnya.

Hari Jumat ini (13/11), negara bagian Victoria mencatat rekor baru dengan tidak adanya kasus penularan baru dalam dua minggu terakhir.

Albanian Mosque Social Distancing

Susana saat khutbah Jumat di Masjid Albania yang hanya memperbolehkan 20 jemaah dalam satu sesi shalat Jumat. (Foto: Koleksi pribadi)

ICC sudah melakukan ibadah online sejak awal tahun ini dan menurut Christian, cara tersebut membawa tantangan tersendiri.

"Saya pikir kebanyakan dari komunitas gereja merasakan, walaupun kita bersyukur dengan teknologi Zoom yang di satu sisi lebih convenient ... tapi juga sangat terbatas," katanya.

"Secara teologis gereja itu bukan hanya siaran di layar, tapi pertemuan kita secara fisik, secara jasmani dengan sesama jemaat Tuhan satu sama lain."

Menurutnya, pihak gereja ICC berencana untuk kembali membuka ibadah tatap muka menjelang akhir tahun ini.

Saat ini, mereka sudah mulai mengecek peralatan suara, merencanakan peletakan tempat duduk, dan memastikan keberadaan koneksi internet yang terbaik untuk mempersiapkan ibadah Hari Natal.

"Whether Natal atau tidak, saya pikir gereja punya aim [tujuan] untuk sebisa dan secepat mungkin bertemu face to face," kata Christian.

"Kalaupun tidak bisa ketemu di gedung mungkin mereka bisa mengadakan semacam satellite meeting, di mana dua sampai tiga keluarga bisa berkumpul untuk menyaksikan ibadah bersama."

Ikuti berita seputar pandemi dan komunitas Indonesia di Australia lainnya di ABC Indonesia.

(ita/ita)