Dalam Sehari Australia Tidak Catat Penularan, Kapan Australia Bebas COVID-19?

ABC Australia - detikNews
Jumat, 06 Nov 2020 19:34 WIB
Jakarta -

Untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir, Australia tidak mengalami kasus baru COVID-19 pada hari Minggu (01/11). Meski berlangsung singkat, namun kondisi ini memicu harapan, bisakah negara ini menghentikan penularan virus untuk selamanya?

Meski sudah enam hari berturut-turut tidak ditemukan kasus baru serta tidak ada kematian terkait COVID-19 di negara bagian Victoria, namun di New South Wales (NSW) kasus baru kembali terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Jumlah kasus baru sudah sangat rendah dalam beberapa bulan, sehingga kini muncul pertanyaan mungkinkah Australia mencapai nol kasus dan menghilangkan penularan untuk seterusnya?

Menekan vs Mengeliminasi

Australia tidak memilih strategi eliminasi untuk menghilangkan virus ini. Tolok ukur yang digunakan untuk strategi seperti itu yakni bila tercapai 28 hari tanpa kasus baru.

Sebaliknya, Australia memilih untuk mengatasi epidemi dengan strategi "menekan penularan secara agresif".

Tujuannya, seperti yang digariskan oleh Pemerintah Federal, adalah agar tidak ada penularan dalam masyarakat - dengan peringatan bahwa kasus baru dan risiko pandemi akan tetap muncul.

Keberhasilan strategi "menekan penularan" bergantung pada penemuan kasus baru yang lebih awal serta penghentian penularan virus.

Tantangan untuk menangani COVID-19 muncul karena virus ini dapat menyebar tanpa terdeteksi. Kita dapat menularkan virus bahkan jika tidak memiliki gejala apapun.

Menurut pakar epidemiologi penyakit menular Profesor James McCaw, strategi eliminasi akan sia-sia saja apabila pandemi masih terus terjadi di negara lain.

Street market in Wuhan

Strategi eliminasi virus corona di suatu negara akan sulit tercapai apabila pandemi masih terjadi di negara lain. (AAP: David Crosling)

Kini Profesor Blakely mengaku telah berubah pikiran dan menyadari bahwa strategi "menekan penularan secara agresif" merupakan cara terbaik.

"Dalam konteks Australia, karena jumlah penduduk, perbatasan negara yang berbeda, dan faktor politik, lebih baik memakai pendekatan yang lebih lunak daripada Selandia Baru," katanya.

Perbedaan kedua strategi, katanya, terletak pada seberapa intensif dan seberapa lama penerapan langkah-langkah tersebut.

Australia adalah salah satu dari sedikit negara termasuk China, Hong Kong, Taiwan, Korea Selatan, Fiji, dan Selandia Baru yang berupaya menjalankan salah satu strategi menekan.

Meskipun tak memilih strategi eliminasi, sebagian besar negara bagian di Australia berhasil mencapai periode tanpa penularan kasus secara lokal selama beberapa bulan.

Direktur Epidemiologi Doherty Institute, Profesor Jodie McVernon mengatakan kemampuan Australia untuk menekan laju infeksi virus corona mengejutkan para ahli kesehatan masyarakat.

"Sejak awal, kita ingin meratakan kurva dan menjaga jumlah kasus supaya berada dalam kapasitas kesehatan yang kita miliki," kata Prof McVernon.

Profesor McVernon mengatakan Victoria dan NSW akan selalu mengalami kesulitan karena kepadatan populasi serta kedatangan internasional yang lebih tinggi.

Dia mengatakan pengalaman kedua negara bagian ini menunjukkan mengapa menekan penularan secara agresif menjadi pendekatan yang tepat.

"NSW menjadi model di mana masyarakat dan ekonomi relatif masih terbuka tapi penularan virus tetap terkendali," kata Profesor McVernon.

Sementara Profesor Blakely mengatakan kemungkinan Victoria atau NSW untuk mencapai eliminasi COVID-19 tidak sampai 50 persen, sehingga langkah lockdown lebih lanjut menjadi tidak proporsional.

"Jika Victoria tidak dibuka, hasil dari eliminasi akan meningkat. Begitu pula dengan biaya sosial dan ekonominya," katanya.

"Dengan membuka lockdown, virus akan lebih mudah menyebar. Tapi bukan berarti tidak mungkin mengeliminasi virus," jelasnya.

Dengan menekan penularan secara agresif, Profesor McCaw mengatakan Australia masih akan terus mengalami kasus baru sebelum ada vaksin.

Keempat pakar epidemiologi ini sepakat bahwa pelacakan kontak untuk setiap kasus COVID-19 di Australia kini telah berjalan baik.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

Lihat juga video 'India Negara dengan Kasus Corona Tertinggi di Asia, Kalau Indonesia?':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)