Kabar Mantan Pebulutangkis Indonesia: Jadi Komentator Sampai Pensiun di Perth

ABC Australia - detikNews
Kamis, 05 Nov 2020 17:14 WIB
Jakarta -

Masa puncak kebanyakan atlet adalah antara usia 20 sampai 30 tahunan dan setelah itu mereka masih memiliki waktu untuk melanjutkan "karir kedua" dalam kehidupan mereka.

ABC Indonesia berbicara dengan tiga mantan atlet bulutangkis Indonesia, yaitu Yuni Kartika, Lilik Sudarwai dan Elizabeth Latif yang melakukan tiga hal yang sangat berbeda, setelah berhenti bermain bulutangkis.

Bagi para pecinta bulutangkis Indonesia dan juga penonton televisi, Yuni Kartika mungkin tidak asing lagi karena walau sudah berhenti, perempuan asal Pekalongan ini tetap melakukan sesuatu berhubungan dengan bulutangkis.

Yuni menekuni karir di dunia penyiaran, mulai dari menjadi reporter olahraga sampai sekarang menjadi penyiar atau komentator terutama di pertandingan bulutangkis baik di tingkat lokal maupun internasional.

"Saya pensiun dari bulutangkis di tahun 1996. Saya kemudian sekolah penyiar dulu lalu magang di TVRI dan RCTI sebelum akhirnya jadi penyiar dan komentator olahraga," kata Yuni Kartika.

yunihuanghua_abc_200511

Yuni Kartika (berdiri) kalah dari pemain China Huang Hua (tengah) di kejuaraan Malaysia Terbuka di tahun 1992. Foto: (Theresia Guntoro)

Elizabeth Latif pensiun dari bulutangkis di tahun 1988, setahun setelah dia menjuarai turnamen Konika Cup di Singapura mengalahkan pemain China Gu Jiaming 1-11, 11-6, 11-6.

"Ini turnamen yang paling mengesankan bagi saya, karena di semifinal saya mengalahkan pemain China lainnya, Han Aiping," kata Elizabeth Latif kepada wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya.

Han Aiping bersama dengan Li Lingwei adalah dua pemain tunggal putri terbaik China dan juga dunia saat itu.

Setelah turnamen tersebut, Itje panggilan Elizabeth mengalami cedera dan bermaksud mengundurkan diri, namun diminta untuk bertahan selama setahun oleh pelatih tunggal putri saat itu, Minarni Sudaryanto.

"Jadi saya berhenti di tahun 1988 setelah Indonesia Terbuka. Sebenarnya saya sudah cedera dari tahun 1987 setelah jadi juara di Konica Cup tapi saya ingat alm Minarni dulu bilang satu tahun lagi bimbing junior." kata Elizabeth.

Setelah berhenti bermain di usia 25 tahun, Elizabeth kemudian terjun di bidang periklanan bersama kakaknya di Jakarta dan juga belakangan memiliki bisnis pijat bersama mantan pemain Indonesia lainnnya, Susy Susanti.

Setelah kerusuhan di tahun 1998, Elizabeth dan keluarganya memutuskan untuk mendapatkan status Permanent Resident atau Penduduk tetap di Perth, ibukota Australia Barat.

"Di tahun 2001 saya melahirkan anak saya di Perth dan kemudian bolak balik Perth-Jakarta," katanya lagi.

"Baru benar-benar pindah di tahun 2014 karena anak saya mau melanjutkan pendidikan di sini."

Sejak berhenti bermain bulutangkis, Elizabeth banyak menghabiskan kegiatan olahraganya dengan bermain golf dan sekarang di Perth banyak terlibat kegiatan sosial di gereja.

"Sejak berhenti bulutangkis, saya gila main golf. Di Perth ada yang minta saya jadi pelatih bulutangkis namun saya tidak mau," kata perempuan kelahiran tahun 1963 tersebut.

Elizabeth mengaku jika sekarang ia sudah merasa betah tinggal di Perth.

"Di sini udara bersih, semua teratur, tidak macet, urus apa-apa jelas.

"Kesehatan terjamin dan dokter-dokter di sini sangat manusiawi dalam menangani pasien, bukan untuk mengeruk uang pasien," kata Elizabeth mengenai keputusannya untuk tinggal di Perth.

(ita/ita)