Pangeran William Terkena COVID-19 di Bulan April, Melbourne Tiga Hari Tanpa Kasus

ABC Australia - detikNews
Senin, 02 Nov 2020 15:17 WIB
Jakarta -

Dari Inggris, pewaris tahta kerajaan Inggris Pangeran William dilaporkan terkena COVID-19 di bulan April dalam waktu berdekatan ketika ayahnya Pangeran Charles juga mengalami hal yang sama.

Demikian yang disampaikan oleh sumber di Istana Kensington kepada BBC hari Senin (02/11) di saat Inggris kembali memasuki lockdown kedua karena meningkatnya kasus di sana.

Sementara itu di Melbourne (Australia) untuk hari ketiga berturut-turut tidak ada kasus corona baru, dan di Sydney kasus yang meningkat berasal dari mereka yang baru kembali dari luar Australia.

Istana Kensington lembaga yang resmi mengurusi masalah-masalah berkenaan dengan Pangeran Charles dan Pangeran William menolak mengkonfirmasi kebenaran berita tersebut.

Pangeran Charles terkena virus di bulan Maret hampir bersamaan saat Perdana Menteri Inggris Boris Johnson terinfeksi.

Berita Pangeran William yang pernah positif corona ini muncul di saat Inggris sekarang menjadi negara yang memiliki korban meninggal tertinggi di Eropa karena virus tersebut.

Saat ini ada 20 ribu kasus baru per hari dan para ilmuwan mengatakan jumlah kematian di negeri itu bisa mencapai 80 ribu orang selama musim dingin yang mulai melanda Eropa.

Sejauh ini kematian di Inggris adalah 46.717 orang karena virus corona, namun angka dari Kantor Statistik Nasional mengatakan jumlah kematian diperkirakan sejumlah 58.925 orang.

Perdana Menteri Boris Johnson hari Sabtu mengumumkan bahwa Inggris akan memasuki masa lockdown mulai hari Kamis (4/11/2020) sampai sekurang-kurangnya 2 Desember setelah adanya gelombang kedua pandemi.

Tiga hari tanpa kasus di Melbourne

Sementara itu di Melbourne, untuk tiga hari berturut-turut dilaporkan tidak ada kasus COVID-19 baru dan tidak ada kematian karenanya.

Sekarang ini di Victoria hanya ada 49 kasus aktif, dua di antaranya adalah pekerja kesehatan.

Hanya ada dua orang yang dirawat di rumah sakit namun mereka tidak berada di unit perawatan intensif.

Akhir pekan lalu, warga Melbourne untuk pertama kalinya sejak bulan Juni bisa kembali mengunjungi toko, cafe, restoran dan pub.

Kepala Bidang Kesehatan Victoria Prof Brett Sutton mengatakan pada hari Minggu bahwa mulai hari Senin depan (09/11) akan lebih banyak lagi pelonggaran yang akan diterapkan.

Salah satu pelonggaran tersebut adalah izin bagi warga Melbourne untuk mengunjungi kawasan regional Victoria.

Menurut Dr Sutton, pembatasan sepenuhnya akan dicabut bila Victoria bisa mencetak angka kasus 0 selama 14 hari berturut-turut.

"Ini akan menjadi pencapaian yang luar biasa, ini bukan hal yang mustahil dan kita berada di jalur yang tepat sekarang ini di bulan November," katanya.

Three young women in masks walk on a Melbourne street. Two men wearing high-vis clothing and masks walk behind them.

Warga di Melbourne sudah boleh keluar rumah dan mendatangi toko, cafe dan restoran. (ABC News: John Graham)

Kasus dari luar negeri meningkat di Sydney

Di Sydney, data yang dikeluarkan oleh Dinas Kesehatan New South Wales (NSW) menunjukkan kasus corona di antara mereka yang menjalani karantina di hotel naik dua kali lipat karena mereka baru tiba dari luar negeri.

Ini terjadi karena meningkatnya kasus di Amerika Serikat dan Eropa, tempat sebagian warga Australia berasal sebelum sekarang memutuskan pulang.

Sejak awal Juni, NSW Health menerbitkan angka kasus mereka yang berada di karantina hotel.

Pada awal Oktober, rata-rata kasus positif pendatang yang dikarantina adalah dua orang per hari, namun antara 24-29 Oktober, kasus rata-rata per hari naik menjadi lima.

Polisi NSW mengatakan bahwa per 29 Oktober ada lebih dari 5.100 orang yang menjalani karantina hotel di Sydney.

Sejak tanggal 29 Maret, lebih dari 82 ribu orang sudah tiba di Bandara Sydney dan menjalani karantina hotel yang diwajibkan.

Data menunjukkan, sebanyak 12,1 persen (111 kasus) dari total kasus positif adalah mereka yang berasall dari Pakistan, disusul India (11,7 persen atau 107 kasus), Amerika Serikat (10,6 persen atau 97 kasus) dan 8,8 persen (81 kasus) dari Inggris.

Tentara di Darwin didenda Rp 50 juta

Sementara seorang tentara Australia di Darwin sedang diselidiki berkenaan dengan pelanggaran karantina yang dilakukannya.

Polisi Northern Territory Police mengatakan tentara berusia 41 tahun tersebut baru kembali dari luar negeri dan menjalani karantina di Darwin.

Dia meninggalkan tempat yang ditinggalinya hari Sabtu yang kemudian dipergoki dan dikenai denda.

Juru bicara militer Australia mengatakan mereka sudah mengetahui adanya peristiwa tersebut.

"Departemen Pertahanan sangat serius dalam masalah COVID-19 dan selalu mengikuti petunjuk dari pihak yang berwenang," kata juru bicara tersebut.

"Departemen sedang menyelidiki masalah ini."

Polisi mengatakan bahwa mereka mengetahui keberadaan pria tersebut setelah dia bertindak agresif sebelum dia kembali ke tempatnya menginap.

Polisi tidak menjelaskan dari mana dia kembali dan di mana dia tinggal.

Mereka yang dianggap melanggar aturan karantina di Northern Territory dikenai denda Rp50 juta, sedangkan tempat usaha bisa dikenai denda Rp250 juta.

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

(ita/ita)