Petani Australia Putus Asa, Mendesak Agar 'Backpacker' Segera Didatangkan

ABC Australia - detikNews
Kamis, 22 Okt 2020 17:58 WIB
Jakarta -

Kalangan petani dan pelaku usaha pariwisata Australia mendesak pemerintah untuk memperbolehkan pekerja 'backpacker' datang kembali pada musim panen akhir tahun ini.

Petani Butuh Backpacker

  • Industri buah dan sayuran menyatakan ada potensi kerugian sebesar 6,3 miliar dolar bila tak mendapatkan bantuan pekerja backpacker pada musim panen kali ini
  • Para petani dan industri pariwisata mengajukan rencana mempekerjakan backpacker dan asisten rumah tangga yang aman dalam situasi COVID
  • Departemen Pertanian tak pasti seberapa besar kekurangan tenaga kerja sektor pertanian namun suatu laporan menyebut setidaknya dibutuhkan 26.000 pekerja.

Para 'backpacker', termasuk pemegang Work and Holiday Visa (WHV) diharapkan membantu memetik buah, merawat anak-anak petani, hingga menggerakkan sektor pariwisata.

Permintaan itu disampaikan melalui surat resmi ke pemerintah yang saat ini sedang mengantisipasi kekurangan tenaga kerja sektor pertanian pada musim panas ini.

Di sisi lain, pemerintah juga masih dihadapkan dengan persoalan pemulangan sekitar 30 ribu warga Australia yang hingga kini masih berada di luar negeri.

Federasi Petani Nasional (NFF) bersama organisasi backpacker (BYTAP) dalam suratnya menyerukan agar program 'Working Holiday Maker' segera dibuka kembali.

Jumlah 'backpacker' di Australia mengalami penurunan sekitar 50 persen sejak perbatasan negara ini ditutup untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Hal ini diperkirakan akan mengakibatkan kekurangan sedikitnya 20.000 pekerja.

Dalam surat yang dikirim ke 30 politisi federal, NFF dan BYTAP mengatakan para backpacker harus diizinkan masuk ke Australia untuk membantu panen, menjadi asisten rumah tangga petani serta menghidupkan kembali sektor pariwisata.

A backpackers stands in an apple orchard in Manjimup, WA.

Pembatasan COVID-19 menyebabkan terjadinya kekurangan tenaga kerja pemetik buah di Australia. (Charlie McKillop)

Dikatakan, analisis Departemen Pertanian menunjukkan adanya peningkatan penggunaan tenaga kerja asal luar negeri di sektor ini antara September dan Februari. Jumlahnya mencapai 20.000 orang.

"Apabila tidak ada pekerja dari luar negeri yang datang ke Australia untuk memenuhi permintaan ini, tentunya akan menimbulkan kesenjangan."

Tingkat pengangguran Australia saat ini diperkirakan akan mencapai level tertinggi selama beberapa dekade.

Karena itu, usulan dari Federasi Petani juga menyebutkan semua lowongan pekerjaan di sektor ini akan ditawarkan terlebih dahulu pada tenaga kerja setempat.

Pada bulan Juli, Pemerintah menyetujui rencana mendatangkan pekerja dari negara-negara Pasifik untuk bekerja di sektor pertanian.

Menteri Pertanian David Littleproud menyatakan sekitar 4.000 pekerja dari Pasifik bisa masuk melalui program Pekerja Musiman tahun ini.

Namun sejauh ini baru 300-an pekerja asal Vanuatu yang sudah bekerja memetik buah mangga di Australia Utara.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

Ikuti berita seputar pandemi Australia di ABC Indonesia.

(ita/ita)