Banyak yang Pilih Pulang, Pengiriman Barang dari Australia ke Indonesia Naik

ABC Australia - detikNews
Selasa, 20 Okt 2020 13:57 WIB
Jakarta -

Beberapa penyedia layanan kargo di Melbourne mengaku telah mendapat lonjakan permintaan pengiriman barang dari pelajar dan pemegang visa sementara yang 'back for good' di tengah pandemi. Tapi di Perth kondisinya berbeda.

  • Terjadi peningkatan pengiriman barang dari Melbourne ke Indonesia
  • Beberapa warga lebih memilih pengiriman lewat udara karena lebih cepat
  • Di Perth tidak tampak terjadi peningkatan yang signifikan karena jumlah mahasiswa Indonesia yang lebih sedikit

Setelah empat tahun menetap di Australia tanpa pernah pulang ke Indonesia, Pramesti P. Paramita dan keluarganya akhirnya harus mengucap salam perpisahan dengan negara tersebut.

"Sedih karena meninggalkan Melbourne dan segala rutinitas di sana, serta khawatir perjalanan di kala pandemi tentunya berisiko apalagi kami pergi sekeluarga," ujarnya kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia.

Tanggal 29 Juli lalu, peraih beasiswa 'Australia Awards' dan tamatan S3 Pendidikan di Monash University, Melbourne ini terbang ke Surabaya bersama suami dan ketiga anaknya.

Sementara, barang-barang mereka dikirimkan dengan jasa pengiriman kargo laut dan udara setelah mempertimbangkan waktu penerimaan dan harga pengiriman.

Barang Pramesti

Supplied: Setelah mempertimbangkan harga dan waktu pengiriman, Pramesti memutuskan untuk mengirim barang dengan jalur udara dan laut.

Kepada Natasya Salim dari ABC Indonesia, Tisa mengatakan mendengar jika banyak pelajar yang beasiswanya dihentikan akibat pandemi COVID-19.

"Tapi, kalau ditanya [permintaan] signifikan atau tidak, kenyataannya di Kargoroo tidak terlalu."

Namun Tisa mengatakan jika pandemi telah mengalihkan kebiasaan pelanggan Kargoroo yang tadinya lebih menyukai pengiriman dengan udara.

"Karena pandemi berpengaruh sekali dengan harga tiket, terutama harga 'air freight' [pengiriman udara]. Menyadari itu, [di masa] pandemi ini yang populer jadinya 'sea freight'."

Menurutnya pengiriman jalur laut lebih murah akibat waktu penerimaan barang yang lebih lama, yaitu dua hingga tiga minggu.

"Kalau 'air freight' dalam seminggu sudah bisa sampai, kalau 'sea freight' dua-tiga minggu baru sampai," ujarnya yang sudah tinggal di Australia selama delapan tahun tersebut.

Ikuti berita seputar komunitas Indonesia di Australia dan pandemi di ABC Indonesia.

Lihat juga video 'Ini Dia Sosok Kapten Wanita Pemimpin Latihan Militer Indonesia-Australia':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)