Gelombang Kedua COVID-19 di Eropa Lebih Buruk dari yang Pertama

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 10:15 WIB
Jakarta - Eropa kembali berada dalam cengkeraman kembalinya COVID-19, setelah Inggris, Spanyol, dan Perancis masing-masing melaporkan ribuan kasus harian baru.

Tingkat infeksi di sejumlah negara sekarang lebih tinggi dibanding bulan Maret dan April, setelah banyak aturan pembatasan dikurangi selama musim panas.

Tapi kini banyak daerah yang dipaksa untuk memberlakukan kembali aturan pembatasan, meskipun sebagian besar negara menolak 'lockdown' nasional.

Puncak gelombang kedua lebih tinggi

Pada gelombang pertama, jumlah kasus baru harian Perancis puncaknya mencapai lebih dari 7.500 di tanggal 31 Maret.

Sementara puncak gelombang kedua tercatat pada hari Minggu (11/10) dengan jumlah kasus baru 26.675 dalam 24 jam, atau tiga kali lipat lebih dari puncak pertama.

Spanyol telah mencatat lebih dari 30.000 kasus dalam seminggu terakhir, dengan lebih dari 20.000 di antaranya berasal dari wilayah Madrid saja.

People relax in the sun backdropped by Tower Bridge, at Potters Fields Park by the River Thames in London, UK

Seperti Perancis dan Spanyol, pemerintah Inggris tidak berencana untuk menerapkan kembali lockdown nasional meskipun ada sejumlah kasus baru yang tercatat. (AP: Hau Dinh)

Di Thailand, relawan kesehatan telah mengunjungi area kluster, melakukan skala prioritas kasus, mengirim orang dengan gejala ke klinik medis untuk dites, dan menghilangkan rumor dan informasi yang salah.

Mereka juga telah mengajari orang cara mencuci tangan dengan benar, menekankan pentingnya masker, dan membagikan pembersih tangan.

Selain itu, Departemen Pengendalian Penyakit Thailand telah menghubungi staf rumah sakit dari setiap provinsi untuk memastikan mereka tahu cara mendeteksi kasus dan cara mencegah wabah di rumah sakit.

Pendidikan ini diikuti keberadaan sejumlah sukarelawan, telah membantu Thailand menjaga jumlah kasus hanya sedikit di atas 3.500.

Meskipun memiliki sistem medis yang relatif lemah, jumlah kasus Kamboja sangat rendah, hanya 283, dengan catatan nol kematian.

Negara ini telah melakukan pelacakan kontak ekstensif, dengan memanfaatkan 2.900 petugas kesehatan yang telah dilatih dalam pelacakan kontak pada awal tahun.

Negara itu juga menjalani 'lockdown' ketat di awal pandemi termasuk dengan menutup sekolah dan tempat hiburan.Perjalanan juga telah dibatasi.

Hampir 80 persen penduduk Kamboja tinggal di daerah pedesaan dengan kepadatan penduduk yang rendah, sehingga memudahkan pengelolaan penyebaran wabah dan mengalokasikan sumber daya ke lokasi yang lebih padat dan berisiko tinggi seperti Phnom Penh, Siem Reap, dan Sihanoukville.

Setelah mengalami wabah SARS dan flu burung, banyak negara Asia yang menganggap serius ancaman COVID-19 sejak awal.

Selain itu, banyak negara menerapkan aturan pemakaian masker yang ketat dan menjaga jarak fisik sejak dini.

Pengujian yang ditargetkan, pendidikan, dan keterlibatan komunitas sangat penting dalam menanggapi COVID-19.

Maximilian de Courten adalah Profesor Kesehatan Masyarakat Global di Institut Mitchell, Universitas Victoria. Bo Klepac Pogrmilovic adalah Peneliti Kebijakan Kesehatan di Institut Mitchell untuk Kebijakan Pendidikan dan Kesehatan, Universitas Victoria. Vasso Apostolopoulos adalah Profesor Imunologi dan Wakil Rektor Pro, Research Partnerships di Victoria University.

Artikel ini pertama kali tayang di The Conversation, diproduksi dan disunting oleh Hellena Souisa dari artikel berikut.

Simak video 'Lonjakan Kasus Harian Covid-19 di Jerman':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)