Untuk Cegah Wabah Flu Babi, China Menernakkan Babi di Kandang Bertingkat

ABC Australia - detikNews
Sabtu, 17 Okt 2020 10:05 WIB
Jakarta -

Dalam usaha meningkatkan produksi ternak babi serta menghadapi wabah seperti flu babi Afrika, China mulai menernakkan babi di apartemen bertingkat.

Usaha meningkatkan produksi babi di China

  • Di tahun 2018 China membunuh sekitar 200 juta babi karena wabah flu babi Afrika
  • Perusahaan China mengembangkan peternakan dalam bentuk blok apartemen untuk mencegah bencana serupa
  • Permintaan akan sapi, domba dan biji-bijian Australia bisa menurun dengan produksi babi kembali meningkat di China

Daging babi adalah salah satu menu pokok di China, namun dalam dua tahun terakhir wabah flu babi Afrika sudah menghancurkan hampir separuh ternak babi di sana, sehingga harga daging di pasaran meningkat.

Sebuah perusahaan swasta bernama Guangxi Yangxiang sedang membangun kawasan apartemen tinggi di daerah pegunungan Yaji, yang akan bisa memproduksi sekitar 840 ribu babi setiap tahun ketika mulai berproduksi.

Peternakan ini akan benar-benar terpisah dari pemukiman warga guna menghindari adanya pencemaran.

Di dalam peternakan itu akan ada tempat untuk menangani babi yang mati dan juga pekerja akan tinggal di dalam kompleks, sehingga mereka tidak akan bisa menulari ternak babi dengan wabah yang dibawa dari luar.

Di Australia, Robert Herrmann direktur pelaksana Mecardo, sebuah perusahaan analisa pasar, mengatakan peternakan seperti ini belum pernah ada sebelumnya di tempat lain.

A worker in a Chinese worker gets ready to move pigs by elevator in a multi-storey pig farm.

Pekerja harus menggunakan lift untuk memindahkan ternak babi yang dipelihara dalam komplek apartemen tinggi. (Reuters: Dominique Patton)

Robert Herrmann mengatakan bahwa 'tidak tersedianya protein daging merah di China" saat ini karena adanya wabah telah memberikan kesempatan bagi peternak sapi dan domba Australia untuk menguasai pasar.

"Dan diperkirakan pasar itu akan menurun di saat angka produksi babi meningkat," katanya.

Namun analis pasar independen Simon Quilty mengatakan usaha China meningkatkan produksi babi terus mengalami masalah, dan diperkirakan China akan tetap mengimpor bij-bijian, sapi dan domba dalam jumlah besar beberapa tahun ke depan.

"Walau keadaan membaik, kita tahu bahwa wabah flu babi Afrika ini terus membuat babi mati, karena kita tahu harga anakan babi di China masih sangat tinggi," kata Quilty.

"Kita tahu harga daging babi yang diternakkan, dan juga babi liar di China masih terus naik.

"Jadi ini menunjukkan bahwa wabah flu babi Afrika ini masih menimbulkan masalah besar dan kemampuan pasok pasar domestik daging babi di China masih mengalami masalah."

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya.

Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di sini

Tonton video 'Penjelasan Kemenkes soal Penularan Flu Babi G4':

[Gambas:Video 20detik]



(ita/ita)