Meski Ada Keringanan, 50 Persen Warga Australia Masih Menunggak Cicilan Rumah

ABC Australia - detikNews
Kamis, 15 Okt 2020 16:42 WIB
Jakarta -

Hampir 50 persen pinjaman kredit rumah di Australia belum dibayar meskipun telah diberikan penangguhan selama enam bulan akibat virus corona. Masa penangguhan cicilan akan berakhir pada akhir Oktober.

Menurut data dari Asosiasi Perbankan Australia (ABA), pada periode Juni 2020 terdapat sekitar 500 ribu kredit rumah di bank-bank utama yang belum dibayar oleh para peminjam.

Pada pekan lalu, tercatat hampir 270 ribu peminjam yang masih belum membayar, padahal masa penangguhan enam bulan dari pemerintah kini sudah mendekati batas akhir.

Kebijakan penangguhan pembayaran kredit rumah di Australia dimulai sejak Maret lalu, sebagai langkah dukungan perbankan bagi para nasabahnya yang terdampak pandemi COVID-19.

Ketua ABA Anna Bligh menyatakan, sebagian peminjam kini mulai membayar cicilan kredit mereka dan hal ini menjadi pertanda yang baik bagi perekonomian.

"Ini menunjukkan semakin banyak warga Australia yang pulih [kondisi ekonominya] dan melanjutkan pembayaran pinjaman mereka," katanya.

"[Kebijakan] penangguhan pinjaman telah menyelamatkan ratusan ribu keluarga dan pengusaha kecil Australia dari pandemi," kata Anna.

Perlu dukungan yang berkelanjutan dari bank

Anna Bligh smiles at the camera.

CEO Asosiasi Perbankan Australia Anna Bligh mendorong para peminjam kredit rumah untuk bekerja sama dengan bank mereka. (ABC News: Mary Lloyd)

Laporan media menyebutkan satu dari lima peminjam kredit rumah mengambil sikap "menghindar" dari bank. Mereka tidak mau menjawab telepon, pesan, surat elektronik, dan pesan dari pihak bank.

Data Commonwealth Bank, pemberi pinjaman terbesar di Australia, menunjukkan kecenderungan yang sama.

Dari total 210.000 kredit rumah yang ditangguhkan pembayarannya pada bulan Juni, pekan ini jumlah peminjam yang belum membayar tinggal 129.000, atau turun 48 persen.

"Penurunan signifikan [kredit yang belum dibayar] akan terus terjadi karena kebijakan penangguhan akan berakhir pada bulan Oktober," kata CEO Commonwealth Bank Matt Comyn.

"Namun kami menyadari banyak pelanggan kami yang masih memerlukan dukungan dari kami, terutama di wilayah yang paling terpengaruh COVID-19 seperti di Victoria. Ini tercermin dari adanya permintaan untuk memperpanjang penangguhan," katanya.

Dari seluruh pinjaman perbankan yang ditangguhkan pembayarannya hingga akhir September lalu, tercatat sepertiganya dari sektor kredit perumahan.

Potensi masalah ini disadari oleh pihak perbankan.

"Memperpanjang penangguhan hanya bisa menjadi pilihan apabila ada kepastian tentang pulihnya pendapatan untuk membayar utang," kata Rachel Slade dari Bank NAB.

"Bila tak ada kepastian tersebut, pada dasarnya pelanggan hanya menunda sesuatu yang tak bisa dihindari dan nantinya akan [membuat situasi] menjadi lebih buruk," tambahnya.

Bagi peminjam kredit, salah satu pilihan yang tersedia adalah bekerja sama dengan bank untuk merestrukturisasi atau memvariasikan pinjaman.

Misalnya beralih ke pembayaran bunga saja untuk jangka waktu tertentu.

Pembayaran bunga pinjaman saja tidak akan mengurangi jumlah pokok pinjaman, melainkan hanya memenuhi pembayaran bunga atas jumlah yang sudah terutang.

Selain memperpanjang pinjaman, pembayarannya pun bisa diperpanjang lagi empat bulan. Sedangkan peminjam yang tidak mampu membayar dalam jangka panjang akan dibantu untuk menjual jaminan kreditnya.

"Saat ini, sangat penting bagi masyarakat untuk menghubungi bank mereka untuk mencari tahu bagaimana ke depan," kata Anna Bligh.

"Semakin cepat Anda berkonsultasi dengan pihak bank, semakin banyak opsi yang akan ditawarkan untuk membantu mencari jalan keluar bagi situasi Anda."

Ditawari bayar bunga saja tapi lebih tinggi

Seorang pekerja di Australia Barat bernama Dave mengaku tidak begitu tertarik dengan apa yang ditawarkan pihak bank terkait pembayaran cicilan kreditnya.

Ketika ayah empat anak ini mengalami pengurangan jam kerja sehingga pendapatannya merosot, dia pun mengajukan penangguhan pembayaran cicilan rumahnya.

"Proses penangguhan ini awalnya sederhana," katanya kepada ABC.

Permohonan penangguhan itu dia lakukan secara daring dengan mengisi formulir tanpa perlu bicara dengan pegawai bank sama sekali.

Namun kemudian keadaan yang harus dijalani Dave ternyata tidak sesederhana itu.

Setelah pekerjaannya sudah berangsur normal meski masih penuh ketidakpastian, Dave pun ditawari oleh bank untuk membayar bunga pinjaman saja tapi dengan tingkat suku bunga yang jauh lebih tinggi.

"Mereka menawarkan untuk membayar bunga pinjaman saja sebesar 5,42 persen, padahal saat ini bunga pinjaman saya 3,58 persen," katanya.

"Bagi saya mereka ini kelihatannya hanya ingin mencari keuntungan," katanya.

Diperkirakan bank-bank terbesar di Australia gencar menawarkan opsi seperti yang ditawarkan ke Dave, yaitu membayar bunga pinjaman saja untuk sementara waktu sampai pendapatan mereka pulih kembali.

Diproduksi oleh Farid M. Ibrahim dari artikel ABC News.

(ita/ita)