Dari Thailand ke Filipina: Kabar Ekspat Indonesia yang Kerja di Lembaga Dunia

ABC Australia - detikNews
Jumat, 09 Okt 2020 11:03 WIB
Jakarta -

Di tengah pandemi COVID-19, tidak sedikit warga Indonesia yang tinggal dan bekerja sebagai staf internasional di negara lain terpaksa menyesuaikan diri sesuai keadaan negara tempat mereka bekerja.

Ada yang masih bertahan di negara tempat mereka bekerja, ada pula yang pernah mengungsi ke Indonesia, atau baru bisa kembali tahun depan.

Bekti Andari asal Indonesia sekarang bekerja untuk Program Nyamuk Dunia, atau World Mosquito Program (WMP) sedang ditugaskan di Vietnam sebagai staf bagian komunikasi.

Tugasnya adalah memberikan asistensi teknis kepada mitra WMP di berbagai negara antara lain di Sri Lanka dan Vietnam.

WMP saat ini sedang menjalankan proyek untuk memberantas nyamuk dengue dengan melepas nyamuk yang sudah ditulari bakteri Wolbachia, yang pada gilirannya akan membuat nyamuk tidak lagi memiliki dengue.

"Saya kembali ke Indonesia awal Maret ketika outbreak mulai. Kembali ke Vietnam akhir September setelah 7 bulan di Indonesia, bisa kembali karena Pemerintah Vietnam mulai membuka border untuk Indonesia dan beberapa negara lainnya," kata Bekti Andari kepada wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya hari Kamis (8/10/2020).

Ia mengatakan di bulan Maret, kantornya memberikan pilihan kepada staf untuk tetap berada di Vietnam atau pulang ke negara asal.

"Waktu itu bila hendak pulang [ke Indonesia], harus dilakukan secepatnya, sebelum perbatasan internasional ditutup," kata Bekti yang berkantor di Ho Chi Minh City sejak tahun 2018.

"Saya memilih pulang karena kedua anak saya yang berusia 6 dan 11 tahun serta suami sudah pulang duluan di bulan Februari. Saya berhitung, jika 'terdampar' di Vietnam, dan terjadi apa-apa di salah satu dari kami, pasti akan sulit situasinya."

Merasa aman kembali ke Vietnam

Sekarang Bekti dan keluarganya sudah tiba kembali lagi di Hanoi dan mulai berkegiatan seperti biasa, karena situasi COVID-19 di Vietnam sejauh ini sudah terkendali.

"Vietnam masih memberlakukan protokol COVID-19 meski dalam satu bulan terakhir tidak terjadi penularan lokal atau muncul kasus baru," kata Bekti yang lulusan Fakultas Psikologi UGM Yogyakarta tersebut.

Bekti mengaku merasa aman setelah tiba di Vietnam dengan apa yang sejauh ini dilihatnya.

"Ketika pas mau berangkat saya masih khawatir juga," kata Bekti yang menjalani karantina selama dua minggu di ibukota Vietnam Hanoi sekembalinya ke negara tersebut.

Bekti mengatakan dia melihat banyak yang membuatnya terkesan dengan apa yang dilakukan pemerintah dan warga Vietnam sejauh ini untuk mencegah penularan baru COVID-19.

"Ketika kami tiba, proses sterilisasi di dalam negeri Vietnam, sangat rapi. Ground handling ketika mendarat, karantina dua minggu di hotel-hotel yang ditunjuk"

"Swab test dilakukan 2-4 kali tergantung wilayahnyam untuk memastikan kita siap dilepas ke alam bebas."

"Juga kebijakan new normal dipatuhi cukup baik. Meski sudah lebih rileks, tapi warga masih menggunakan masker di tempat umum kecuali di warung," ujar Bekti.

Ketatnya Pembatasan di Kamboja

Muhi Usamah.jpg

Foto: Supplied: Warga asal Indonesia Muhi Usamah PhD (kanan), manager pada salah satu project UNDP di Kamboja.

Di ibukota Thailand, Bangkok, Dewi Ratnawulan yang bekerja di lembaga konsultasi Rapid Asia mengatakan sudah kembali bekerja normal di kantor seperti sebelum pandemi, karena pemerintah Thailand dianggap berhasil menguasai keadaan dengan baik.

"Di sini orang sudah kerja kembali, sekolah sudah buka normal.di kereta sudah boleh duduk bersebelahan, tidak ada kursi kosong," kata Dewi kepada wartawan ABC Indonesia Sastra Wijaya.

"Tapi semua harus pakai masker. Di beberapa lembaga internasional seperti UN Women, dan ILO masih belum full, staf bisa kerja dari rumah, dan hanya 3 hari seminggu ke kantor," kata Dewi yang mengatakan kantornya sudah kerja normal sejak bulan Juni.

Dewi adalah penasehat senior masalah gender dan hak asasi manusia di Rapid Asia, sebuah lembaga yang melakukan penelitian sosial untuk berbagai lembaga internasional yang membutuhkannya.

"Saya pernah kerja dari rumah selama sebulan. Dan selama ini memang ada beberapa proyek yang ditunda dan dibatalkan, karena klien masih menunggu situasi lebih membaik lagi," katanya yang sudah menyelesaikan pendidikan di Universitas Wollongong (2005) dan University of Sydney (2012) di Australia tersebut.

"Kita juga tidak bisa keluar dari Thailand sehingga beberapa workshop dan pelatihan harus dilakukan secara virtual," kata Dewi.

"Saya juga harus membatalkan beberapa perjalanan ke Ethiopia, Mongolia, Vietnam."

Menurut Dewi, beberapa staf internasional dari lembaga lain kembali ke negara masing-masing dan sampai sekarang belum bisa kembali.

Dia mengatakan tidak pernah merasa khawatir dengan keadaan pandemi di Thailand.

"Saya tidak khawatir karena di Bangkok keadaannya terkontrol," katanya.

"Masyarakat percaya dan menurut. Pemerintah juga tanggap. Hanya waktu awal-awal sekolah tutup."

"Memang ada bisnis yang tutup. Tapi sekarang bebas bepergian di Thailand bahkan kalau tidak memesan lebih awal, banyak hotel yang penuh," kata Dewi mengenai situasi di Thailand saat ini.

(ita/ita)